<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071</id><updated>2012-02-16T03:20:24.961-08:00</updated><category term='Beyond Economic'/><category term='Akuntansi'/><category term='Serial Pendahuluan'/><category term='Teknologi'/><category term='Catatan'/><category term='Catatn'/><category term='Hukum'/><category term='Makroekonomi'/><category term='Beyond Society'/><category term='Beyond Politics'/><category term='Reportase'/><category term='Agenda - Agenda'/><category term='Pasar Modal Syariah'/><category term='Psikologi'/><category term='Dakwah'/><category term='Zakat'/><category term='Kewirausahaan'/><category term='LombaBlogDepok 17 Juli – 17 September 2010'/><category term='SDM Syariah'/><category term='Organisasi'/><category term='Lomba Blog DD'/><category term='Internasional'/><category term='Hikmah'/><category term='Mikroekonomi'/><category term='Perbankan'/><category term='Pergerakan'/><category term='Moneter'/><title type='text'>Erwinnomic</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>120</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-7724853104250575941</id><published>2012-01-10T04:50:00.000-08:00</published><updated>2012-01-10T05:17:28.354-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Lika Liku Laki-Laki</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-nbsziIMTR-A/Tww6Xa0BOVI/AAAAAAAAAhU/OhiOD-xn-4s/s1600/diriku-dan-waktu.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-nbsziIMTR-A/Tww6Xa0BOVI/AAAAAAAAAhU/OhiOD-xn-4s/s200/diriku-dan-waktu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5695991802725742930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya. Petang ini. Salah satu ‘ritual’ saya melepas kelelahan adalah dengan merenungi hikmah atau pengembaraan ke dalam jiwa atas aktivitas yang saya lakukan dari hari ke hari untuk tidak lain agar semakin mengenal Rabb Semesta Alam saja. Allah SWT. Kali ini Saya tertarik untuk merenungi perjalanan diri berjibaku dengan waktu, berlelah-lelah dengan upaya, bersabar-sabar dengan kepedihan, dan pada tiap lorong keputusasaan saya mengusir rasa takutnya dengan berdoa dalam pengharapan. Ini tentang hidup yang telah lewat yang telah jadi sejarah kehidupan diri. Pada memori-memorinya masih saja menyimpan ‘keghaiban’ bagaimana takdir Allah itu ‘bekerja’ menuntun dengan lembut atau bahkan dengan paksa tangan seorang mukmin untuk merasakan takdir-takdir Allah menjadi warna pada episode kehidupannya.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Mengenang, membuka-buka lembaran demi lembaran catatan rencana hidup beberapa masa yang telah lewat. Pada sebagiannya masih tertempel di lemari dimana tempat saya melihatnya dari waktu ke waktu sampai saat ini. Yang kemudian saya rasakan dan kemudian saya pahami atasnya adalah bahwa Allah lebih banyak memberikan apa yang tidak kita rencanakan dan kita minta. Kemudian mengganti apa yang kita rencanakan dengan bentuk-bentuk yang memang sejatinya lebih kita dan orang lain butuhkan. Dan pada ketidakmengertian tentang permintaan-permintaan yang telah terpanjatkan dalam doa-doa yang khusyuk namun Allah menggantinya dengan ‘takdir’Nya yang lain, saya menganggap, demikianlah Allah bentuk kekuasaanNya. Pada kekuasaanNya itu, Allah bersama KasihNya, menuntun lembut agar kita mau mengenaliNya lebih banyak dari waktu ke waktu. Di samping dengan kekuasaanNya itu pula, Allah ‘dengan sengaja’ mengenalkan DiriNya pada hambaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali petuah-petuah hikmah Ibnu Atha’ilah bisa memberi sedikit penjelasan di tengah ghaibnya rahasia Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;“Janganlah menutut Rabbmu karena permohonanmu belum dikabulkan olehNya. Akan tetapi, tuntutlah dirimu sendiri yang mungkin belum memenuhi syarat bagi suatu permohonan.”&lt;br /&gt;(Ibnu Atha’ilah, Kitab Al Hikam, no.99)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada ketidakmengertian yang lainnya adalah, sebagian besar yang hanya terbesit dalam hati saja, meskipun tanpa waktu-waktu khusus untuk mengadukannya kepada Allah melalui do’a, Allah lantas mengabulkannya dalam tempo waktu yang tidak diperkirakan. Cepatnya, halusnya, lembutnya. Hingga dengan demikian pula, Allah menunjukkan lagi sedikit kekuasaanNya. Dan saya, sering tidak sanggup membendung deras airnya tumpah ruah di wajah. Sebagai bentuk taubat dan permohonan ampunan, atas ketidakpatutan prasangka-prasangka yang lewat di perlintasan pikiran atas rencana yang lain yang Allah gantikan dengan rencanaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saya merancang rencana hidup kembali untuk beberapa waktu mendatang dengan lebih spesifik. Dan kali ini dengan penuh kesadaran sembari membalutnya dengan nuansa iman, bahwa akan banyak lagi ragam kekuasaan Allah yang akan saya temui dan akan saya rasakan. Untuk setidaknya saya mau membuktikan dan membenarkan suatu saat nanti tentang apa yang Ibnu Atha’ilah katakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;“Tidak ada yang menyegerakan (terkabulnya doa) kecuali saat terdesak, dan tidak ada yang bisa mempercepat tibanya pemberian Allah kepadamu kecuali rasa rendah diri serta sikap membutuhkan.”&lt;br /&gt;(Ibnu Atha’ilah, Kitab Al Hikam, No. 117)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ini memang lika-likunya laki-laki..:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-7724853104250575941?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/7724853104250575941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2012/01/lika-liku-laki-laki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/7724853104250575941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/7724853104250575941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2012/01/lika-liku-laki-laki.html' title='Lika Liku Laki-Laki'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nbsziIMTR-A/Tww6Xa0BOVI/AAAAAAAAAhU/OhiOD-xn-4s/s72-c/diriku-dan-waktu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-89045571039231064</id><published>2012-01-08T06:06:00.000-08:00</published><updated>2012-01-08T06:26:20.626-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Berfikir Kala Sakit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-W5wnVhMv1S0/TwmkoO9evCI/AAAAAAAAAg8/Xd5PQb_R4Mw/s1600/renungan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 162px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-W5wnVhMv1S0/TwmkoO9evCI/AAAAAAAAAg8/Xd5PQb_R4Mw/s200/renungan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5695264214904388642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga hari bed rest karena sakit di kepala kambuh lagi, sudah cukup membuat saya banyak berfikir tentang apa saja yang telah saya lakukan pada waktu-waktu yang telah lewat dan menjadi sejarah. Bahwa memang Allah punya ‘caranya sendiri’ mengajarkan pada hambaNya untuk bisa lebih bijak mengambil sikap pada waktu-waktu mendatang setelah menyadari satu per satu uraian kekeliruan yang telah terjadi karena kebodohan dan kealpaan diri. Karena pada saat kesempatan sakit itu tiba, terbuka juga kesempatan besar mengingat-ingat ragam kejadian yang boleh jadi juga sebagai musabab ditimpakannya rasa sakit tersebut.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sampai pada kesepakatan setelah dialog imajiner antara perasaan-perasaan khawatir saya di alam jiwa dengan logika-logika kebenaran yang saya kumpulkan di alam pikiran. Bahwa ketika kita hanya menjadikan hidup sebatas untuk tetap berada pada jalan menuju syurga, maka bukanlah menjadi persoalan apabila perasaan-perasaan khawatir itu ternyata tidak ada kaitannya sama sekali dengan jalan kita menuju syurga. Dan ketika lembar demi lembar saya buka Kitab al Hikam yang dianggap magnum opusnya Syaikh Ibnu Atha’ilah as Sakandari, saya menemukan ungkapan hikmah berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Allah melapangkan keadaanmu, agar engkau tidak selalu dalam kesempitan. Dan Allah menyempitkan keadaanmu, agar engkau tidak selalu dalam kelapangan. Dan Dia melepasakanmu dari keduanya, agar engkau tidak bergantung pada sesuatu selain-Nya.”&lt;br /&gt;(Al Hikam, Ibnu Atha’ilah No. 72)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Maka, demikianlah saya membenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Harian, Ahad 26 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-89045571039231064?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/89045571039231064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2012/01/berfikir-kala-sakit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/89045571039231064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/89045571039231064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2012/01/berfikir-kala-sakit.html' title='Berfikir Kala Sakit'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-W5wnVhMv1S0/TwmkoO9evCI/AAAAAAAAAg8/Xd5PQb_R4Mw/s72-c/renungan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-7766854064699535998</id><published>2011-12-29T03:07:00.000-08:00</published><updated>2011-12-29T03:12:25.954-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Economic'/><title type='text'>Pengantar Dasar Akrual; Syariahkah?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-8x9A52ZhnmM/TvxK985UAZI/AAAAAAAAAgw/4aojaGKMoJw/s1600/akuntansi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-8x9A52ZhnmM/TvxK985UAZI/AAAAAAAAAgw/4aojaGKMoJw/s200/akuntansi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691506457268453778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;w:browserlevel&gt;&lt;/w:browserlevel&gt;&lt;m:mathpr&gt;&lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;&lt;m:brkbin val="before"&gt;&lt;m:brkbinsub val=""&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;m:wrapindent val="1440"&gt;&lt;m:intlim val="subSup"&gt;&lt;m:narylim val="undOvr"&gt;&lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Sejak disahkannya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) nomor 59 sebagai PSAK Syariah yang ditujukan bagi entitas syariah dalam menyajikan laporan keuangannya, sudah terdapat banyak kritik mengenai asumsi dasar yang diadopsi oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai asumsi dasar dalam Kerangka Dasar Penyajian dan Pelaporan Laporan Keuangan Syariah(KDPPLKS).&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Mulawarman (2008) menyarankan agar mengubah basis akrual murni dalam metode pengakuan dan pencatatan transaksi keuangan pada lembaga keuangan syariah dengan sinergi antara dasar akrual dan dasar kas. Asumsi dasar dengan basis akrual tersebut beliau menyatakan bahwa asumsi tersebut sangat bertentangan dengan prinsip dan akhlak syariah bahkan tujuan laporan keuangan akuntansi syariah. Sebagaimana diketahui bahwa prinsip akrual melakukan pencatatan fakta (merekam arus kas masa kini), potensi (merekam arus kas masa depan) dan konsekuensi (merekam arus kas masa lalu). Dalam hal pencatatan potensi menggunakan prinsip nilai sekarang (&lt;em&gt;present value&lt;/em&gt;&lt;em&gt;)&lt;/em&gt; yang sarat dengan penghitungan bernuansa &lt;em&gt;riba dan gharar&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Pendapat lain seperti Harahap (2008) menjelaskan bahwa dasar akrual tidak sepenuhnya dapat diberlakukan bagi entitas syariah karena khusus dalam perhitungan pembagian hasil laporan keuangan menggunakan dasar kas. Konsep ini merupakan tuntutan dari praktisi agar kewajiban untuk pembagian hasil yang akan dibayarkan kepada pemilik dana tidak terjadi lebih bayar (&lt;em&gt;overpayment&lt;/em&gt;&lt;em&gt;) &lt;/em&gt;seandainya pada akhirnya penerima dana pembiayaan tidak membayar kewjiban bagi hasilnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Dalam peninjauan lain, akuntansi seharusnya mempertimbangkan kondisi ekonomi suatu negara. Triyuwono (2006) menyatakan bahwa instrumen akuntansi pada dasarnya tidak bebas nilai, tetapi sebaliknya sarat nilai, sehingga untuk mempraktikkan akuntansi sebagai instrumen juga harus mempertimbangkan nilai-nilai etika yang berlaku di mana akuntansi tadi dipraktikkan. Dengan menyadari bahwa Indonesia menganut dualisme sistem ekonomi, yakni sistem konvensional dengan sistem ekonomi syariah, maka perlakuan akuntansi tidak dapat diseragamkan. Karena pada masing-masing sistem ekonomi pun memiliki tujuan dan prinsip yang berbeda-beda. Maka dengan demikian akuntansi sebagai alat pengambilan keputusan ekonomi harus relevan menyajikan laporan keuangan yang dibutuhkan pemakai. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Prinsip-prinsip dalam akuntansi yang berkembang saat ini merupakan derivasi dari tujuan ekonomi kapitalisme. Di mana pesatnya perkembangan akuntansi mengikuti perkembangan ekonomi negara-negara maju yang menganut sistem ekonomi kapitalis. Akuntansi dibentuk untuk membantu dalam mencapai tujuan-tujuannya. Dalam hal ini tidak bisa dinafikan bahwa memang akuntansi sarat dengan pengaruh nilai-nilai kapitalisme yang berlawanan dengan prinsip Islam. Hal in dipertegas oleh pernyataan Sombart yang dikutip oleh Ahmad Riahi-Belkaoui (2000) dalam bukunya Accounting Theory :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;One cannot imagine what capitalism would be without double-entry bookkeeping. The two phenomena are connected as intimately as form and content. One cannot say whether capitalism created double-entry bookkeeping as a tool in its expansion; or perhaps, conversely, double-entry bookkeeping created capitalism. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Kenyataan hubungan antara kapitalisme dengan akuntansi itulah yang membuat ilmu akuntansi juga mengandung nilai-nilai kapitalisme, terutama dalam rerangka konseptual(conceptual framework) baik menurut International Financial Reporting Standards (IFRS), Financial Accounting Standard Board (FASB), dan IAI. Bahwa akuntansi dianggap sebagai alat atau teknologi, maka harus mendukung dan membantu dalam mencapai tujuan-tujuan kapitalisme. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar apakah akuntansi saat ini relevan dipergunakan untuk mendukung pencapaian tujuan-tujuan dari ekonomi islam. Mengingat ekonomi islam tentunya memiliki prinsip-prinsip syariah yang bersumber dari Al qur’an dan As Hadits yang bersifat mengikat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Di dalam asumsi dasar akuntansi menjelaskan bahwa pencatatan ialah dengan berdasarkan metode basis akrual. Harahap (2001) menyatakan aumsi dasar akrual adalah dimana dalam penentuan pendapatan dan biaya dari posisi harta dan kewajiban ditetapkan tanpa melihat apakah transaksi kas telah dilakukan atau tidak Menurut PSAK Syariah nomor 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah (2007) dalam paragraf standarnya :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 1in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Entitas Syariah harus menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali Laporan Arus Kas dan penghitungan pendapatan untuk tujuan pembagian hasil usaha. Dalam penghitungan pembagian hasil usaha didasarkan pada pendapatan yang telah direalisasikan menjadi kas (dasar kas). (paragraf 25)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Hal ini pun dipertegas dengan penjelasan PSAK KDPPLKS : &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 1in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;Untuk mencapai tujuannya, laporan keuangan disusun atas dasar akrual. Dengan dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan diungkapkan dalam catatan akuntansi serta dialporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan.(Paragraf 41)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Namun pada paragraf yang lain, “Penghitungan pendapatan untuk tujuan pembagian hasil usaha menggunakan dasar kas. Dalam hal prinsip pembagian hasil usaha berdasarkan bagi hasil, pendapatan atau hasil yang dimaksud adalah keuntungan bruto (gross profit).” (PSAK Syariah KDPPLKS Paragraf 42)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Dalam PSAK Syariah ini mengatur bahwa selain pengakuan pendapatan untuk tujuan pembagian hasil usaha mempergunakan asumsi dasar akrual. Hal ini menunjukkan bahwa PSAK Syariah memperkenankan penggunaan dua metode pencatatan sekaligus dalam proses akuntansi untuk menyajikan laporan keuangan syariah. Namun demikian tetap asumsi dasar akuntansi syariah dalam hal ini berdasarkan asumsi dasar akrual. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 200%;"&gt;Suwardjono (2005) dalam menyatakan bahwa konsep dasar yang diadopsi oleh IAI berasal dari International Accountants Standard Commission (IASC) yakni dasar akrual dan kelangsungan usaha (going concern). Kedua asumsi dasar tersebut, yakni asumsi dasar akrual dan kelangsungan usaha, mempengaruhi proses akuntansi yang dipraktekkan entitas bisnis baik konvensional maupun syariah. &lt;/p&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-7766854064699535998?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/7766854064699535998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/12/pengantar-dasar-akrual-syariahkah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/7766854064699535998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/7766854064699535998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/12/pengantar-dasar-akrual-syariahkah.html' title='Pengantar Dasar Akrual; Syariahkah?'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-8x9A52ZhnmM/TvxK985UAZI/AAAAAAAAAgw/4aojaGKMoJw/s72-c/akuntansi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-7285691560817040632</id><published>2011-12-21T06:34:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T06:49:00.003-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Sabar Ini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ibM73A91WgA/TvHwjJrpIaI/AAAAAAAAAgk/po7mZmsrsH4/s1600/sabar.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 168px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ibM73A91WgA/TvHwjJrpIaI/AAAAAAAAAgk/po7mZmsrsH4/s200/sabar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688592291030704546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai kita dihadapkan pada keletihan-keletihan jiwa menahan ragam keinginan yang bermunculan. Sampai kita bertanya-tanya dari mana lagi mengumpulkan  bahasa kesabaran ketika jiwa mulai membahasakan apa yang di dalamnya dengan bahasa-bahasa keluhan. Sampai di sanalah sesungguhnya kita bisa menemukan hakikat penghambaan, oleh sebab Allah sajalah yang bisa menunaikan ragam keinginan dan mengobati keluhan-keluhan dengan janji-janji karunia yang akan dilimpahkan kepada orang-orang yang mau secara konsisten memenangkan keimanannya dari adanya kesempatan mengggadaikannya dengan kemaksiatan.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar ini, apakah dalam wilayah kebenaran atau tidak, tidak pernah tau. Tapi sabar ini, berada dalam wilayah keyakinan, bahwa inilah jalan yang diyakini. Jalan menuju kesejatian jiwa yang mau memenuhinya dengan kejernihan iman tanpa sedikitpun mengotorinya. Karena Allah, sangat merindu kembalinya seorang hamba yang tenang jiwanya. Dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Untuk masuk ke dalam syurga bersama golongan-golongan hambaNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-7285691560817040632?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/7285691560817040632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/12/sabar-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/7285691560817040632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/7285691560817040632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/12/sabar-ini.html' title='Sabar Ini'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ibM73A91WgA/TvHwjJrpIaI/AAAAAAAAAgk/po7mZmsrsH4/s72-c/sabar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-5114080024571358055</id><published>2011-12-11T05:06:00.000-08:00</published><updated>2011-12-11T05:13:33.666-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Allah Jua Pada Akhirnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-KfPeCzKrgG0/TuSsVxIKqMI/AAAAAAAAAgY/Hc5f3k7sOpE/s1600/Perjalanan%2BHidup.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 160px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-KfPeCzKrgG0/TuSsVxIKqMI/AAAAAAAAAgY/Hc5f3k7sOpE/s200/Perjalanan%2BHidup.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684858119613229250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tidak sampai pada logika untuk menemukan dimana lagi segala ungkapan jiwa ini dilabuhkan. Pada kejenuhan-kejenuhannya, pada kelelahan-kelelahannya, dan pada kesempitan-kesempitannya.  Berharap-harap ada satu tempat yang memberikan ruang secara bebas agar jiwa ini bisa mengekspresikan ungkapannya setelah beberapa waktu tertahan dan terus menumpuk. Apa saja. Baik tempat, situasi, bahkan boleh jadi orang lain yang kapasitasnya mau memberikan waktunya untuk sesaat mendengar ragam ungkapan jiwa orang yang mau meretas jalan ke syurga.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Namun di tengah pencarian itulah, ada yang sesaat terlewatkan. Ada yang terlupakan. Bahwa ada Allah ‘di sana’. Yang kerap dilupakan meski Ia Maha Memperhatikan setiap waktunya. Saya pada akhir pencarian dari waktu ke waktu, sejak dulu, sudah merasakan bahwa tidak ada tempat labuhan jiwa paling tepat selain kembali bersama Allah mendialogkan segala urusan kehidupan. Kerumitan-kerumitannya, kekhawatiran-kekhawatirannya, dan ketidakmampuan raga jiwa menjalaninya. Bahwa pada akhirnya Allah jua-alah tempat dimana hati mencari labuhannya. Saya sudah tidak pada pengharapan atas dunia ini selain mengumpulkan serakan-serakan karunia syurga yang Allah turunkan sedikit ke dunia ini yang djanjikan bagi orang-orang yang beriman dan yang telah memenangkan keimanannya atas apapun. Lalu kemudian sesegera mungkin meretas jalan untuk pulang ke kampung halaman di mana karunia syurga yang sesungguhnya dijanjikan di ujung jalan kehidupan setelah usai menyelesaikan tiap episodenya dengan akhir yang ihsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-5114080024571358055?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/5114080024571358055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/12/allah-jua-pada-akhirnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/5114080024571358055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/5114080024571358055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/12/allah-jua-pada-akhirnya.html' title='Allah Jua Pada Akhirnya'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-KfPeCzKrgG0/TuSsVxIKqMI/AAAAAAAAAgY/Hc5f3k7sOpE/s72-c/Perjalanan%2BHidup.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-4882818382769559612</id><published>2011-12-04T06:21:00.000-08:00</published><updated>2011-12-04T06:28:48.765-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Bertemu Lagi di Syurga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-NQ5_Sp-NitA/TtuDZuZhliI/AAAAAAAAAgM/4ytpZG7ivJ8/s1600/images.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-NQ5_Sp-NitA/TtuDZuZhliI/AAAAAAAAAgM/4ytpZG7ivJ8/s200/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682279832833070626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bertahun-tahun. Membersamai jalan dakwah yang penuh dengan dinamikanya. Yang dulu saling mengasihi satu sama lain, kini satu per satu mulai mengambil tempat istirahatnya. Berhenti. Entah untuk sekedar menghela nafas sementara atau memang tempat itu akan dijadikan sebagai perhentian dimana sisa hidupnya akan dihabiskan di sana. Saya tidak tau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perenungan hal tersebut saya tetap mensyukuri, bahwa masih ada mereka yang setia menjadikan jalan dakwah sebagai jalan hidupnya, meski tidak selengkap dulu. Melihat wajah saudara-saudara seiman yang sesaat merekah senyumnya bagi saya adalah kebahagian yang tidak bernilai.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Disamping memang hal demikian, kebahagiaan ukhuwah, adalah karunia terbesar setelah kebahagiaan dengan keimanan, kata Umar. Saya menyadari, bahwa di tengah ujian hidup kami masing-masing saja sudah menyita helaan-helaan nafas hidup yang memancing untuk berkeluh kesah karena logika ketidaksanggupan kerapkali hadir terselip dalam pikiran. Namun, di tengah ujian itulah kerelaan untuk tetap menjadi bagian inti dalam perjalanan dakwah akan mengundang jua ampunan Allah SWT yang ‘dikemas’ dengan KaruniaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terkira bagaimana jikalau dibuka senyata-nyatanya di akhirat kelak apa tersimpan di dalam dada (hati), boleh jadi kita semua akan melihat Nur Allah, yang memang sejak dulu, menjadi lentera hati mereka. Yang dengannya menjadi musabab diri mereka tidak pernah luput dari upaya-upaya menampilkan sosok muslim yang mempesona. Karenanya, bersama mereka, adalah saat-saat dimana kitapun menjadi kembali teringat akan tuntutan diri kita untuk bisa mengurai sedikit demi sedikit hijab yang menghalangi pesona islam tampak pada pesona kita sebagai seorang muslim. Dan ditengah canda tawa, di saat sebagian besar waktu dipenuhi dengan keseriusan yang menyita pikiran, saya mengeluh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai lisan, tidak sanggupkah engkau menjadi jalan bagi cinta ini diungkapkan pada saudaraku yang sejak dulu membersamaiku di jalan Allah? Agar ia tau, bahwa tidak ada perasaan, tidak ada gejolak jiwa, melainkan benih cinta yang dulu ditanam, kini pohonnya sudah tinggi menjulang menyentuh langit-langit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai raga, tidak sanggupkah engkau memberi pelukan erat sebagai pelebur kerinduan kami yang terpisah beberapa saat? karena sejak dulu kami saling rela-merelakan apa yang kami miliki untuk tidak dinikmati sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai saudaraku, di tengah usikan godaan, aku mau kita semua saling mengeratkan, lalu sama-sama menuntun diri kita untuk sampai di penghujung jalan yang Allah sediakan sebagai tempat perhentian kita sesungguhnya. Hingga kita bisa saling cerita-cerita lagi tentang Allah dan KebesaranNya. Ya, di sana,  di Syurga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-4882818382769559612?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/4882818382769559612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/12/bertemu-lagi-di-syurga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/4882818382769559612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/4882818382769559612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/12/bertemu-lagi-di-syurga.html' title='Bertemu Lagi di Syurga'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-NQ5_Sp-NitA/TtuDZuZhliI/AAAAAAAAAgM/4ytpZG7ivJ8/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-3428073133231530237</id><published>2011-12-03T18:10:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T18:11:17.792-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Politics'/><title type='text'>Demokrasi ; Finalisasi Konsep di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-k9I4dzZ8WVw/TtrWwaifrUI/AAAAAAAAAgA/0XsYAN4XBDg/s1600/more_democracy.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 120px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-k9I4dzZ8WVw/TtrWwaifrUI/AAAAAAAAAgA/0XsYAN4XBDg/s200/more_democracy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682090007127371074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam konteks ke-Indonesia-an, di mana system demokrasi sebagai system politik Negara itu diterapkan, sangat cocok dengan ‘situasi sosial’ masyarakat Indonesia yang sangat beragam, baik suku, budaya, dan etnis. Konsep kedaulatan rakyat yang ditawarkan oleh demokrasi memang memberikan alternatif system tata Negara dan tata sosial yang jika dibandingkan dengan konsep lain sangat sulit dalam mengakomodasi seluruh kepentingan rakyat yang berbeda-beda.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kita perlu membedakan beberapa hal yang terkait dengan demokratis sebagai suatu nilai yang dituju bagi pengelolaan negara, demokrasi sebagai suatu cara mencapai atau mewujudkan nilai-nilai demokratis, dan kondisi sosial masyarakat dalam konteks masa kini. Demokratis dalam hal ini adalah nilai-nilai yang ingin dituju dalam berdemokrasi itu sendiri. Nilai-nilai demokratis dalam hal ini sudah permanen. Yang berubah-ubah adalah konsep demokrasi sebagai suatu cara. Dan inilah yang perlu difinalisasi dalam konteks negara di mana konsep ini dianut sebagai system bernegara. Mengapa hal ini menjadi penting? Sebab, sangat memungkinkan dan sejarah demokrasi di Indonesia sudah membuktikan bahwa tiap kali terjadi peralihan kekuasaan, berganti rezim, berganti pula konsep demokrasi yang digunakan. Dengan ragamnya sendiri. Jika tidak mau disebut sebagai rekayasanya sendiri. Maka dengan demikian diperlukannya konsep demokrasi yang permanen yang secara jangka panjang tidak berubah-ubah karena pergantian rezim penguasa. Urgensi lainnya adalah agar tidak lagi berlarut-larut dalam perdebatan panjang seperti apa demokrasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, dengan memikirkan dan mewujudkan hal-hal lain yang lebih substansial seperti kesejahteraan umum, keamanan sosial (minor tindakan kriminal), stabilitas politik, dan supremasi hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Maka proses yang perlu dilakukan adalah dengan pendekatan ‘deduktif’ dimana mencari menemukan konsep yang permanen yang mengatur terkait tata negara, khususnya demokrasi. Dan konsep Islam dalam hal ini, perlu dijadikan landasan utama dalam proses finalisasi konsep demokrasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-3428073133231530237?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/3428073133231530237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/12/demokrasi-finalisasi-konsep-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/3428073133231530237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/3428073133231530237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/12/demokrasi-finalisasi-konsep-di.html' title='Demokrasi ; Finalisasi Konsep di Indonesia'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-k9I4dzZ8WVw/TtrWwaifrUI/AAAAAAAAAgA/0XsYAN4XBDg/s72-c/more_democracy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-2404947543541544562</id><published>2011-12-03T18:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T18:09:58.131-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Society'/><title type='text'>Hak Asasi Manusia dan Stabilitas Sosial</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Od2zx9OCgko/TtrWcdguylI/AAAAAAAAAf0/eZwPZkTiNoU/s1600/human-rights.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Od2zx9OCgko/TtrWcdguylI/AAAAAAAAAf0/eZwPZkTiNoU/s200/human-rights.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682089664327895634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat hal-hal yang sangat berpotensi memunculkan konflik-konflik sosial. Pada hal-hal tersebut juga pada saat yang sama menjadi sebab-sebab terpeliharanya stabilitas sosial. Hal tersebut adalah hak asasi manusia. Yang juga dikenal sebagai hak paling mendasar atau fundamental bagi manusia sebagai makhluk  ciptaan Tuhan. Dengan beragam suku, ras, budaya apapun manusia itu dilahirkan, tetap tidak mengurangi hak asasi manusianya sedikitpun. Sebab hak asasi manusia berlaku universal bagi manusia di tengah beragamnya agama, suku, ras, budaya dan etnis. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ia (HAM) ada karena karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia sejak ia masih dalam kandungan bahkan. Oleh karenanya, hak asasi manusia erat kaitannya dengan makhluk yang brketuhanan. Hubungan antara Penciptanya (Tuhan) dan hasil penciptaanNya (manusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi pembahasan selanjutnya adalah apa saja yang terkategori dalam hak asasi manusia. Bentuknya dan jenisnya. Menurut undang-undang Indonesia pun sudah diatur apa saja yang termasuk dalam hak asasi manusia. Dan masih banyak lagi jenis-jenis hak yang dikategorikan sebagai hak asasi manusia, atau dalam istilah lain disebut juga human rights. Tetapi sepertinya dalam menentukan jenis apa saja hak-hak yang termasuk hak asasi manusia itu memerlukan prinsip mendasar yang mem’verifikasi’ suatu hak tertentu dapat digolongkan sebagai hak asasi manusia. Agar tidak terus menerus berubah yang merupakan hasil respon dari perubahan sosial masayarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis, kaidah mendasar yang perlu diperhatikan dan sebagai ‘verifikasi’ bahwa suatu hak itu dapat dikatakan sebagai hak asasi manusia adalah ketika telah memenuhi kedua syarat berikut; pertama, hak tersebut timbul karena ada kewajiban alamiah oleh orang lain yang juga sebagai individu yang harus menjaga hak asasi manusia yang lain. Maka, dalam hal ini pun terdapat pula selain HAM, yakni Kewajiban Asasi Manusia. Kedua, dalam kaitannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, maka hak tersebut tidak memberi peluang adanya penyelewengan atas aturan Tuhan adan norma-norma agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-2404947543541544562?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/2404947543541544562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/12/hak-asasi-manusia-dan-stabilitas-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/2404947543541544562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/2404947543541544562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/12/hak-asasi-manusia-dan-stabilitas-sosial.html' title='Hak Asasi Manusia dan Stabilitas Sosial'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Od2zx9OCgko/TtrWcdguylI/AAAAAAAAAf0/eZwPZkTiNoU/s72-c/human-rights.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-46559795804003207</id><published>2011-11-17T05:06:00.000-08:00</published><updated>2011-11-17T05:30:18.347-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Economic'/><title type='text'>Harmonisasi Internal Audit- Shariah Review</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-4vb03eIeKHo/TsUMYs6ZUzI/AAAAAAAAAfo/FDbKXYEy4K8/s1600/kaca-pembesar.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 152px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-4vb03eIeKHo/TsUMYs6ZUzI/AAAAAAAAAfo/FDbKXYEy4K8/s200/kaca-pembesar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5675956523882861362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Review Kritis Atas Paper&lt;br /&gt;Degree of Independence of Sharia Supervisory Board in Indonesia ;Student Perspective&lt;br /&gt;by Dodik Siswanto and Akhmad Syakhroza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam paper yang ditulis oleh Dodik Siswanto bersama Akhmad Syakhroza yang berjudul Degree of Independence of Shariah Supervisory Board in Indonesia ; Students Perspective inti gagasannya ialah mencoba mengukur tingkat independensi Dewan Pengawas Syariah yang terdapat pada lembaga keuangan syariah atau dalam arti luas entitas syariah (perbankan dan non-perbankan). Hal tersebut menjadi bahan kajian dikarenakan Dewan Pengawas Syariah (Shariah Supervisory Board) yang menjadi representative dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) di lembaga keuangan syariah untuk mengawasi keseluruhan operasional lembaga keuangan syariah agar tetap sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dalam bermuamalah.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam paper tersebut dilakukan survey, dimana mahasiswa sebagai responden dalam mengukur tingkat independensi Dewan Pengawas Syariah di Indonesia. Dan hasil surbey tersebut disimpulkan oleh penulis (Dodik Siswanto dan Akhmad Syakhroza) menjadi beberapa kesimpulan dan saran sebagaimana berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Memiliki full time staff&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat masih terbatasnya ahli ekonomi islam (khususnya lembaga keuangan syariah) atau jumlah cendikiawan muslim yang memahami praktek bisnis pada saat yang bersmaan, maka dalam paper ini direkomendasikan Dewan Pengawas Syariah yang hanya mengawasi tiap tempo tertentu (tidak full time) untuk memiliki staff yang mewakili secara penuh dalam pengawasan kepatuhan syariah (shariah compliance) terhadap operasional lembaga keuangan syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Memiliki semacam direktorat tersendiri yang serupa dengan komite audit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana dibentuknya semacam direktorat yang setara dengan komite audit di dalam struktur organisasi lembaga keuangan syariah. Dengan adanya komite audit syariah maka pengawasan akan lebih bersifat mengikat pada setiap fatwa yang dikeluarkan Dewan Pengawas Syariah terhadap operasional lembaga keuangan syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Memiliki pemahaman islam dan latar pendidikan yang  relevan (ekonomi,manajemen, akuntansi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan pengawas syariah harus memiliki kualifikasi yang transendental, dimana selain memahami prinsip-prinsip Islam dalam bermuamalah tetapi juga harus memahami bidang ilmu ekonomi, manajemen, akuntansi dan sebagainya untuk mengidentifikasi transaksi-transaksi kontemporer saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Dirotasi, paling lama tiap 3 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjaga tingkat independensi, dalam paper ini mengusulkan dilakukannya rotasi Dewan Pengawas Syariah antar lembaga keuangan agar opini syariah yang dikeluarkan tetap terjaga objektifitasnya. Dan perotasian ini dilakukan maksimal setelah 3 tahun masa jabatan di satu lembaga keuangan syariah tertentu. Tentunya hal ini menjadi kebijakan DSN-MUI untuk melakukannya.&lt;br /&gt;5.    Tidak bekerja untuk perusahaan konsultan&lt;br /&gt;Agar objektifitas opini dan independensi Dewan Pengawas Syariah tetap terjaga, maka diharapkan DPS tidak membuka jasa layanan konsultasi bisnis untuk menghindari adanya peluang tidak independennya jasa konsultasi yang diberikan. Hal ini dikhawatirkan karena jasa tersebut pun merupakan ‘pesanan’ yang memberikan feedback secara materi (service fee).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    Dengan demikian anggota DSN atau DPS sebaiknya tidak bekerja di perusahaan konsultan, dan sebaiknya menjadi akademisi dan peneliti, dan berpengetahuan, baik syariah maupun bisnis keuangan islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harmonisasi Internal Audit-Shariah Review&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam paper tersebut ada satu rekomendasi yang ditujukan kepada lembaga keuangan syariah, yaitu dibentuknya direktorat tersendiri setara dengan komite audit yang sudah ada, untuk pengawasan kepatuhan syariah yang lebih mengikat dan regulatif. Sebab struktur saat ini sebagaimana menggambarkan fungsi DPS bagi lembaga keuangan syariah, yakni sebatas fungsi konsultatif bagi Dewan Direksi (Board of Direction) dalam pengambilan keputusan mengenai transaksi syariah dalam operasional perusahaannya. Peran inilah yang dianggap masih tidak terlalu efektif dalam penerapan shariah compliance karena berkaitan dengan opini syariah yang dikeluarkan oleh Dewan Pengawas Syariah. Kesesuaian opini syariah yang dikeliuarkan tiap akhir tahun kepada lembaga keuangan syariah harus mencerminkan kepatuhan syariah yang utuh pada setiap transaksi keuangan maupun pengelolaan organisasi perusahaan yang bebas dari transaksi-transaksi yang dilarang oleh syariat islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak begitu saja menjadi efektif ketika dibentuk suatu direktorat pengawasan syariah atau komite audit syariah di lembaga keuangan syariah untuk meningkatkan efektifitas opini syariah terhadap kondisi operasional perusahaan yang sebenarnya. Risiko yang akan ditimbulkan dari adanya bentukan komite audit syariah ini akan terjadi dualisme pengaturan dan pengawasan operasional dalam satu perusahaan yang besar kemungkinan akan terjadi saling meniadakan (mutually exclusive) antar keduanya atau terjadi tumpang tindih pengaturan internal perusahaan yang disebabkan perbedaan pandangan terhadap operasional lembaga keuangan syariah. Hal demikian akan sangat berdampak pada tata kelola yang tidak utuh karena masing-masing komite audit memiliki pandangannya sendiri-sendiri. Meskipun secara implisit kedua komite audit ini (audit internal dan audit syariah) memiliki fungsi utama masing-masing, tetap saja akan terjadi dua opini dalam satu transaksi yang terjadi dalam lembaga keuangan syariah. Pada sisi ekstrem, manajemen akan menghadapi kebingungan dalam menentukan mana yang perlu dipatuhi dari adanya dualisme pengawasan operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, untuk menghindari adanya risiko dualisme opini atas pengawasan internal perusahaan (lembaga keuangan syariah), perlu adanya harmonisasi antara kedua komite tersebut. Yakni dilakukannya integrasi pengawasan terhadap operasional lembaga keuangan syariah yang hanya mengeluarkan opini tunggal dengan mengintegrasikan opini kedua komite tersebut. Dapat dibentuk komite audit internal yang di dalamnya terdapat subkomite atau sejenis biro yang terdiri dari biro audit internal dan biro pengawas syariah (shariah compliance). Dengan begitu pengawasan tidak terparsialisasi jika adanya dua komite yang mengawasi operasional perusahaan. Meski dua biro yang terpisah hubungan antar kedua biro bersifat koordinatif dan saling melengkapi (mutualism) diantara keduanya. Oleh sebab dalam jangka pendek belum memungkinkannya adanya integrasi audit syariah dengan audit internal ke dalam satu keahlian seseorang yang dengannya tidak perlu dibentuknya dua biro tersebut. Diantara sebabnya adalah karena SDM yang memiliki keahlian dalam manajemen operasional perusahaan (bisnis modern) dengan pemahaman syariah dalam bermuamalah secara sekaligus relatif tidak tersedia atau dalam jumlah yang masih sangat sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara langkah-langkah lainnya adalah dengan mengintegrasikan acuan standar (standar operasional prosedur) perusahaan yang selain menstandarisasi operasional bisnis modern, standar operasional tersebut juga harus menginternalisasikan prinsip-prinsip syariah di dalamnya. Sehingga, tidak lagi adanya dualisme pengawasan dan dualisme opini yang saling bertentangan, karena hanya akan diawasi oleh satu badan yang integral dan diberikan opini yang tunggal dan bersifat mengikat bagi operasional manajemen perusahaan. Dan pada akhirnya lembaga keuangan syariah dalam hal ini dapat menyempurnakan tata kelola entitas syariahnya (Good Shariah Corporate Governance) yang merepresentasikan lembaga keuangan syariah modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-46559795804003207?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/46559795804003207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/harmonisasi-internal-audit-shariah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/46559795804003207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/46559795804003207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/harmonisasi-internal-audit-shariah.html' title='Harmonisasi Internal Audit- Shariah Review'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-4vb03eIeKHo/TsUMYs6ZUzI/AAAAAAAAAfo/FDbKXYEy4K8/s72-c/kaca-pembesar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-3552639840206846777</id><published>2011-11-09T01:36:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T07:16:24.509-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Economic'/><title type='text'>Overview Dasar Akrual Akuntansi ; Syariahkah?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-vX5QRX7BQ88/TrpM1PXf14I/AAAAAAAAAes/jaq5_-i8DiQ/s1600/755283_300.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vX5QRX7BQ88/TrpM1PXf14I/AAAAAAAAAes/jaq5_-i8DiQ/s200/755283_300.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672931158168426370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam perkembangan lembaga keuangan syariah di Indonesia baik di sektor perbankan maupun non perbankan seperti asuransi syariah, pegadaian syariah, pasar modal syariah, bursa berjangka syariah, lembaga keuangan mikro syariah hingga bisnis syariah, telah menunjukkan trend pertumbuhan yang positif dari tahun ke tahun dan semakin diterima oleh masyarakat meski perlahan selama  hampir dua dekade. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Pada Juni 2011 Statistik Perbankan Syariah Bank Indonesia tercatat 11 Bank Umum Syariah, 23 Unit Usaha Syariah, dan 154 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yang tersebar di penjuru nusantara sebagai pilar perkembangan perbankan syariah. Kemudian berdirinya perusahaan-perusahaan perasuransian syariah, adanya pasar modal syariah yang direpresentasikan oleh Jakarta Islamic Index (JII), pegadaian syariah, lembaga-lembaga zakat pemerintah maupun non pemerintah dan lembaga filantropi lainnya yang mewakili lembaga sosial yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Selain itu, sukuk atau dalam istilah lain obligasi syariah juga telah diakomodasi sebagai instrumen pembiayaan syariah dalam penerimaan negara pada APBN. Dan yang baru saja di keluarkan fatwanya oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, ialah dibolehkannya Bursa Berjangka Syariah. Belum lagi sektor microfinance, seperti koperasi syariah maupun Baitul Maal wat Tamwil (BMT) yang telah menjadi garda terdepan dalam pengembangan UMKM dan pemberdayaan ekonomi rakyat berdasarkan prinsip syariah. Dalam aktivitas bisnis ekonomi lainnya juga terdapat ragam bisnis syariah yang dikembangkan oleh masyarakat yang menginginkan prinsip-prinsip syariah terinternalisasi dalam wirausaha atau bisnis mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan di atas menunjukkan bahwa sistem ekonomi syariah telah menjadi bagian dalam sistem perekonomian Indonesia. Sehingga dalam perekonomian saat ini dikenal dengan dualisme sistem ekonomi (dual economics system). Meskipun perkembangan ekonomi syariah di Indonesia dalam hal ini belum meliputi secara utuh seluruh sektor suatu perekonomian terutama pada sektor makro dan mikronya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perkembangan ekonomi syariah sebagaimana pemaparan di atas, ilmu akuntansi sebagai suatu displin ilmu yang juga menjadi bagian dari sistem ekonomi yang melandaskan prinsip-prinsipnya berdasarkan prinsip syariah, juga telah mengikuti perkembangan tersebut dan menjadi bagian dalam pengambilan keputusan ekonomi bagi entitas syariah. Salah satu bukti perkembangan tersebut adalah telah adanya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Syariah (PSAK Syariah) nomor 101 – 110 yang telah disusun Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan difatwakan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akuntansi seharusnya mempertimbangkan kondisi ekonomi suatu negara. Iwan Triyuwono (2006) menyatakan bahwa instrumen akuntansi pada dasarnya tidak bebas nilai, tetapi sebaliknya sarat nilai, sehingga untuk mempraktikkan akuntansi sebagai instrumen juga harus mempertimbangkan nilai-nilai etika yang berlaku di mana akuntansi tadi dipraktikkan. Dengan menyadari bahwa Indonesia menganut dualisme sistem ekonomi, maka diperlukan perlakuan akuntansi yang tidak diseragamkan. Karena pada masing-masing sistem ekonomi pun memiliki tujuan dan prinsip yang berbeda-beda. Maka dengan demikian akuntansi sebagai alat pengambilan keputusan ekonomi harus relevan menyajikan laporan keuangan yang dibutuhkan pemakai, yakni entitas syariah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal demikian menjadi penting karena memang tujuan sistem ekonomi konvensional berbeda dengan tujuan ekonomi syariah. Dari definisinya sendiri diantara keduanya sama sekali berbeda. Sebagaimana definisi Prahatma Rahardja dan Mandala Manurung (2006) yang menyatakan bahwa ilmu ekonomi mempelajari perilaku individu dan masyarakat dalam menentukan pilihan untuk menggunakan sumber daya-sumber daya yang langka (dengan dan tanpa uang), dalam upaya meningkatkan kualitas hidupnya. Lain hal dengan definisi ekonomi islam. Ekonomi Islam adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berupaya untuk memandang, menganalisis, dan akhirnya menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara yang islami. (Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam UII atas kerjasama dengan Bank Indonesia, 2008, hlm. 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip dalam akuntansi yang berkembang saat ini merupakan derivasi dari tujuan ekonomi kapitalisme. Dimana pesatnya perkembangan akuntansi mengikuti perkembangan ekonomi negara-negara maju yang menganut sistem ekonomi kapitalis. Akuntansi dibentuk untuk membantu dalam mencapai tujuan-tujuannya. Dalam hal ini tidak bisa dinafikan bahwa memang akuntansi sarat dengan pengaruh nilai-nilai kapitalisme yang berlawanan dengan prinsip Islam. Hal in dipertegas oleh pernyataan Sombart yang dikutip oleh Ahmad Riahi-Belkaoui (2000) dalam bukunya Accounting Theory :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“One cannot imagine what capitalism would be without double-entry bookkeeping. The two phenomena are connected as intimately as form and content. One cannot say whether capitalism created double-entry bookkeeping as a tool in its expansion; or perhaps, conversely, double-entry bookkeeping created capitalism.“ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan hubungan antara kapitalisme dengan akuntansi itulah yang membuat ilmu akuntansi juga mengandung nilai-nilai kapitalisme dimana sebagaimana bahwa akuntansi dianggap sebagai alat atau teknologi, maka harus mendukung dan membantu dalam mencapai tujuan-tujuan kapitalisme. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar apakah akuntansi saat ini relevan dipergunakan untuk mendukung pncapaian tujuan-tujuan dari ekonomi islam. Mengingat ekonomi islam tentunya memiliki prinsip-prinsip syariah yang bersumber dari Al qur’an dan As Hadits yang bersifat mengikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam asumsi dasar akuntansi menjelaskan bahwa pencatatan ialah dengan berdasarkan metode basis akrual. Harahap (2001) menyatakan aumsi dasar akrual adalah dimana dalam penentuan pendapatan dan biaya dari posisi harta dan kewajiban ditetapkan tanpa melihat apakah transaksi kas telah dilakukan atau tidak Menurut PSAK Syariah nomor 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah (2007) dalam paragraf standarnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entitas Syariah harus menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali Laporan Arus Kas dan penghitungan pendapatan untuk tujuan pembagian hasil usaha. Dalam penghitungan pembagian hasil usaha didasarkan pada pendapatan yang telah direalisasikan menjadi kas (dasar kas). (paragraf 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pun dipertegas dengan penjelasan PSAK KDPPLKS :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuannya, laporan keuangan disusun atas dasar akrual. Dengan dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan diungkapkan dalam catatan akuntansi serta dialporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan.(Paragraf 41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada paragraf yang lain, PSAK KDPPLKS menjelaskan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghitungan pendapatan untuk tujuan pembagian hasil usaha menggunakan dasar kas. Dalam hal prinsip pembagian hasil usaha berdasarkan bagi hasil, pendapatan atau hasil yang dimaksud adalah keuntungan bruto (gross profit). (Paragraf 42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam PSAK Syariah ini mengatur bahwa selain pengakuan pendapatan untuk tujuan pembagian hasil usaha mempergunakan asumsi dasar akrual. Hal ni menunjukkan bahwa PSAK Syariah memperkenankan penggunaan dua metode pencatatan sekaligus dalam proses akuntansi untuk menyajikan laporan keuangan syariah. Namun demikian tetap asumsi dasar akuntansi syariah dalam hal ini berdasarkan asumsi dasar akrual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suwardjono (2005) dalam menyatakan bahwa konsep dasar yang diadopsi oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) berasal dari International Accountants Standard Commission (IASC) atau yang telah berubah menjadi International Accountants Standard Board (IASB), yakni dasar akrual dan kelangsungan usaha (going concern). Kedua asumsi dasar tersebut, yakni asumsi dasar akrual dan kelangsungan usaha, mempengaruhi proses akuntansi yang dipraktekkan entitas bisnis baik konvensional maupun syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-3552639840206846777?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/3552639840206846777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/overview-dasar-akrual-akuntansi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/3552639840206846777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/3552639840206846777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/overview-dasar-akrual-akuntansi.html' title='Overview Dasar Akrual Akuntansi ; Syariahkah?'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-vX5QRX7BQ88/TrpM1PXf14I/AAAAAAAAAes/jaq5_-i8DiQ/s72-c/755283_300.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-2307329855754443344</id><published>2011-11-08T03:52:00.000-08:00</published><updated>2011-11-08T03:55:46.246-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Sekedar Curiga pada Penelitian Induksi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-2BmtA_vu-EI/TrkYuwyCVFI/AAAAAAAAAeg/YdYjL4UlizM/s1600/Langkah-Langkah%2BPenelitian.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-2BmtA_vu-EI/TrkYuwyCVFI/AAAAAAAAAeg/YdYjL4UlizM/s200/Langkah-Langkah%2BPenelitian.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672592397297669202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa jam saya habiskan di depan komputer untuk mengutak-atik penelitian akhir yang segera harus dirampungkan. Menambah-nambahkannya dan mengeliminir paragraf-paragraf yang tidak diperlukan. Di sela-sela jeda untuk sekedar merefresh badan, saya iseng-iseng berfikir. Mengapa menjadi demikian saya menulis. Tidak seperti biasanya. Saya harus menyortir pikiran yang akan dituangkan dalam bentuk tulisan-tulisan ilmiah. Beragam ide yang melintas dipikran seperti harus melalui proses screening yang ketat. Satu per satu dikoreksi, baru ditulis. Heeeumh. Tidak seperti biasanya saya menulis tiap pagi hari yang hanya dalam waktu kurang lebih setengah jam,jadi satu tulisan lepas, yang memang lebih memvisualisasikan ide-ide, pikiran-pikiran saya dalam bentuk tulisan.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Menulis bagi saya hanya sekedar berbagi pemahaman disamping ternyata menulis juga berpengaruh pada situasi kejiwaan yang jauh lebih stabil secara kontinu dan baik dalam mengontrol perilaku, karena disana terjadi proses berfikir yang cukup untuk kemudian melakukan suatu tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi agak sedikit curiga dengan metode-metode ilmiah yang dipergunakan pada setiap penelitian-penelitian. Saya hanya sekedar menuangkan apa yang ada dalam pikiran saya, bahwa boleh jadi memang semua ilmu pengetahuan, baik sains maupun sosial saat ini melandaskan kebenarannya pada metode-metode tersebut.  Premis-premis yang telah melalui filterisasi ilmiah menjadi benar sebagai ‘teori kebenaran’ bagi ilmu pengetahuan. Proses induksi teorisasi tersebut diambil dari kenyataan-kenyataan lapangan yang diperoleh melalui observasi analitikal berbasis data statistik, uji coba dan fakta-fakta sosial (bagi ilmu sosial). Jadi saya tambah berfikir, apakah kemudian sebuah kebenaran itu muncul dari situasi yang terjadi di lingkungannya atau juga situasi sosial yang mengemuka diantaranya. Kalau demikian adanya, maka segala teori yang diambil dari proses induksi macam demikian, menjadi relative dan tidak benar seutuhnya karena akan terpengaruh perubahan lingkungan dan perubahan situasi sosial. Sebab yang terjadi pada lingkungan saat ini, dan yang terjadi pada kondisi atau keadaan saat ini semua bersifat relative, masing-masing sudut pandang menjadi benar karena saling menafikan satu dengan lain. Jika dalam kurun waktu tertentu, diadakan penelitian yang sama, boleh jadi menjadi berbeda hasil analisisnya dan dengan demikian berubah pula teori sebagai konklusi penelitian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada teori terciptanya jagat raya saja misalnya, beragam teori muncul karena masing-masing memiliki data dan fakta-fakta fenomena alam sebagai sudut pandangnya yang juga menyebabkan masing-masing sudut pandang tersebut memberikan konklusi yang berbeda satu sama lain. Apakah demikian bagi teori yang utuh yang layak diterima, jika dalam periode yang berbeda saja sangat mudah untuk ditinjau kembali kebenarannya? Lebih-lebih hanya diterima di kalangan tertentu, pada waktu tertentu dan ruang tertentu.&lt;br /&gt;Kecurigaan saya membesar karena saya menganggap bahwa sains dan ilmu pengetahuan sosial saat ini tidak dibangun dari derivasi deduktif suatu falsafah yang absolute. Bahwa sains adalah salah satu proyek yang juga akan disekularisasi dari ‘dogma agama’ yang merupakan wahyu tuhan. Karena sebagian besar ilmuwan itu sendiri juga mensekularisasi dirinya dari dogma agama. Melokalisasi ‘ibadah’ bagi dirinya hanya pada waktu-waktu dan tempat tertentu. Tidak ada istilah integrasi antara ilmu pengetahuan dengan agama dalam kamus berfikir mereka. Sehingga, produk sekuler ini, yakni juga kecurigaan saya pada metode ilmiah, adalah alternative jalan bagi ilmuwan untuk membenarkan secara kolektif suatu teori tertentu sebagai hasil penelitian dan uji coba. Ditambah dengan asumsi-asumsi dalam penelitian yang saya juga menjadi curiga dengannya. Dalam penentuan jumlah sampel misalnya, bagi saya kebenaran tetaplah kebenaran meski sedikit. Ia tidak didasarkan pada banyaknya jumlah sampel itu sendiri. Bahwa semakin banyak sampel yang digunakan, maka data semakin mendukung suatu kebenaran hasil induksinya. Jelas kecurigaan saya, bahwa pandangan utilitarian selalu menilai kebenaran itu pada sensasi-sensasi kesenangan, besarnya ukuran, jumlah yang banyak, dan tidak merugikan pada semua hal. Itulah indicator kebenaran bagi utilitarian. Bagi saya kebenaran tetaplah kebenaran. Meski sedikit, kecil, dan tidak menyenangkan. Saya memang lebih sepakat dengan proses deduksi dalam penelitian, dimana suatu teori adalah derivasi dari falsafah absolute yang secara substansial tidak berubah meski terjadi perubahan situasi dan kondisi karena perubahan ruang dan waktu. Mark Blaug (1998) mengatakan, the fact that many people do thing does not make it right. Suatu kenyataan bahwa banyak orang melakukan sesuatu tidaklah serta merta menjadikannya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di penghujug proses berfikir saya, bukan berarti berhenti mempelajarinya. Tapi sebagaimana jika saya mempelajari suatu pemahaman yg jelas-jelas salah, saya mempelajarinya hanya untuk semakin mengetahui ruang-ruang kesalahan yang ada didalamnya. Jika hal itu menjadi suatu keharusan untuk saya benci, maka semakin bencilah saya. Berusaha agar debunya pun jangan sampai menyapu pemahaman saya yang benar yang sudah saya lakukan selama ini. seperti mempelajari riba misalnya, maka saya mempelajarinya demi terhindar sejauh-jauhnya dari apa yang tergolong riba. Begitu. Karena saya sedang penelitian sebagai tugas akhir, say abaca sajalah, tidak mengapa, lagipula proses penelitian induksi tidak saya pakai. Ga jelas deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-2307329855754443344?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/2307329855754443344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/sekedar-curiga-pada-penelitian-induksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/2307329855754443344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/2307329855754443344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/sekedar-curiga-pada-penelitian-induksi.html' title='Sekedar Curiga pada Penelitian Induksi'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-2BmtA_vu-EI/TrkYuwyCVFI/AAAAAAAAAeg/YdYjL4UlizM/s72-c/Langkah-Langkah%2BPenelitian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-3769227784034447133</id><published>2011-11-07T17:59:00.000-08:00</published><updated>2011-11-07T18:02:03.289-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reportase'/><title type='text'>Suharna Surapranata, Teladan di Semua Mihwar Dakwah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-lQNTKOdxh9o/TriNkH8vEdI/AAAAAAAAAeU/YYfrsJMy7BI/s1600/Suharna-Surapranata-300x221.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 147px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-lQNTKOdxh9o/TriNkH8vEdI/AAAAAAAAAeU/YYfrsJMy7BI/s200/Suharna-Surapranata-300x221.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672439382421737938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gonjang-ganjing  reshuffle kabinet banyak mendapatkan sorotan media akhir-akhir ini.  Banyak media menilai PKS emosional mensikapi reshuffle ini lantaran  seorang menterinya terkena dampak, harus meninggalkan kursi kementrian  untuk diganti personal lain. Benarkah ada sikap emosional menghadapi  reshuffle tersebut, dan bagaimana sikap Menteri yang terkena reshuffle ?&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Menteri dari PKS yang terkena reshuffle itu adalah Suharna Surapranata.  Apakah ia emosional menghadapi peristiwa ini ? Ah, berlebihan pertanyaan  itu. Kang Harna, panggilan akrab sang menteri, ternyata biasa saja.  Bersikap sangat arif dan tenang, sama sekali tidak ada kesan emosional.&lt;/span&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Belum Pengumuman, Sudah Berpamitan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Bagi banyak kalangan, jabatan menteri dianggap sebagai sebuah posisi  yang prestis dan terhormat, maka banyak orang berebut mendapatkannya.  Oleh karena itu, bagi sebagian menteri, reshuffle sungguh merupakan  tamparan dan menjadi momok yang sangat menakutkan. Namun tidak demikian  dengan Kang Harna. Mantan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS ini  menganggap posisi menteri adalah amanah dakwah. Maka sebagai bagian  utuh dari proses dakwah, ia siap ditempatkan dimanapun pos-pos yang bisa  menjadi lahan baginya untuk berkontribusi secara optimal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Begitu isu reshuffle sudah kian menghangat, dan sudah ada isyarat dari  &lt;span&gt;Istana Negara&lt;/span&gt; bahwa dirinya akan diganti, ia langsung  menyiapkan segala  sesuatu. Selasa pagi, 18 Oktober 2011, Kang Harna memimpin Rapim  Menristek yang dihadiri para pejabat di lingkungan Kementrian. Pada  Rapim tersebut, Kang Harna menyampaikan bahwa dirinya akan segera  diganti oleh personal lain yang akan ditunjuk oleh Presiden SBY. Oleh  karena itu Kang Harna menyampaikan kalimat pamitan dan beberapa pesan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Tentu saja pernyataan tersebut sangat mengejutkan para pejabat di  lingkungan kementrian Ristek, karena belum ada pengumuman resmi dari  Presiden SBY terkait reshuffle. Banyak kalangan pejabat di kementrian  yang merasa tidak percaya atas informasi tersebut. Selama ini hubungan  sang menteri maupun kementrian Ristek dengan Presiden SBY baik-baik  saja, tidak ada masalah atau kasus apapun yang layak dipersoalkan.  Bahkan ada banyak kemajuan serta prestasi di Kementrian Ristek selama  dipimpin Kang Harna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Apalagi jika dibandingkan dengan beberapa kementrian lainnya yang tengah  ada kasus, atau mendapatkan “raport merah” dari UKP4, atau ada masalah  dengan laporan keuangan kementrian. Justru Kementrian Ristek posisinya  aman-aman saja, bahkan mendapatkan nilai bagus, maka pernyataan pamit  Kang Harna sangat mengejutkan para pejabat dan staf di lingkungan  Kementrian Ristek.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Bukan hanya pamitan di forum resmi tersebut, namun Kang Harna juga  mengunjungi seluruh lantai dan memasuki ruangan-ruangan untuk menyapa  sekaligus berpamitan dengan para pegawai di lingkungan kementrian  Ristek. Benar-benar kejutan, karena tidak menyangka Kang Harna menyapa  mereka dan berdialog dengan para staf, sekaligus berpamitan. Kang Harna  sudah pamit padahal reshuffle belum diumumkan SBY, sehingga belum ada  kepastian apakah Menristek diganti atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Para pegawai di lingkungan Kementrian Ristek memanfaatkan momentum itu  untuk bersalaman dan berpotret bersama sang Menteri. Ya, Menteri Ristek  di hari terakhir pengabdiannya. Sebagian pegawai bahkan terharu dan  meneteskan air mata karena tidak menyangka Kang Harna akan segera  meninggalkan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Usai mengungkapkan pamit, Kang Harna menyampaikan beberapa pesan kepada  para pejabat dan staf di lingkungan Kementrian Ristek, bahwa jabatan itu  hanya amanah yang setiap saat bisa selesai. Beliau mengatakan reshuffle  Menristek itu hanya pindah nakhoda, karena semuanya sudah tersedia,  seperti undang-undang, visi, misi kementrian dan perangkat lainnya.  Untuk itulah Kang Harna meminta semua pejabat dan staf bekerja semakin  profesional bersama menteri baru nantinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Telah Selesai Berkemas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Sesungguhnya, semenjak isu reshuffle bergulir, Kang Harna sudah  memerintahkan kepada para staf khusus beliau untuk segera berkemas.  Demikianlah Kang Harna menyikapi setiap ada isu reshuffle. Seakan sudah  memastikan bahwa dirinya yang akan terkena. Hal sama beliau lakukan saat  ada isu reshuffle setahun yang lalu, beliau sudah memerintahkan staf  untuk berkemas. Namun ternyata waktu itu tidak jadi ada reshuffle.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Para staf segera melakukan perapihan di kantor Kementrian Ristek, dengan  memilah barang-barang. Kang Harna berpesan agar cermat dalam melakukan  packing. Jangan ada barang kementrian yang terbawa, dan jangan ada  barang pribadi yang tertinggal. Hingga hari Senin 17 Oktober 2011,  packing sudah selesai dilakukan oleh para staf. Barang-barang sudah  dikemas dengan rapi dan tinggal membawa pergi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Pulang Dengan Mobil Pribadi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Usai berpamitan dan berpesan dengan pejabat dan staf di lingkungan  Kementrian, Kang Harna pun pulang. Luar biasa, siang itu, Selasa 18  Oktober 2011, beliau pulang mengendarai mobil pribadi. Mobil dinas  Menristek beliau parkir di kantor, kunci serta seluruh perlengkapan  mobil sudah dititipkan kepada pegawai yang berwenang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://1.bp.blogspot.com/-QiWZ88bKDN0/Tp5OtcmQF4I/AAAAAAAAHp0/lVnv2f0NsOA/s1600/harna.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4524009408450574071" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Para  pejabat yang melepas beliau semakin heran. Seseorang bertanya, “Mengapa  tidak menggunakan mobil menteri?” Kang Harna menjawab, “Saya sudah  pamitan. Itu jatah mobil menteri baru nanti”, jawab beliau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Sebuah keteladanan yang luar biasa. Betapa banyak pejabat yang ingin  selalu menikmati bahkan &lt;/span&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);" class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Justify Full"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Justify Full" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;memiliki fasilitas dinas. Kalau perlu tidak  dikembalikan, walaupun tidak lagi menjabat. Tidak demikian dengan kader  senior PKS ini. Kang Harna memberikan contoh perilaku politik yang  santun, beradab dan bertanggung jawab. Kang Harna simbol kesalihan  seorang pejabat negera setingkat menteri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Tidak perlu menunggu pengumuman resmi. Beliau sudah berpamitan. Beliau  sudah mengemas semua barang. Beliau sudah menyerahkan mobil kementrian.  Maka, siang hari itu, sejarah perpolitikan di Indonesia mencatat,  seorang Menteri yang menuntaskan pekerjaan di hari terakhir tugasnya,  dengan sempurna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Luar biasa. Sikap konsistensi kepada keyakinan, sikap kesederhanaan,  sikap kehati-hatian telah dicontohkan. Sejarah perpolitikan Indonesia  harus mencatat peristiwa ini, sebagai pelajaran bagi seluruh pejabat di  republik ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Mengembalikan Rumah &lt;span&gt;Dinas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Kemana Kang Harna setelah selesai pamitan di Kantor Kementrian Ristek ?  Selasa siang itu, 18 Oktober 2011, dengan menggunakan mobil pribadinya,  Kang Harna langsung menuju rumah Dinas Menristek. Beliau meneliti  kondisi rumah, dan memastikan bahwa rumah dinas tersebut sudah berada  dalam kondisi rapi. Beliau memasuki rumah dan melihat semua bagian dan  ruangan dengan detail. Jangan ada barang-barang milik dinas yang  terbawa, dan jangan ada barang milik beliau yang tertinggal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Setelah memastikan bahwa semua sudah beres dan rapi, beliaupun  meninggalkan rumah dinas Menristek. Beliau ingin memastikan bahwa rumah  dinas tersebut besok pagi sudah siap ditempati Menristek yang baru. Luar  biasa, sebuah sikap kesederhanaan dan kehati-hatian yang pantas  diteladani oleh semua masyarakat dan bangsa, khususnya bagi para pejabat  &lt;span&gt;negara&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Lagi-lagi, sejarah perpolitikan di Indonesia harus mengabadikan  peristiwa ini. Sebuah pendidikan politik bagi para pejabat di seluruh  level, agar bersikap profesional, sederhana dan bersahaja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Mengganti KTP&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Masih ada yang kurang, siang itu. Usai meneliti rumah dinas, Kang Harna  segera meluncur ke Kantor Kelurahan. Apa yang beliau lakukan ? Ternyata  beliau mengurus pergantian KTP.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Dalam KTP yang beliau miliki selama menjabat menjadi Menristek, tertulis  identitas “Menteri” di KTP tersebut. Maka Kang Harna ingin semua  selesai pada hari itu pula, Selasa 18 Oktober 2011, sebelum ada  pengumuman resmi reshuffle kabinet. Beliau meminta agar dibuatkan KTP  baru dengan identitas yang baru pula, karena besok pagi beliau sudah  bukan Menteri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;span&gt;Lega&lt;/span&gt;. Kang Harna menyelesaikan pembuatan KTP baru. Apa yang  berbeda dari  KTP tersebut ? Kalau semula tertulis identitas “Menteri” pada KTP  beliau, sekarang tertulis “Wiraswasta” pada KTP yang baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Lagi-lagi, luar biasa Menteri yang satu ini. Perjalanan panjang dalam  gerakan dakwah telah membentuknya memiliki karakter yang mulia. Beliau  tidak ingin ada pemalsuan identitas. Beliau bukan lagi menteri, besok  pagi. Maka tidak layak memiliki KTP yang bertuliskan identitas  “Menteri”. Beliau ingin tampil dengan identitasnya yang asli,  “Wiraswasta”. Bukan “Mantan Menteri”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Jam 13.00 Sudah Selesai Semuanya&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Ya, jam 13.00 wib hari Selasa 18 Oktober 2011, sudah selesai semua  urusan Kang Harna. Sudah berpamitan dan memberi pesan di Kementrian  Ristek. Sudah mengembalikan mobil dinas. Sudah meninggalkan dan  merapikan rumah dinas. Sudah mengganti identitas di KTP. Lega, semua  urusan sudah dibereskan. Rasanya tidak ada yang tersisa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Masyaallah. Pengumuman reshuffle belum disampaikan. Belum ada kepastian  apakah Kang Harna akan jadi diganti atau tidak. Namun semua urusan sudah  dibereskan. Jika nanti malam Presiden SBY mengumumkan kabinet baru, dan  ternyata dirinya benar-benar diganti, maka ia sudah menuntaskan seluruh  urusannya. Tidak ada lagi yang menjadi bebannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Keluarga Menyambut Gembira&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Kang Harna memang sudah dihubungi oleh Mensesneg Sudi Silalahi, yang  menyampaikan pesan dari Presiden SBY bahwa dirinya akan diganti. Ia  menerima pesan itu dengan perasaan “legowo”, tidak melakukan  “pemberontakan” atau “perlawanan”. Misalnya dengan membuat pernyataan di  media yang menyatakan bahwa dirinya dizalimi atau tidak terima kalau  diganti, atau semacam itu. Tidak, sama sekali tidak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Kang Harna justru mengirim kabar itu melalui sms kepada anak-anak  beliau. Apa respon anak-anak atas berita itu ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; “Alhamdulillah Abi !” ini jawaban anak pertama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; “Alhamdulillah. Berarti Abi bakal lebih sering bersama kita. Kalau  begitu kita perlu syukuran !”  jawab anak kedua. Ya, semua keluarga  menyambut gembira.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Dua tahun menjadi Menristek, membuat Kang Harna lebih sibuk daripada  sebelumnya. Jam 06.00 wib Kang Harna sudah berada di kantor Kementrian  Ristek. Ya pagi-pagi sekali beliau sudah berada di kantor, bahkan sering  sebelum jam 06.00 wib beliau sudah masuk kantor. Setelah itu beliau  berkegiatan di dalam kantor atau berkegiatan di luar lingkungan kantor  Kementrian. Sore atau malam baru pulang ke rumah dinas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Dengan irama kesibukan seperti itu, membuat beliau semakin jarang  bertemu keluarga. Beliau ingin memberikan contoh teladan bagi semua  pejabat, pegawai dan staf di lingkungan Kementrian Ristek, bahwa bekerja  harus bersungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Habis menunaikan shalat  Subuh beliau sudah siap pergi ke kantor. Maka, sebelum jam 06.00 beliau  sudah berada di ruangan Menristek. Kadang jam 05.30 sudah berada di  ruang kerja kementrian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Maka demikian bergembira anak-anak beliau, saat mendapat kabar bahwa  Kang Harna akan digeser dari Menristek dan diganti personal lain yang  ditunjuk Presiden SBY. &lt;span&gt;Coba&lt;/span&gt; perhatikan respon spontan ini,  “Alhamdulillah. Berarti Abi bakal lebih sering bersama kita. Kalau  begitu kita perlu syukuran !”   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Benar, malam harinya, Presiden SBY mengumumkan kabinet baru hasil  reshuffle. Suharna Surapranata digantikan oleh Menristek yang baru,  Gusti Muhammad Hatta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Kinerja Kementrian&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Penggantian Kang Harna dari Menristek sudah pasti bukan karena kinerja.  Karena berdasarkan penilaian Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan  Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan BPK, kinerja Menristek diakui bagus.  Bahkan laporan keuangan Kementrian dibawah Kang Harna dinyatakan WTP  selama dua tahun berturut-turut, maka renumerasi Kemenristek dipercepat  tahun ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Nilai “Wajar Tanpa Pengecualian” (WTP) adalah opini audit atas laporan  keuangan yang paling bagus atau menempati posisi paling atas. Opini  audit lainnya adalah “Wajar Dengan Pengecualian” (Qualified Opinion),  “Tidak Memberikan Pendapat” (Disclaimer) dan “Tidak Wajar” (Adverse).  Maka dengan melihat hasil penilaian UKP4 serta nilai WTP selama dua  tahun di bawah kepemimpinan Kang Harna, menandakan kinerja Menristek  tidak ada masalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Maka tatkala Presiden SBY mengumumkan kabinet hasil Reshuffle, dan  ternyata Kang Harna keluar dari jajaran kementrian, publik layak  bertanya, atas dasar apa pergantian itu ? “Sudahlah, tidak perlu  diperdalam. Ini sudah terjadi”, jawab Kang Harna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Seperti yang ditulis Kompas, “Kendati tak mengetahui alasan pasti  terkait pencopotannya, mantan Menteri Riset dan Teknologi Suharna  Surapranata mengaku legawa. Tak lupa, politisi Partai Keadilan Sejahtera  ini mengucapkan syukur karena telah memiliki kesempatan mengabdi kepada  negara”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; "Saya juga merasa bersyukur bisa membantu Presiden selama dua tahun  ini," kata Suharna kepada para wartawan di sela-sela upacara pelantikan  menteri dan wakil menteri di &lt;span&gt;Istana Negara&lt;/span&gt;, Jakarta, Rabu  (19/10/2011).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Ketika ditanya lebih rinci terkait detik-detik pencopotannya, Suharna  enggan menceritakannya. Pencopotannya dipandang hak prerogatif Presiden  sepenuhnya. Dirinya hanya mengaku menerima telepon dari Menteri  Sekretaris Negara Sudi Silalahi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; "Sudahlah. Saya kira ini tidak perlu diperdalam. Ini sudah terjadi,"  ujarnya singkat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Suharna mengatakan, selepas menjadi menteri, dirinya ingin kembali ke  PKS dan membangun partai. Pencopotan Suharna yang secara resmi  disampaikan Presiden di Istana Merdeka, Selasa (18/10/2011), turut  mengurangi jatah kursi menteri partai dakwah tersebut. Demikian ulasan  Kompas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Bahkan, saat  acara serah terima jabatan Menristek di kantor Kementrian,  Kang Harna menyampaikan, “Saya pinjam pantun Pak Tifatul. Ayu Ting Ting  naik Kopaja, yang penting kita tetap bekerja.” Itulah slogan yang  sangat nyata. Dimanapun Kang Harna, pasti akan terus bekerja untuk  masyarakat, bangsa dan negara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;b style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Kang Harna di &lt;span&gt;Mata&lt;/span&gt; Saya&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Beliau orang yang ramah, santun dan bersahaja. Beliau salah seorang  jajaran qiyadah dakwah yang memberikan contoh konsistensi dalam  kehidupan. Kader senior dakwah yang menapaki jalan panjang dan terjal,  menghantarkan dakwah dari ruang-ruang tertutup menuju ruang-ruang  kenegaraan. Dan beliau sendiri mencontohkan bagaimana sikap seorang  negarawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Beliau tidak pernah berambisi jabatan apapun, baik dalam organisasi  maupun dalam jabatan publik. Saat beliau mendapatkan amanah menjadi  salah seorang calon menteri yang diusulkan oleh PKS, kami semua  mengetahui bahwa beliau keberatan dengan posisi itu. Beliau merasa ada  lebih banyak kader dakwah yang tepat pada posisi kementrian. Namun,  beliau juga memberikan contoh bahwa amanah harus dilaksanakan dengan  segenap kemampuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Itulah yang sering saya katakan, “Posisi-posisi dalam dakwah ini datang  dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak  pernah kembali. Bisa ‘iya’ bisa ‘tidak’. Iya menjadi pengurus, pejabat,  pemimpin dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi  pejabat, tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa  disebut”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Kang Harna telah memberikan contoh kepada kita. Beliau tetap bekerja,  dimanapun berada. Beliau selalu di jalan dakwah, selalu istiqamah, saat  masih duduk di bangku kuliah, saat perintisan awal dakwah, saat  mengalami masa-masa pertumbuhan dakwah yang sulit, dan bahkan akhirnya  menjadi pejabat negara, dan sekarang kembali lagi menjadi masyarakat  biasa. “Wiraswasta”, begitu pilihan identitas di KTP-nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Tidak menyalahkan sana menyalahkan sini, tidak emosi karena dicopot dari  menteri, justru beliau menampakkan sikap yang rendah hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Luar biasa. Gemblengan perjalanan dakwah puluhan tahun telah menampa  Kang Harna memiliki karakter yang sangat kuat. Layak diteladani oleh  para kader, tentang kesederhanaan, tentang ketekunan, tentang dedikasi,  tentang konsistensi, tentang kehati-hatian, tentang kesantunan, tentang  profesionalitas kerja, tentang kemampuan adaptasi di segala mihwar,  tentang sikap kenegarawanan, tentang komitmen kekaderan, tentang visi  yang terang benderang, tentang platform pembangunan &lt;span&gt;Indonesia&lt;/span&gt;  yang  jelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Banyak, teramat sangat banyak yang bisa kita pelajari dari kader senior  yang satu ini. Saya salah seorang kader yang merasa bangga, memiliki  senior yang memberikan keteladanan mulia kepada generasi berikutnya.  Semoga semakin banyak kader berkualitas Suharna Surapranata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Cahyadi Takariawan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-3769227784034447133?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/3769227784034447133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/suharna-surapranata-teladan-di-semua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/3769227784034447133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/3769227784034447133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/suharna-surapranata-teladan-di-semua.html' title='Suharna Surapranata, Teladan di Semua Mihwar Dakwah'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-lQNTKOdxh9o/TriNkH8vEdI/AAAAAAAAAeU/YYfrsJMy7BI/s72-c/Suharna-Surapranata-300x221.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-5627574007753336484</id><published>2011-11-07T17:38:00.000-08:00</published><updated>2011-11-07T17:51:04.857-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Membaca ; Membuka Jendela Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-RNSipyT8ghU/TriKmFcUMcI/AAAAAAAAAeI/OopX9XhuZss/s1600/reading.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 132px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-RNSipyT8ghU/TriKmFcUMcI/AAAAAAAAAeI/OopX9XhuZss/s200/reading.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672436117573743042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya membaca itu membuka jendela hati. Meminjam sedikit istilah bahwa buku itu jendela dunia, dimana ilmu pengetahuan mencoba merangkum segala pengetahuan yang terhampar di seluruh penjuru alam dunia ke dalam kumpulan-kumpulan bentuk tulisan, suara, atau gambar-gambar. Meskipun sampai berakhirnya zaman pun, ilmu pengetahuan tidak akan pernah sampai pada himpunan ilmu yang utuh dan transcendental mengenai dunia dan segala isi yang ada di dalamnya. Apa yang kemudian menjadi hasil dari membaca itulah seharusnya membuka satu per satu jendela-jendela yang boleh jadi selama ini tertutup rapat sehingga sinar hidayah sulit masuk ke dalamnya. Kodrat kemanusiaan kita senyata-nyatanya memang telah tertanam benih ragam kebaikan yang dianugerahkan Allah SWT. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Berpotensi besar menjadi pribadi yang luhur, berakhlak mulia dan penuh kasih saying. Meski pada saat yang sama secara asasi pula kita juga memiliki potensi keburukan yang bisa menyebabkan diri larut dalam kezaliman-kezaliman bagi diri sendiri dan kejahatan-kejahatan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang telah tertanam di dalam hati, pada semua variannya, kebaikan yang telah tumbuh subur menjadi taman kebaikan, maka ia membutuhkan sinar yang memberi kehidupan agar mampu bertahan lebih lama. Membutuhkan desiran sepoi angin untuk mendesirkan daun-daun agar bertambahlah kesejukan di dalamnya. Menumbuhkan batangnya agar menjulang sampai ke langit-langitnya, memekarkan bunganya agar menambah harum ruang isi hatinya, meranumkan buahnya agar bisa menjadi penyegar bagi pemiliknya. Hingga hati terisi penuh dengan bunga-bunga kebaikan yang menambah gejolak jiwa agar bisa berubah menjadi akumulasi tekad (azzam) yang besar untuk benar-benar kebaikan itu tumpah ruah di dunia nyata. Dan membaca adalah salah satu cara dimana jendela-jendela itu bisa terbuka lebar, sehingga dengan leluasa hidayah itu bisa masuk ke dalamnya menambah situasi hati dalam mencintai Allah dan keluar memberi ragam kebaikan yang dengannya berharap hidayah pula bisa singgah di hati orang lain. Agar orang lain pun sama cintanya pula kepada Allah. Sehingga kita semua bisa sama-sama mencintai Allah dengan demikian. Mari Membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-5627574007753336484?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/5627574007753336484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/membaca-membuka-jendela-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/5627574007753336484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/5627574007753336484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/membaca-membuka-jendela-hati.html' title='Membaca ; Membuka Jendela Hati'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-RNSipyT8ghU/TriKmFcUMcI/AAAAAAAAAeI/OopX9XhuZss/s72-c/reading.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-6487900652909516641</id><published>2011-11-07T03:56:00.000-08:00</published><updated>2011-11-07T04:04:10.943-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Economic'/><title type='text'>Agar Akuntansi Syariah Lebih Profetik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-3frCIqeEb8I/TrfJFXDnNAI/AAAAAAAAAd8/qbjxjFpClj0/s1600/audit.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 136px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-3frCIqeEb8I/TrfJFXDnNAI/AAAAAAAAAd8/qbjxjFpClj0/s200/audit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672223349622125570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam dunia bisnis, kajian akuntansi sebagai salah satu instrumen yang menyajikan serta melaporkan kondisi ekonomi dalam bentuk satuan moneter bagi perusahaan atau entitas bisnis telah dimulai bersama adanya entitas itu sendiri. Bagaimana menyajikan dan melaporkan posisi keuangan entitas untuk kepentingan pengambilan keputusan dan sebagai pelaporan operasional entitas. Ditambah kajian – kajian dan penelitian dimotori dan banyak dipengaruhi oleh pemikiran Luca Pacioli , yang dianggap kini sebagai founding father ilmu akuntansi. Hal ini tidak akan menjadi pembahasan yang detail dalam pembahasan kali ini. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tetapi sejak adanya akuntansi dianggap juga sebagai suatu dispilin ilmu dalam bidang studi ekonomi, dan selebihnya dianggap sebagai teknologi yang membantu mempermudah dalam proses pencatatan, pengolongan dan pelaporan keuangan, nyatanya sarat dipengaruhi oleh situasi ekonomi, atau lebih tepatnya ‘ideologi ekonomi’ yang diterapkan masing-masing negara. Hadirnya akuntansi dalam bentuk standar akuntansi keuangan sebagai formula praktek atau aplikasi lapangan, dipengaruhi oleh prinsip – prinsip ekonomi yang dianut yang melandasi kegiatan berekonomi. Bahwa sekali lagi bentuk akuntansi sarat dipengaruhi situasi objektif (seperti lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain-lain) yang dianut suatu negara. Sebab jika akuntansi dianggap sebagai teknologi, maka ia adalah merupakan ‘bentukan’ yang dipergunakan untuk kepentingan tujuan tertentu. Lain hal yang bersifat substansial, ia tidak dipengaruhi dimensi ruang dan waktu, tetapi bentuk itu sendiri sangat terpengaruh oleh ruang dan waktu. Wajarlah dengan demikian, bentuk-bentuk yang terepresentasikan dalam standar akuntansi keuangan masing-masing negara menjadi beragam dan boleh jadi tidak ada persamaan baik secara bentuk maupun substansial. Oleh sebab prinsip ekonomi masing-masing negara juga berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akuntansi dan Kapitalisme Ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan akuntansi modern abad 21 ini, sangat erat kaitannya dengan kapitalisme. Dimana asal perkembangannya dari negara yang menganut system ekonomi kapitalisme, yakni negara-negara barat. Sebab kemajuan dan dinamisnya kegiatan ekonomi di negara-negara maju jugitulah memberikan pengaruh dalam mendinamisasi perkembangan akuntansi sebagai ilmu dengan pada saat yang sama sebagai suatu alat ekonomi. Tidak hanya dari pendekatan current system bidang ekonomi di negara maju untuk mencoba menghubungkan antara akuntansi dengan kapitalisme, tetapi pendekatan sejarah (historical approach) juga telah menunjukkan bahwa sejak kapitalisme itu berkembang, prinsip-prinsip dalam akuntansi mengalami perubahan mendasar pada prinsip-prinsipnya. Ahmde Riahi – Belakoui dalam bukunya Accounting Theory, Fourth Edition membagi masa-masa atau fase sejarah evolusi akuntansi dan perkembangannya menjadi beberapa masa, yang menunjukkan bahwa akuntansi sejak munculnya sebagai suatu ilmu dipengaruhi beragam hal, baik dispilin ilmu lain maupun pemikiran ahli atau pun profesional. Awal mulanya ialah pada 3000 sebelum masehi, yakni dipengaruhi oleh Chaldean-Babylonian, Assyirian and Sumerian, dengan lahirnya double entry system pertama kali. Kemudian, pengaruh dari kontribusi pemikiran Luca Pacioli, seorang  warga negara Perancis yang memperkenalkan double entri bookkeeping, dimana pada tahun 1494 dia mempublikasikan bukunya Summa de Arithmetica Geomatria, Proportioni et Proportionalita yang include 2 chapter de Computis et Scripturis. Pasca perkembangan pemikiran Luca Pacioli, pada periode selanjutnya double entry bookkeeping lebih dikenal dengan istilah “Italian Method” di Eropa pada abad ke 16 dan 17 masehi. Masa perkembangan selanjutnya lebih banyak terjadi dan mengemuka di United States of America dimana terdapat empat fase yang mempengaruhi akuntansi sebagai alat pelaporan ekonomi, yakni pertama, pengaruh atau kontribusi manajemen pada periode 1900 sampai 1933 dimana akuntansi atau laporan keuangan berfungsi sebagai bentuk control aktivitas perusahaan. Kedua, karena adanya pembentukan Securities and Exchange Commission (SEC) yakni dibentuk oleh American Institute Accountants (AIA) dan aturan baru dari Committee on Accounting Procedures, yang terjadi pada kurun 1933 – 1959. Ketiga, fase kontribusi oleh kalangan professional pada periode 1959 - 1973 dan keempat adalah adanya pengaruh dari situasi dan kepentingan politik pada periode 1973 hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode-periode tersebut mengindikasikan secara eksplisit bahwa ilmu akuntansi telah mengalami evolusinya tidak secara mandiri atau dengan kata lain dipengaruhi oleh situasi dan kondisi ekonomi negara-negara maju, dan terutama sejak kemunculannya sudah cukup dekat kaitannya dengan kapitalisme. Hal in dipertegas oleh pernyataan Sombart yang dikutip oleh Ahmad Riahi – Belkaoui dalam bukunya Accounting Theory :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“One cannot imagine what capitalism would be without double-entry bookkeeping. The two phenomena are connected as intimately as form and content. One cannot say whether capitalism created double-entry bookkeeping as a tool in its expansion; or perhaps, conversely, double-entry bookkeeping created capitalism. “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan ini sebagaimana dipertegas oleh Sombart dalam tesisnya, bahwa akuntansi, pada prinsip-prinsipnya adalah derivasi filosofis kapitalisme itu sendiri, karena memang ditujukan untuk dan sebagai alat dalam berekonomi. Tujuannya diantaranya adalah menurut Riahi-Belkaoui;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘the transformation of assets into abstract values and quantitive expression of the result of business activities, systematic accounting in the form of double-entry bookkeeping made it possible firstly, for the capitalistic entrepreneur to plan, condust and measure the impact of his / her activities; and secondly, for a separation of owners and the business itself, thus allowing the growth of the corporation. “ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab kapitalisme menganggap bahwa segala sesuatunya harus bersifat material dan berhak atas keuntungan atau laba bagi yang menguasai pasar dengan modalnya, maka kepentingan itu didukung pula oleh adanya akuntansi sebagai pengambilan keputusan capitalist entrepreneur dan sebagai pemisah antara kekayaan perusahaan dengan kekayaan pribadi, dalam artian perusahaan diasumsikan sebagai entitas yang berdiri sendiri dan pemilik adalah entitas yang lain, sehingga jikalau terdapat kekeliruan atau bahkan operasional perusahaan melakukan pelanggaran, pemilik hanya bertanggungjawab sebesar nilai modal yang diivestasikan di perusahaan dan tidak bertanggungjawab secara penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kritik Akuntansi Syariah; Tinjauan Maqashid Syariah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan institusi keuangan syariah di Indonesia terutama di sektor perbankan, asuransi, pegadaian, pasar modal, bursa komoditi, maupun bisnis syariah, telah menunjukkan trend pertumbuhan yang positif dari tahun ke tahun dan semakin diterima oleh masyarakat meski perlahan satu decade terakhir. Dengan didukung adanya 11 Bank Umum Syariah, 23 Unit Usaha Syariah, dan ratusan BPRS yang tersebar di penjuru nusantara, sebagai pilar perkembangan perbankan syariah, kemudian perusahaan-perusahaan perasuransian syariah, adanya pasar modal syariah yang direpresentasikan oleh Jakarta Islamic Index (JII), pegadaian syariah, lembaga-lembaga zakat pemerintah maupun non pemerintah dan lembaga filantropi lainnya yang mewakili lembaga sosial yang lebih dekat dengan prinsip-prinsip syariah. Selain itu, sukuk juga telah diakomodasi sebagai instrument pembiayaan syariah dalam penerimaan negara pada APBN. Dan yang baru saja di keluarkan fatwanya oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, ialah dibolehkannya Bursa Komoditi Syariah atau sebutan lain bursa berjangka syariah. Belum lagi sektor microfinance, seperti koperasi syariah maupun Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Dalam aktivitas bisnis ekonomi lainnya juga terdapat ragam bisnis syariah yang dikembangkan oleh masyarakat yang menginginkan prinsip-prinsip syariah terinternalisasi dalam wirausaha atau bisnis mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ini menunjukkan bahwa memang awareness masyarakat terhadap aktivitas ekonomi yang tidak hanya semata-mata mengejar keuntungan atau laba sebagai penambahan harta kekayaan bagi mereka tetapi juga terdapat sisi lain seperti social intermediation bagi masyarakat lain juga diperhatikan, nyatanya semakin meluas dan menjadi gerakan bersama untuk melakukan ‘penggeseran paradigma’ (shifting paradigm) lama (konvensional) menuju paradigm yang sama sekali berbeda, yang lebih humanis, menambah kepedulian sosial-lingkungan (dengan tidak merusak lingkungan dan orang lain), dan beretika. Dimana nilai-nilai tersebut menjadi pilar nilai dalam islam tentunya. Dan ini juga menunjukkaan bahwa islam itu sendiri memang merupakan risalah yang diturunkan untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perkembangan ekonomi syariah sebagaimana pemaparan di atas, ilmu akuntansi yang mencoba menginternalisasikan prinsip-prinsip syariah juga telah mengikuti perkembangan tersebut dan menjadi bagian dalam pengambilan keputusan ekonomi bagi entitas syariah. Dengan adanya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Syariah (PSAK Syariah) nomor 101 – 110 yang telah disusun IAI dan difatwakan DSN – MUI menunjukkan perkembangan akuntansi syariah. Namun, sampai saat ini, akuntansi syariah tidak lepas dari kritik dan kajian-kajian yang lebih filosofis agar benar-benar sesuai dengan syariat islam dan mencapai tujuan-tujuan syariah itu sendiri (maqashid syariah). Terutama kritik tertuju pada tataran prinsip dan filosofi akuntansi syariah yang memang belum well establish sebagai basis teori yang permanen bagi akuntansi syariah. Sebab, dalam praktik, relatif hanya berubah pada standar akuntansinya saja, yakni perubahan pada mekanisme pencatatan dan pelaporan. Tetapi, pada prinsip dan asumsi dasar belum tersusun secara islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja pada asumsi dasar yang menjadi konsep dasar akuntansi syariah, masih dianggap tidak sesuai dengan prinsip syariah dan maqashid syariah disamping memang masih dalam perdebatan (debatable) di kalangan pakar akuntansi syariah. Yakni diantaranya asumsi dasar akrual sebagai dasar pencatatan akuntansi dan asumsi kelangsungan usaha (going concern) bagi entitas yang mengeluarkan laporan keuangan. Kedua konsep dasar ini memang sama dengan konsep dasar PSAK konvensional katakanlah, yang juga terbukti memang mengadopsi dari IASC, yang sarat dengan muatan nilai-nilai kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulawarman (2006), dalam pendekatan artikulasi trilogy laporan keuangan syariah bahwa implementasi konsep matching dalam revenue, expense approach jelas berbeda dengan pendekatan ekstensi value added income sebagai dasar dari laporan keuangan nilai tambah syariah dan tidak dapat digunakan dalam konsep laporan keuangan syariah karena tidak sesuai dengan Islamic value dan maqashid syariah karena tiga alasan, pertama, pengakuan pendapatan berkaitan dengan realisasi pendapatan akan berimplikasi pada sifat dasar halal (permitted). Kedua, pengakuan pendapatan dalam proses pembentukan pendapatan berbasis akrual dan ditetapkannya time value of money berujung riba (interest). Ketiga, prinsip penandingan pendapatan dan biaya juga belum sesuai dengan tujuan syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencatatan akuntansi dengan basis akrual memang mengindikasikan melekatnya prinsip nilai waktu uang (tme value of money) yang tidak sesuai dengan nilai syariah. Pengakuan secara akrual berarti menghitung nikai saat (present value) ini bagi nilai yang akan diperoleh di masa depan. Weil (1990) yang dikutip Mulawarman, menjelaskan sebenarnya akuntansi selalu menggunakan time value of money berkenaan penentuan waktu (timing ) terhadap transaksi nilai investasi serta kepastian ases yang dipengaruhi nilai uang. Hal ini jelas dilarang dalam islam, dimana memastikan kondisi yang tidak pasti di masa depan, dan mendekati riba karena ada gharar(ketidakjelasan) tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi asumsi kelangsungan usaha (going concern) yang dalam muamalah seperti yang dinyatakan oleh Abdel Magid (1981) dan Roszaini (2001) bahwa “Mudharaba and musharaka contracts are for specific periods, however, these are assumed to continue until one or all of the parties involved decide to terminate such contracts.”. Dimana asumsi dasar kelangsungan usaha dengan likuidasi adalah persoalan pengecualian benar-benar tidak berlaku. Sebab kontinuitas usaha harus sesuai dengan kontrak bisnis atau kesepakatan atau perjanjian antara masing-masing pihak yang berbisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi-asumsi dasar ini akan sangat fatal apabila tidak sesuai dengan prinsip islam dan tidak mencapai mqashid syariah, karena akan sangat mempengaruhi standar akuntansi, prosedur dan system sebagai praktik akuntansi di dunia bisnis. Pada kenyataannya memang demikian saat ini, akuntansi syariah harus lebih menambah kajiannya dan lebih mengedepankan pengkajian pada aspek teoritis agar bisa terumus falsafah akuntansi yang islami dengan berdasarkan wahyu yang diturunkan berupa Al qur’an kepada Nabi Muhammad saw berikut dengan penjelasan dalam sunnah-sunnah beliau. Agar akuntansi syariah lebih profetik dari current theory saat ini, dimana pengkajian akuntansinya mencoba membahas dengan pendekatan filosofis yang bersumber dari Al qur’an dan hadist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-6487900652909516641?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/6487900652909516641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/agar-akuntansi-syariah-lebih-profetik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/6487900652909516641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/6487900652909516641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/agar-akuntansi-syariah-lebih-profetik.html' title='Agar Akuntansi Syariah Lebih Profetik'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-3frCIqeEb8I/TrfJFXDnNAI/AAAAAAAAAd8/qbjxjFpClj0/s72-c/audit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-3783012879779690298</id><published>2011-11-07T03:51:00.001-08:00</published><updated>2011-11-07T04:09:24.661-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Jika Tidak Mengerti, Carilah Hikmah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-khsItjZYDYU/TrfHYm2QxUI/AAAAAAAAAdw/7N8LisaTV1c/s1600/Idul%2BAdha.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 132px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-khsItjZYDYU/TrfHYm2QxUI/AAAAAAAAAdw/7N8LisaTV1c/s200/Idul%2BAdha.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672221481255355714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sering kita menemukan ragam syariat yang Allah turunkan melalui wahyu dalam Al Qur’an kepada kita hambaNya yang menyisakan ruang ketidakmengertian. Pada ragam yang lain ialah takdirnya yang menyimpan kerahasiaan akan situasi lain dimana akal dalam jangka pendek tidak mampu menerima apalagi merabanya. Namun disitulah letak asasinya, kepatuhan dan penghambaan diri secara totalitas kita hadirkan sebagai bagian dari ibadah kita kepada Allah SWT. Yakni dengan menerima segala syariat dan takdriNya menjadi bagian dari kehidupan kita yang mengikat. Pada ruag ketidakmengertian itulah seringnya pula terlintas bermacam pikiran-pikiran mengenai satu syariat ke syariat yang lain, satu kejadian ke kejadian lainnya, satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Pikiran itulah yang bisa terspekulasi untuk memikirkan yang tidak semestinya dipikirkan tentang Allah.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Maka, jalan yang menjadi batas agar ada sedikit penjelasan dan sebagai bagian yang meneguhkan iman yang hampir boleh jadi tidak tersisa, ialah dengan mengenali hikmah dan meresapinya menjadi pembahasan dialog antara hati dengan pikiran. Dengan demikian, hati yang telah menyelami ragam hikmah pada setiap ketetapan Allah SWT, ia menjadi penuntun pikiran untuk bisa memahami kembali bahwa Allah punya situasi lain yang mau Ia hadirkan bagi kita, yang dengan situasi yang kita inginkan sebelumnya, boleh jadi kita akan lupa pada KeMahabesaranNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen ini, Idul adha ini, jangan terlalu sibuk mencari – cari mengapa hewan kurban yang dikurbankan tidak jauh-jauh dari kambing atau domba, sapi atau kerbau dan onta. Sebab tidak ada penjelasan syariat yang spesifik menjelaskan mengapa demikian. Tapi diantara hikmah yang tersirat ialah bahwa pada jenis-jenis hewan tersebut, ketika momentumnya, harus dikurbankan secara missal dan dalam jumlah yang besar, namun pada jenis – jenis hewan itu pula, saat ini dan dimanapun tidak pernah terdapat masalah dalam hal populasi dan menyebabkan kepunahan. Yang jelas, syariat sekali lagi, tidak berdiri di atas hikmah, hanya saja, bagi kita, saya tentunya sangat perlu meneguhkan iman atas syariat yang Allah tetapkan tersebut. Dan bagi syariat yang lain, kita perlu juga memahami apa hikmah yang menambah situasi kejiwaan kita lebih merasakan kedekatan diri kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Idhul Adha 10 Dzulhijjah 1432 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-3783012879779690298?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/3783012879779690298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/jika-tidak-mengerti-carilah-hikmah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/3783012879779690298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/3783012879779690298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/11/jika-tidak-mengerti-carilah-hikmah.html' title='Jika Tidak Mengerti, Carilah Hikmah'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-khsItjZYDYU/TrfHYm2QxUI/AAAAAAAAAdw/7N8LisaTV1c/s72-c/Idul%2BAdha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-8996226480225401966</id><published>2011-10-31T05:27:00.000-07:00</published><updated>2011-10-31T06:05:13.794-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Society'/><title type='text'>Masyarakat Madani ; Proses Dinamis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-aEnTMizKiX0/Tq6YIZXs5ZI/AAAAAAAAAdg/N9dLG6SxNZ8/s1600/wallpaper-i-love-indonesia-2009.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 142px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-aEnTMizKiX0/Tq6YIZXs5ZI/AAAAAAAAAdg/N9dLG6SxNZ8/s200/wallpaper-i-love-indonesia-2009.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669636250922706322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kajian kemasyarakatan, yang ‘laris’ dijadikan pembahasan saat ini ialah apa yang sering disebut-sebut dengan masyarakat madani. Suatu konsepsi tatanan sosial yang secara gagasan atau ide kolektif kekinian memuarakan pada istilah tersebut, masyarakat madani. Latar logika yang menjadi asal muasal tema ini menjadi menarik ialah pada situasi sosial yang dianggap tidak menghadirkan dan memberikan ruang kondusif bagi warga bangsa dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai seorang individu yang secara kodrati juga memiliki hak asas dirinya yang dianugerahkan Allah Swt. Yakni untuk hidup, bisa menentukan nasib atas dirinya sendiri, dan bebas dari ragam intervensi yang membonsai pertumbuhan dirinya sebagai seorang individu yang mengisi tiap episode hidupnya dalam mengejar takdir-takdir yang telah ditetapkanNya. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Itu yang pertama, dan cenderung historical approach dalam menemukan simpulan.  Yang kedua adalah, pada kebutuhan manusia itu sendiri dalam memaksimalkan perannya dalam memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dalam hal materi yang primer, ‘kepuasan batin yang maksimal’ yang lebih dekat dengan kebahagiaan hakiki, dan meraih apresiasi sosial dengan pada saat yang sama tetap tidak mengganggu upaya maksimalisasi yang juga dilakukan orang lain. Meskipun pada akhirnya kelak akan terjadi irisan yang berpotensi menimbulkan konflik sosial. Tetapi, menjadi minor ketika masing-masing individu saling memahami dan bertoleransi. Maka, atas dasar kebutuhan-kebutuhan itulah diperlukannya format tata sosial masyarakat yang memberi ruang yang nyaman dalam upaya-upaya pemenuhan kebutuhan masing-masing indivdu tersebut. Dan masyarakat madani, dengan demikian adalah istilah yang paling memungkinkan mewujudkan tata sosial tersebut. Meskipun pendekatan substansial-lah yang menjadi primer, soal istilah, apapun namanya, menjadi tidak primer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Historical and Needs Assessment Approach&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ke-Indonesia-an perlu dikaji setidaknya dalam dua pendekatan yang secara implisit tergambar pada pembahasan di atas. Bahwa dengan pendekatan aspek sejarah (historical approach) dan aspek penilaian kebutuhan (needs assessment approach) barangkali dapat menjadi satu pertimbangan dalam menentukan formula yang permanen apa yang disebut dengan masyarakat madani. Landasan apa yang menjadi pondasinya, apa cirri-cirinya, bagaimana visualisasi interaksi sosial, politik, budaya, ekonomi dan etiknya, dan apa yang menjadi tujuan aktualisasi kolektif individu dengan masyarakat madani sebagai medianya. Dan dalam hal ini, masyarakat madani sampai kapanpun, tidak akan sampai pada format yang final melainkan jika telah usai zaman manusia di dunia. Mengapa? Sebab, masyarakat madani adalah proses itu sendiri, sebagaimana masih berjalannya waktu di dunia ini. Sampai takdir Allah SWT melenyapkan kehidupan manusia di dunia dan menjadikannya ‘ sejarah bagi akhirat’. Oleh sebab masyarakat madani kental dipengaruhi oleh sosio-kultural masyarakat itu sendiri yang tiap bangsa, suku, atau ras memiliki identitas dirinya masing-masing yang menjadi ragam ketika dikolektifkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tinjauan sejarah, salah satu bukti bahwa masyarakat madani tidak akan pernah mencapai satu format yang final adalah pada upaya-upaya yang tidak kunjung selesai dan mencapai capaian masyarakat madani yang diharapkan masyarakat sebelumnya. Misalnya, bagi masyarakat Indonesia pra hingga masa penjajahan, masyarakat madani yang tervisualisasikan dalam ‘pikiran’ masyarakatnya adalah ketika masyarakat telah mencapai kebebasan atau kemerdekaan berwarganegara. Tetapi kemudian, ketika Indonesia telah mencapai masa pasca kemerdekaan sebagaimana yang diharapkan, upaya lebih memaksimalkan adanya bentukan masyarakat madani yang lebih utuh adalah upaya kembali yang dilakukan masyarakat orde lama. Bahwa zaman saat itu, bukanlah masayarakat madani yang diharapkan. Dan kembali, keinginan-keinginan mencapai masyarakat madani menjadi misi gerakan masyarakat pada saat itu, masa orde lama. Demikian seterusnya hingga kini telah memasuki masa reformasi. Sedang 60 tahun lebih negeri ini lahir, sampai saat inipun reformasi belum lagi menghadirkan bentuk masyarakat madani yang diimpikan oleh elemen bangsa ini, termasuk impian masyarakat dahulu, ketika zaman pra penjajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian saya beranggapan bahwa masyarakat madani, ialah proses yang kental dengan dinamikanya. Meski kita punya ciri-cirinya sebagai acuan yang membantu dalam mewujudkannya di masyarakat kita, bangsa kita, negara kita. Termasuk cirri-ciri konsepsi masyarakat Madinah pada zaman kepemimpinan Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-8996226480225401966?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/8996226480225401966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/masyarakat-madani-proses-dinamis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/8996226480225401966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/8996226480225401966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/masyarakat-madani-proses-dinamis.html' title='Masyarakat Madani ; Proses Dinamis'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-aEnTMizKiX0/Tq6YIZXs5ZI/AAAAAAAAAdg/N9dLG6SxNZ8/s72-c/wallpaper-i-love-indonesia-2009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-4083096538064050421</id><published>2011-10-30T18:58:00.000-07:00</published><updated>2011-10-30T19:09:52.649-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Politics'/><title type='text'>Misi Gerakan : Review "Dari Gerakan ke Negara"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-hD3_V6zwpR4/Tq4DWZRUjsI/AAAAAAAAAdI/jO-bR7Q-2VE/s1600/hijrah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 130px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-hD3_V6zwpR4/Tq4DWZRUjsI/AAAAAAAAAdI/jO-bR7Q-2VE/s200/hijrah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669472664181575362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu artikel dengan judul “Dari Gerakan ke Negara” yang ditulis oleh tokoh terkemuka di kalangan pergerakan islam ini menyajikan satu pandangan yang komprehensif dan meninjaunya secara historis maupun  secara kekinian (kontemporer). Kurang lebih apa yang kemudian Anis Matta, penulis artikel ini, kemukakan ialah pada evolusi gerakan yang mentransformasikan ‘dirinya’ menjadi suatu negara dimana wilayah kerja, system, dan manusia yang terlibat sudah mencapai skala yang lebih besar dan kompleks. Semakin meluas wilayah yang diaturnya, semakin kompleks system yang dibangunnya dan tuntutan manusia sebagai ‘material dasar’ masyarakat yang memiliki kapasitas yang besar dan dalam jumlah yang tidak sedikit.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kajian sejarah islam, sejarah hidup Rasulullah saw (sirah nabawiyah) menunjukkan satu peristiwa yang menjadikannya salah satu referensi dalam menentukan format seperti apa negara dalam konteks kehidupan abad modern saat ini. Bahwa asal muasal ‘negara Madinah’ bermula dari misi gerakan penyebaran nilai-nilai yang sama sekali baru saat itu di kalangan Quraisy Mekkah. Bahwa yang disebut Anis Matta, bahwa ‘sebuah agama telah menemukan orang-orangnya’ menunjukkan peristiwa pemberian beban membangun ‘peradaban’ dengan nilai tersebut, yang dalam hal ini Islam, kepada Muhammad saw dan para sahabatnya. Dan membangun gerakan dalam hal ini adalah langkah awal mereka ‘menancapkan bangunan peradaban mereka’, kata Anis Matta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kita bisa menyerap satu kaidah sederhana, bahwa dalam misi gerakan apapun dimana misi itu merupakan misi penyebaran nilai, Islam misalnya, yang menjadi primer adalah membangun ‘ manusia peradaban yang beradab’, sebab tanah atau territorial sebagai syarat diakuinya sebuah komunitas yang menyatakan dirinya sebagai entittas politik, menjadi soal yang sekunder. Apa sebab? Sebab ia tidak lebih sebagai alat atau media tepatnya, yang mengantarkan ‘manusia-manusia peradaban’ mengaktualisasikan nilai-nilai yang diembannya dan untuk dijadikan sarana kolektif dalam bergerak. Hal ini secara eksplisit terangkum dalam hijrah Rasulullah saw dan para sahabat yang menyelamatkan keimanannya dari gangguan kafirin Mekkah ke Madinah setelah beberapa sahabat yang juga hijrah ke Habasyah terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bukti yang menunjukkan Rasulullah membangun sebuah negara, dan Madinah sebagai wilayahnya ialah dengan melakukan sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para pendiri-pendiri negara. Yakni yang pertama adalah membangun insfrastruktur dengan masjid sebagai basis pemerintahan utama dan sebagai symbol ‘mercusuar’ pemersatu masyarakat madinah yang dihuni kaum muhajirin dan anshor. Kedua., dalam istilah Anis Matta, membangun kohesi sosial dimana mempersaudarakan antara kaum muhajirin Mekkah dengan kaum anshor penduduk asli Madinah. Ketiga, menyepakati satu kesepakatan bersama untuk hidup secara harmonis di tengah masyarakat yang pluralistic dengan membuat Piagam Madinah. Keempat, merancang system pertahanan negara, dengan konsep Jihad fii sabilillah sebagai konsepsi pertahanan terbaik saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, satu kesimpulan yang perlu dipahami dalam misi membangun peradaban islam di masa mendatang ialah, diperlukan satu media atau alat yang mengantarkan muslimin dalam bergerak secara kolektif dan memiliki kekuatan yang massif. Dimana bahan dasar perdaban itu ialah negara, maka urgensi menetapkan negara sebagai media tersebut sangatlah penting. Namun, dalam hal format negara seperti apa negara itu diorganisasikan, itu menjadi suatu hal yang sangat fleksibel. Karena secara nash tidak ada syariat yang menetapkan seperti apa negara itu diorganisasikan. Karena dalam sejarah islam pun peradaban islam telah mengalami fleksibilitas format peradaban atau negara itu sendiri yang menjadi basis aktualisasi islam untuk diterapkan dan disebarkan. Dari kepemimpinan Rasulullah di Madinah, para sahabat Khulafaurrasyidin dengan kekhalifahannya, hingga dinasti – dinasti islam dengan kerajaannya sebelum keruntuhannya. Maka dengan demikian, yang perlu menjadi pertimbangan utama dalam menentukan format peradaban islam masa depan ialah perlunya memperhatikan situasi sosial masyarakat dunia saat ini, di abad modern ini. begitu. Waallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-4083096538064050421?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/4083096538064050421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/misi-gerakan-review-dari-gerakan-ke.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/4083096538064050421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/4083096538064050421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/misi-gerakan-review-dari-gerakan-ke.html' title='Misi Gerakan : Review &quot;Dari Gerakan ke Negara&quot;'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-hD3_V6zwpR4/Tq4DWZRUjsI/AAAAAAAAAdI/jO-bR7Q-2VE/s72-c/hijrah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-2506172535165916439</id><published>2011-10-30T07:42:00.000-07:00</published><updated>2011-10-30T07:45:02.386-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internasional'/><title type='text'>HACHIKO</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-SPcht7_ynCM/Tq1isXdI-4I/AAAAAAAAAc8/cImQKVGIbtg/s1600/puppy_hachiko_by_oleghka-d2zh4zx.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-SPcht7_ynCM/Tq1isXdI-4I/AAAAAAAAAc8/cImQKVGIbtg/s200/puppy_hachiko_by_oleghka-d2zh4zx.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669296020279327618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lahir 10 November 1923 dari induk bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Ōshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saitō dari kota Ōdate, Prefektur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Ōdate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburō Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Di rumah keluarga Ueno yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John. Sekarang, lokasi bekas rumah keluarga Ueno diperkirakan di dekat gedung Tokyo Department Store sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah meninggal. Ditemani John dan S, ia pergi juga ke stasiun untuk menjemput majikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib malang ikut menimpa Hachi karena Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno. Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan John dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memiliki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi meloncat-loncat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan di rumah seorang kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya, Hachi dititipkan ke rumah putri angkat Profesor Ueno di Setayaga. Namun Hachi suka bermain di ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1932, kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul Itoshiya rōken monogatari ("Kisah Anjing Tua yang Tercinta"). Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran kō (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachikō.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun 1933, kenalan Saitō, seorang pematung bernama Teru Andō tersentuh dengan kisah Hachikō. Andō ingin membuat patung Hachikō. Setiap hari, Hachikō dibawa berkunjung ke studio milik Andō untuk berpose sebagai model. Andō berusaha mendahului laki-laki berumur yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachikō. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachikō untuk keuntungan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Andō selesai menulis proposal untuk mendirikan patung Hachikō, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 Maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachikō.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patung perunggu Hachikō akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachikō bersama sekitar 300 hadirin. Andō juga membuat patung lain Hachikō yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kōjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachikō, 13 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachikō biasanya tidak pernah pergi ke sana. Berdasarkan otopsi diketahui penyebab kematiannya adalah filariasis.&lt;br /&gt;Opset tubuh Hachikō di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Tokyo&lt;br /&gt;Tempat pemakaman Profesor Ueno dan Hachikō&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara perpisahan dengan Hachikō dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda almarhum Profesor Ueno, pasangan suami istri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myōyū-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachikō berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Hachikō dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachikō diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.&lt;br /&gt;Patung Hachikō di depan Stasiun Ōdate&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 8 Juli 1935, patung Hachikō didirikan di kota kelahiran Hachikō di Ōdate. tepatnya di depan Stasiun Ōdate. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachikō di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachikō dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah On o wasureruna (Balas Budi Jangan Dilupakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1944, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, patung perunggu Hachikō ikut dilebur untuk keperluan perang. Patung pengganti yang sekarang berada di Shibuya adalah patung yang selesai dibuat bulan Agustus 1948. Patung tersebut merupakan karya pematung Takeshi Andō, anak laki-laki Teru Andō.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu keluar Stasiun JR Shibuya yang berdekatan dengan patung Hachikō disebut Pintu Keluar Hachikō. Sewaktu didirikan kembali tahun 1948, patung Hachikō diletakkan di bagian tengah halaman stasiun menghadap ke utara. Namun setelah dilakukan proyek perluasan halaman stasiun pada bulan Mei 1989, patung Hachikō dipindah ke tempatnya yang sekarang dan menghadap ke timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film Hachikō Monogatari karya sutradara Seijirō Kōyama mulai diputar di Jepang, Oktober 1987. Pada bulan berikutnya diresmikan patung Hachikō di kota kelahirannya, Ōdate. Monumen peringatan ulang tahun Hachikō ke-80 didirikan 12 Oktober 2003 di lokasi rumah kelahiran Hachikō di Ōdate. Sebuah drama spesial tentang Hachikō ditayangkan jaringan televisi Nippon Television pada tahun 2006. Drama sepanjang dua jam tersebut diberi judul Densetsu no Akitaken Hachi (Legenda Hachi si Anjing Akita). Pada tahun 2009 film Hachiko: A Dog's Story[1] karya sutradara Lasse Hallström mulai diputar dan dibintangi oleh Richard Gere dan Joan Allen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber ; http://id.wikipedia.org/wiki/Hachik%C5%8D&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-2506172535165916439?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/2506172535165916439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/hachiko.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/2506172535165916439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/2506172535165916439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/hachiko.html' title='HACHIKO'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-SPcht7_ynCM/Tq1isXdI-4I/AAAAAAAAAc8/cImQKVGIbtg/s72-c/puppy_hachiko_by_oleghka-d2zh4zx.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-8280736099702840257</id><published>2011-10-27T03:08:00.000-07:00</published><updated>2011-10-30T07:32:26.818-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Society'/><title type='text'>Kewarganegaraan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-jQC4_nD-So0/TqkuWK7FkRI/AAAAAAAAAcY/X0Qsto1A_uw/s1600/indonesia1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 162px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-jQC4_nD-So0/TqkuWK7FkRI/AAAAAAAAAcY/X0Qsto1A_uw/s200/indonesia1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5668112564446662930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} table.MsoTableGrid  {mso-style-name:"Table Grid";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  border:solid black 1.0pt;  mso-border-alt:solid black .5pt;  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-border-insideh:.5pt solid black;  mso-border-insidev:.5pt solid black;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;Dalam kehidupan umat manusia ada tiga setidaknya unsur yang mendinamisasi tatanan sosial, yang pertama adalah negara, dalam hal ini adalah pemerintahan yang sah, kedua pasar, dan yang ketiga dalah rakyat. Ketiga-tiganya adalah unsure penting yang menentukan nasibnya masing-masing, dan saling mempengaruhi satu sama lain. Jangan sampai pada dinamika yang bersifat mutually exclusive, dimana terfokus pada salah satu maka mendestruksi yang lainnya. Hal demikian memang tidak mungkin, namun ternafikan salah satunya boleh jadi bisa terjadi. Jika itu tadi, apabila hanya memfokuskan pada salah satu unsur saja.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara spesifik kali ini akan dibahas salah satu dari ketiga unsure tersebut. Yakni rakyat. Yang dalam terminology bernegara bisa kita sebut kewarganegaraan. Kalau kewarganegaraan atau warga negara itu sendiri didefinisikan dengan orang-orang sebagai bagian dari suatu penduduk yang menjadi unsure negara, maka istilah ini tidak lain adalah sebentuk hamba negara,  sebagaimana dahulu terdapat istilah kawula negara. Dalam artian orang-orang yang mengabdikan dirinya kepada negara. Terbatasi sebagian hak-haknya karena sudah diserahkan kepada negara untuk dipersamakan dengan warga lainnya. Menjadi sama di mata hukum, tanggungjawab, dan sebagian sebagian privasi misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menentukan kewarganegaraan seseorang terdapat 2 (dua) cara yang current  digunakan abad modern saat ini. yakni dapat terjadi dari sisi tempat kelahiran (sering disebut ius soli) dan yang lainnya dari sisi keturunan (ius sanguinis). Usnur kewarganegaraan yang berasal dari sisi tempat kelahiran jelas terjadi karena seseorang yang dilahirkan di wilayah suatu negara, maka dengan demikian ia menjadi warga negara setempat. Mendapatkan hak-haknya dan menanggung kewajiban-kewajibannya kepada negara. Sedang dari sisi keturunan, terjadi karena orangtua yang melahirkanya, maka seseorang yang lahir mendapatkan kewarganegaraan sebagaimana kewarganegaraan orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal penentuan asal mula kewarganegaraan bagi seseorang itu sebenarnya persoalan yang sekunder. Sebab yang primer adalah kepastian atas hak-hak kemanusiaan seseorang yang secara kodrati terbawa sejak ia lahir harus dipenuhi oleh negara. Tidak merusak hak kodrati dengan memberikan kewajiban yang diluar kemampuannya sebagai manusia yang juga memiliki hak kemanusiaan. Sehingga, dimanapun ia lahir, dan oleh siapa ia dilahirkan, maka negara memiliki kewajiban memelihara hak-hak warga negaranya yang paling asasi agar tidak menyebabkan cacat pada kemanusiaan seutuhnya. Agar pula dengan demikian, dimanapun seseorang berada, di wilayah manapun, terjamin kelangsungan hidupnya yang tenteram, damai, adil dan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-8280736099702840257?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/8280736099702840257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/negara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/8280736099702840257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/8280736099702840257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/negara.html' title='Kewarganegaraan'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-jQC4_nD-So0/TqkuWK7FkRI/AAAAAAAAAcY/X0Qsto1A_uw/s72-c/indonesia1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-6060210139856870207</id><published>2011-10-16T08:03:00.000-07:00</published><updated>2011-10-16T08:29:23.553-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Cinta Harus Sebentuk Kesolehan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-dW4BojNWlGo/Tpry0bAZuJI/AAAAAAAAAcM/Sw4q3Im8-VY/s1600/sujud3.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-dW4BojNWlGo/Tpry0bAZuJI/AAAAAAAAAcM/Sw4q3Im8-VY/s200/sujud3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664106463788382354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada ragam ujian yang hadir dalam hidup kita, senyata-nyatanya membuat diri sering termenung yang semakin hari semakin bertambah-tambah. Berkatalah nurani, ujian macam apalagi kali ini yang membuat dada sesak, jiwa bergejolak, perasaan terguncang, pikiran tersita dan gemuruh di sekujur akhirnya. Sambil tangan ini lihai mengusap-usap dada, padahal boleh jadi ia tidak mengurangi kegundahan sedikitpun. Ia hanya sebentuk isyarat, betapa ujian ini sudah cukup meyakinkan diri bahwa ujian ini sangat berat.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; sebab cinta juga ujian juga sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mau secara spesifik membicarakan apa yang kemudian menjadi sesuatu yang dianggap ujian bagi kemanusiaan. Yakni tentang apa yang disebut cinta. Tema yang tidak pernah usai cerita-cerita kedahsyatannya sepanjang zaman. Sejak ketersendirian Nabi adam as yang terasa tidak nyaman meski di syurga. Sendiri. Akhirnya Allah ciptakan manusia pada bentuk yang lain dari jenisnya sendiri, dari tulang rusuknya. Terciptalah Hawa. Sebagai pelengkap atas ketersendirian Adam di syurga. Sampai cinta itu juga turun ke bumi. Tempat dimana cinta dikontestasikan umat manusia sebagai bagian terkecil dari cinta hakikat yang jadi asal muasalnya, Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai disitu. Atas nama cinta itu pulalah kemanusiaan itu ada. Sampai saat ini. pada serial-serial tertentu, cinta menunjukkan kedahsyatannya sebagai bentuk penghambaan diri pada pemilik hakikat cinta, Allah. Sebut saja pada serial Adam dan Hawa. Pada serial lainnya, adalah Muhammad saw dan Khadijah, atau juga Ali bin abi Thalib dan Fatimah az Zahra. Yang kesemua cerita-cerita itu tersingkap definisi cinta yang kini diteladani banyak muslim yang komitmen terhadap keislamannya. Dan cinta menjadi dahsyat ketika ia adalah sebentuk penghambaan diri kepada Allah. Bukan mencintai orang lain atau dalam hal ini mencintai lawan jenis, lantas denganya mencintai Allah. Bukan. Bukan demikian. Tapi karena kita mencintai Allah sebenar-benarnya, dengan demikian kita punya sedikit cinta dengan definisi yang tepat yang kita curahkan pada orang lain. Jadi, kaidah sederhananya adalah jika ada cinta yang kemudian disana tidak menambah kecintaan diri kepada Allah, maka cinta berada pada wilayah definisi yang salah. Oleh sebab sebenarnya kita sepatutnya menyisihkan beberapa cinta yang kita ‘curi’ dari langit untuk disemai di hati orang lain yang dengan keyakinan diri bahwa semaian cinta itu akan tumbuh benih cinta juga akhirnya. Lalu pada hubungan kemanusiaan di dunia ini jika saling mencintai, tidak lain akan lahir juga buah cinta sebagaimana cinta itu menghasilkan buahnya sendiri, yakni memberikan kedamaian, ketenteraman, dan kesalingtergantungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda mengkonotasikan cinta adalah sebentuk sikap saling kasih mengasihi antara laki-laki dan perempuan, itu terlalu sempit. Sedang Anda dihadapkan pada tuntutan untuk mampu mencintai dalam ragam yang lain untuk apa saja. Tapi kalau-kalau nyatanya demikian situasi kekiniannya, maka izinkan saya mendefinisikannya juga. Bahwa cinta yang bermula dari jiwa, ia harus berangkat dari hasil pengembaraan cinta kita kepada Allah SWT. Mencintai Allah dengan sungguh-sungguh, semakin menambah taat kepadaNya, dan tawakal pada tiap putusanNya. Lalu atas dasar itulah kita bisa mencintai orang lain dengan tetap membawa komitmen ketaatan. Maka, cinta dengan demikian tidak boleh kurang dari syarat-syarat kesolehan seseorang. Sebagaimana soleh itu didefinisikan, cinta pula harus memenuhi segala definisi dan syarat soleh itu sendiri. Berarti cinta itu, tidak lain adalah sebentuk pemberian, perhatian, empati dan kepedulian. Bukan penguasaan, memaksa kepemilikan, apalagi dengan bentuk kemaksiatan. Kesemuanya adalah pada sikap mencurahkan apa yang bisa kita berikan pada orang yang sudah kita tentukan secara spesifik untuk kita cintai dengan bentuk yang lain dari yang lain. Dan bagian dari sikap-sikap kesolehan itu tadi tidak lain menjadi perantaraan kita mengharapkan keridhoan Allah SWT. Dengan tetap menjaga batas-batas kita tidak menafikan cinta pada ragam lainnya. Jadi tepatnya harus proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, kalau Anda mengkonotasikan cinta itu hanya pada saling kasih mengasihi dua insan, maka perbaiki definisi cinta Anda dalam hal ini dengan ukuran-ukuran yang hakikat. Yakni apakah dengan Anda mencintai siapa saja, maka dengannya Anda semakin mengingat Allah, Syurga dan Kematian? Yang ukuran ini adalah ukuran paling hakikat dari cinta yang telah dianugerahkan kepada kemanusiaan. Di bumi. Semoga saja demikian bagi Anda. Dan kekhawatirannya adalah, bahwa apakah kelak cinta benar-benar menuntun siapa saja pada kesejatian hidup yang memuarakan kehidupan pada kematian, lalu ke syurga, setelah itu melihat Allah, bersama orang yang kita cintai. Namun seharusnya, biar kita saja yang memberi jawaban atas kekhawatiran bagi orang yang mencintai kita kelak jika ia sama-sama mengkhawatirkan demikian. Karena cinta adalah harus sebentuk dengan kesolehan. Maka, Saya, Anda dan kita semua, akan punya cinta dengan definisi yang tepat jika kita punya kesolehan. Itu saja. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-6060210139856870207?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/6060210139856870207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/cinta-harus-sebentuk-kesolehan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/6060210139856870207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/6060210139856870207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/cinta-harus-sebentuk-kesolehan.html' title='Cinta Harus Sebentuk Kesolehan'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-dW4BojNWlGo/Tpry0bAZuJI/AAAAAAAAAcM/Sw4q3Im8-VY/s72-c/sujud3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-3132940230563099201</id><published>2011-10-09T02:31:00.000-07:00</published><updated>2011-10-09T02:35:47.566-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Politics'/><title type='text'>Negara ; Tinjauan Kritis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-n2KEmznLi7E/TpFqqw_DknI/AAAAAAAAAcE/OLHdSnVrk3M/s1600/001.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-n2KEmznLi7E/TpFqqw_DknI/AAAAAAAAAcE/OLHdSnVrk3M/s200/001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661423489517851250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 10"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Clea01%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face  {font-family:"Gill Sans MT";  panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-alt:"Century Gothic";  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin-top:0cm;  margin-right:0cm;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:595.45pt 841.7pt;  margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";} table.MsoTableGrid  {mso-style-name:"Table Grid";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  border:solid black 1.0pt;  mso-border-alt:solid black .5pt;  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-border-insideh:.5pt solid black;  mso-border-insidev:.5pt solid black;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dari pengertian secara terminology negara dapat diartikan dengan oganisasi tertinggi diantara satu kelompok masyarakat yang mempunyai cita-cita untuk bersatu, hidup di dalam daerah tertentu dan mempunyai pemerintahan yang berdaulat. Menyerap dari pengertian itulah maka apa yang disebut negara ialah harus memenuhi unsur wilayah sebagai teritori kekuasaannya, rakyat sebagai komunitas yang sepakat untuk hidup di wilayah tersebut, dan memiliki pemerintahan yang sah juga diakui di dalam dan di luar negeri. Beragam tokoh sampai saat inipun banyak mendefinisikan apa itu negara. Diantara tokoh klasik yang mendefiniskan negara ialah sebagai berikut :&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div align="center"&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border-collapse: collapse; border: medium none;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 225.7pt; border: 1pt solid black; padding: 0cm 5.4pt;" valign="top" width="301"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;1. Roger H   Soltau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 228.45pt; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; border-style: solid solid solid none;" valign="top" width="305"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;sebagai   alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau mengendalikan   persoalan-persoalan bersama atas nama rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 225.7pt; border-width: medium 1pt 1pt; border-style: none solid solid;" valign="top" width="301"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;2. Harold   J Laski&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 228.45pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none;" valign="top" width="305"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;negara   merupakan suatu masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang   bersifat memaksa dan yang secara dah lebih agung daripada individu atau   kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 225.7pt; border-width: medium 1pt 1pt; border-style: none solid solid;" valign="top" width="301"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;3. Max   Weber&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 228.45pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none;" valign="top" width="305"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;negara   adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan   fisik secara sah dalam suatu wilayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="width: 225.7pt; border-width: medium 1pt 1pt; border-style: none solid solid;" valign="top" width="301"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;4. Robert   M Mac. Iver&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 228.45pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none;" valign="top" width="305"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Negara   diartikan dengan asosiasi yang menyelenggarakan penertiban di dalam suatu   masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan system hokum yang   diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang untuk maksud tersebut diberikan   kekuasaan memaksa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mengamati dari beberapa teori negara menurut tokoh-tokoh di atas tidak lain adalah karena masing-masing memiliki pandangannya sendiri mengenai keadaan alamiah manusia yang biasanya disebut sebagai masyarakat atau komunitas pranegara (sebelum bernegara). Apabila kondisi manusia pranegara atau kondisi alamiah diasumsikan pada situasi ketidakteraturan, penuh dengan konflik antar manusia, dan kecenderungan saling membunuh untuk mengejar kekuasaan bagi seseorang atau sebagiannya atas sebagian yang lain, maka kurang lebih negara dianggap identik dengan hak kekerasan fisik yang sah secara monopolistic. Lain lagi dengan kondisi pra negara atau situasi natural tanpa negara yang menganggap bahwa situasi antar manusia memiliki kecenderungan untuk berkumpul, saling membutuhkan, dan memiliki tujuan yang sama, maka kurang lebih negara dengan demikian sebagai kumpulan masyarakat atau asosiasi atau semacamnya yang mengatur penertiban umum di dalam suatu masyarakat untuk menjamin interaksi alamiah tersebut menjadi lebih kondusif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Selain yang menjadi mengapa terlalu beragam definsi negara itu sendiri, tujuan bernegara pun tidak luput dari perbedaan-perbedaan menyolok yang mungkin saja dapat saling mendestruksi tujuan satu dengan tujuan yang lain. Perbedaan-perbedaan tujuan negara sama halnya dengan perbedaan definisi negara, yakni karena dipengaruhi pandangannya terhadap dunia dan kehidupan manusia. Bagi yang memahami bahwa kehidupan di dunia tidak lain selalu diidentikkan dengan yang materilaistik, maka tujuan negara baginya adalah untuk mencapai segala manfaat-manfaat yang bersifat material dan rasional menurut akal. Pada kutub ekstrem yang lain, jika pandangan akan kehidupan ini sebagai karunia dari Tuhan, maka tujuan negara dapat kita simpulkan bahwa ia ditujukan sebagai alat untuk mengejawantahkan norma-norma dari Tuhan di dunia, sebagai ruang sebentuk aktualisasi ibadah kepada Tuhan, dan mewujudkan apa yang Tuhan inginkan dalam kalam-kalamnya bagi manusia dan kehidupan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Persoalan hubungan antara negara dengan agama yang hingga saat ini belum menemukan titik temu yang final dan permanen, tidak lebih karena memang persoalan itu tadi. Yakni persoalan pada ragamnya pandangan manusia terhadap kehidupan itu sendiri (world view) sehingga sampai kapanpun memang tidak akan pernah bertemu apa yang disebut kesepakatan. Tapi bagi seorang muslim yang memahami bahwa kehidupan ini tidak lebih upaya-upaya memaksimalkan ibadah kepada Allah, maka negara dalam hal ini pun lebih tepat dianggap dan mutlak sebagai alat untuk menginternalisasikan nilai-nilai islam dalam kehidupan individu, masyarakat, dan interaksi sosial, ekonomi, politik dalam suatu negara. Dimana jika suatu masyarakat yang diberi kekuasaan oleh Allah di bumi, maka ia memakmurkannya dan memeliharanya. Sebagaimana ayat Allah dalam Al Qur’an Surat Al Hajj ayat 41 &lt;i style=""&gt;“Yaitu orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan kepada Allahlah kembali segala urusan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-3132940230563099201?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/3132940230563099201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/normal-0-microsoftinternetexplorer4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/3132940230563099201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/3132940230563099201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/normal-0-microsoftinternetexplorer4.html' title='Negara ; Tinjauan Kritis'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-n2KEmznLi7E/TpFqqw_DknI/AAAAAAAAAcE/OLHdSnVrk3M/s72-c/001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-6245412751063512260</id><published>2011-10-09T02:27:00.000-07:00</published><updated>2011-10-09T02:31:49.208-07:00</updated><title type='text'>Identitas Nasional ; Review Kritis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-8pMUxTuVCnk/TpFpiJQC05I/AAAAAAAAAb8/7IZtRYoUQSs/s1600/hh.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 141px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-8pMUxTuVCnk/TpFpiJQC05I/AAAAAAAAAb8/7IZtRYoUQSs/s200/hh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661422241901106066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Saya ingin menyampaikan kepada Anda mengenai hal yang sering menjadi perbincangan bagi warga bangsa pada tiap kali disebutkan mengenai negaranya. Apa yang kemudian menjadi semacam ‘kata kunci’ pemersatu individu yang memiliki latar belakang suku, budaya, agama, dan etika norma yang beragam. Seringnya pada kutub salah satu kutub ekstrem lebih diistilahkan sebagai ideology individu yang berkenaan dengan negaranya. Dalam konteks ke-Indonesia-an kita mengenal istilah nasionalisme sebagai ‘alat’ untuk menyatukan dari ragam perbedaan identitas individu yang kodrati. Dalam latar yang lain ia (nasionalisme) adalah buah pemikiran pendiri bangsa Indonesia pasca penjajahaan setelah negara ini beratus-ratus tahun di jajah kolonialime. Oleh sebab semangat nasionalisme-lah, menurut para pendiri bangsa, yang menjadi semangat perlawanan tersebut. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dan dengan demikian ia layak menjadi satu-satunya ‘ideologi’ bangsa yang mencirikan kesatuan Indonesia, menurutnya. Tapi mari perhatikan definisi yang menjadi rincian atas nasionalisme, bahwa nasionalisme dapat dikatakan sebagai sebuah situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total diabdikan langsung kepada negara bangsa atas nama sebuah bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan definisi nasionalisme macam demikian, bahwa ia merupakan situasi kejiwaan, yang secara implisit mengisyaratkan adanya ‘suasana batin’ individu, maka tidak lain adalah sebentuk kesadaran diri yang bersifat ‘privat’ dan terinternalisasi dalam paradigma berpikirnya. Kemudian, pada potongan lain kalimat tersebut ‘dimana kesetiaan seseorang secara total diabdikan’ juga menginterpretasikan bahwa segala sikap hidup, tujuan hidup, pengorbanan, dan loyalitas ditujukan kepada negara secara total. Hal ini sangat fatal apabila sebagai seorang muslim menyetujui landasan bernegara yang sebenarnya mirip-mirip dengan ideology individu itu sendiri. Semacam tandingan penghambaan diri kepada Allah yang seharusnya tidak ada sekutu apapun bagi Allah sebagai Tuhan yang Esa. Sebagaimana al wala (loyalitas) secara mutlak dan total hanya diperkenankan kepada Allah SWT sebagaimana firmannya dalam QS Al Baqarah ayat 165 “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-6245412751063512260?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/6245412751063512260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/identitas-nasional-review-kritis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/6245412751063512260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/6245412751063512260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/identitas-nasional-review-kritis.html' title='Identitas Nasional ; Review Kritis'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-8pMUxTuVCnk/TpFpiJQC05I/AAAAAAAAAb8/7IZtRYoUQSs/s72-c/hh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-4006248903632414112</id><published>2011-10-03T19:29:00.000-07:00</published><updated>2011-10-03T19:32:07.395-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Society'/><title type='text'>Identitas Nasional ; Review Teoritis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-nEC6La_Bmc0/TopwHjS_ZaI/AAAAAAAAAb0/Vn8QMOXuYig/s1600/untitled.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 176px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-nEC6La_Bmc0/TopwHjS_ZaI/AAAAAAAAAb0/Vn8QMOXuYig/s200/untitled.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659459156780737954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nasionalisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjaga warga negara dari dinamika bernegara yang berpotensi menimbulkan konflik-konflik sosial, ragam permasalahan warga bangsa, bisa diatasi dengan mereorientasikan semangat persamaan identitas nasional sebagai identitas kolektif yang menyatukan antar individu di seluruh nusantara. Dalam pengertian identitas nasional yang bersifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas sendiri, atau negara sendiri, menandakan bahwa perangkat bernegara ini sangat urgen disadari oleh masing-masing warga negara. Oleh sebab apa yang kemudian menjadi landasan interaksi sosial kemasyarakatan suatu tuntutan bahwa landasan tersebut harus merepresentasikan ‘kesamaan identitas sosial’ warga meskipun di tengah ragam suku, budaya, bahasa, dan etik. Adapun unsure-unsur pembentuk identitas nasional ialah terdiri dari suku bangsa, agama, kebudayaan, dan bahasa.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urgensi dari kesadaran akan identitas nasional itulah sebenarnya demi menjaga keharmonisan sosial dan secara ideal menumbuhkan semangat idealisme nasional yang sering disebut nasionalisme. Nasionalisme yang dijadikan sebuah kesepakatan semacam idealisme bangsa pasca penjajahan dimunculkan sebagai alternatif dari salah satu identitas nasional yang merupakan asas dasar bernegara. Founding father bangsa Indonesia memang mengharapkan nasionalisme sebagai ideology bersama bangsa Indonesia. Hanya saja dalam konstelasi politik pasca penjajahan para pendiri bangsa larut dalam perdebatan tentang ideology dasar apa yang cocok menjadi ideology bangsa Indonesia. Bahwa keragaman paham yang masing-masing pendiri bawa sedikitnya mempengaruhi dari luputnya upaya mencari persamaan atas segala perbedaan tersebut. Sebut saja tiga pemikiran besar  yang menjadi bahan perdebatan para perumus dasar negara Indonesia, yakni Islam, Marxisme dan Nasionalisme Indonesia. Namun demikian, sebenarnya kesepahaman sudah terjadi pada perlunya konsepsi nasionalisme Indonesia merdeka, hanya saja hal demikian tetap tidak memangkas panjangnya perdebatan tentang watak bersama bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nasionalisme dan dan Integrasi Nasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas usai para perumus konsepsi dasar negara Indonesia yang panjang dan mengalami ragam dinamikanya, maka disepakati olehnya, yang dirumuskan dalam Undang – Undang Dasar 1945 mengenai ciri-ciri nasionalisme dan beberapa turunannya. Yaitu pertama, konsep negara bangsa. Dimana negara bangsa yang dimaksud ialah apabila telah terpenuhinya syarat pokok diantara adanya batas-batas territorial wilayah yang definitif, adanya pemerintahan yang sah dan, adanya pemerintahan yang diakui oleh negara lain. Kedua, adanya definsi yang jelas apa yang disebut sebagai warga negara. Merujuk pada amandemen UUD 1945 BAB X, bahwa yang dimaksud dengan warga negara ialah “Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia.” Ketiga, ialah adanya dasar negara. Yaitu pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu yang masih menjadi upaya bersama bangsa Indonesia sampai saat ini adalah bagaimana orientasi integrasi nasional yang sebenar-benarnya demi menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Terlepas dari berbagai orientasi , asas, dan pemahaman integrasi nasional tersebut yang jauh lebih penting ialah bahwa semangat persatuan dan kesatuan antar warga bangsa, dengan menyadarinya dari identitas diri yang terintegrasi menjadi identitas nasional. Sehingga tidak ada latar apapun yang menjadi alasan saling bertikai dan saling berkeinginan untuk berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-4006248903632414112?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/4006248903632414112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/identitas-nasional-review-teoritis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/4006248903632414112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/4006248903632414112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/10/identitas-nasional-review-teoritis.html' title='Identitas Nasional ; Review Teoritis'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-nEC6La_Bmc0/TopwHjS_ZaI/AAAAAAAAAb0/Vn8QMOXuYig/s72-c/untitled.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-3729285463850827407</id><published>2011-09-29T23:00:00.000-07:00</published><updated>2011-09-29T23:07:00.027-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Economic'/><title type='text'>Beyond Accounting &amp; Accountant</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-8Sa-OlP3lZ4/ToVcZNaspLI/AAAAAAAAAbs/tmf8P07x_Yw/s1600/Akuntansi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 173px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-8Sa-OlP3lZ4/ToVcZNaspLI/AAAAAAAAAbs/tmf8P07x_Yw/s200/Akuntansi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658030095029019826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam peran akuntansi sebagai fungsi fasilitas pengambilan keputusan (decision making facilitating function) bagi yang berkepentingan (stakeholders) terhadap kinerja keuangan manajemen suatu perusahaan terutama yang dianggap oleh barat lebih khusus ditujukan kepada para investor dan kreditor, bertahun-tahun semakin surut dari kepercayaan masyarakat pengguna laporan keuangan. Di Amerika sendiri, sebagai kiblat perkembangan dan konsepsi akuntansi keuangan tak luput dari ‘krisis akuntansi’ ini. Lebih tepatnya ialah merosotnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap ilmu akuntansi yang menghasilkan output berupa laporan kinerja keuangan entitas bisnis terutama dan profesi akuntan itu sendiri. Apa sebab, bahwa sudah terjadi berkali-kali skandal rekayasa akuntansi yang merugikan public (pembaca laporan keuangan) karena menyajikan laporan keuangan yang fiktif pada beberapa pos-pos laporan keuangan. Menurut Albrect, 2003, menyatakan bahwa tingkat korupsi di Amerika per tahun mencapai 6% dari tiap total omzet perusahaan atau mencapai lebih dari US$ 400 billion. Yang sebagian besarnya dilakukan dengan cara rekayasa akuntansi. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kasus World Com yang menyembunyikan dana mencapai US$ 3,85 milyar juga dilakukan dengan rekayasa akuntansi. Kemudian skandal Enron Corporation, Merch menipu angka laba US$ 14 milyar, Adelphia Corp, Xerox Corp, melakukan kesalahan pembukuan US$ 6 milyar. Perusahaan entertain sekelas Walt Disney Corp juga melaukan over statement laba sebesar US$ 255 juta, AOL sebesar US$ 3,57 milyar, Vivendi Universal menipu sebesar US$ 1,5 milyar. (Republika, 27 Sept 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis akuntansi yang terjadi dalam dunia bisnis ekonomi terbukti dengan tidak dijadikannya akuntansi sebagai alat pengambilan keputusan yang utama bagi pengguna laporan keuangan, misalnya bagi investor, kreditor, dan public. Hal ini disebabkan akuntansi tidak menggambarkan secara rinci kinerja perusahaan yang merepresentasikan kebenaran dan bebasnya dari penipuan yang terjadi di dalam manajemen perusahaan. Tidak dijadikannya akuntansi sebagai informasi utama dalam pengambilan keputusan ini mengundang banyak pendapat dari pakar-pakar dari kalangan mereka sendiri. Mencoba menawarkan wacana baru dalam ilmu akuntansi dan pertimbangan-pertimbangan lain untuk kemajuan ilmu akuntansi yang lebih mempertanggungjawabkan kinerja keuangan perusahaan dengan nilai-nilai keluhuran sosial masyarakat. Sejalan dengan hal ini Professor Lee D. Parker, dari University of Adelaide, South Australia menyatakan bahwa akuntansi konvensional harus disempurnakan dengan menambah media, pertama, penilaian terhadap efisiensi manajemen. Kedua, pengungkapan terhadap kecurangan manajemen. Ketiga, penjelasan mengenai budget atau rencana kerja. Keempat, akuntasi harus semakin menghilangkan unsure alokasi dan akuntansi harus lebih scientific. Kelima, akuntansi harus menyajikan informasi yang relevan, tidak hanya informasi kuantitatif tetapi juga kualitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik tajam ialah pada perlakuan atas laba, atau dikenal dengan istilah manajemen laba (earning management).Selain mengkritisi dari segi ilmu akuntansinya, kritik juga tertuju kepada profesi akuntan. Sebab dalam hal ini unsur-unsur etika di kalangan mereka semakin longgar. Sebab akuntansi itu sendiri yang bebas nilai, maka kritik atas ilmu akuntansi juga dipengaruhi oleh perilaku akuntan, yang juga dipengaruhi oleh pihak yang berkepentingan dengan laporan keuangan. Pada pendapat ekstrem lainnya, akuntansi melalui profesi akuntan sangat rentan terhadap ‘pesanan’ penyajian laporan keuangan yang menguntungkan pihak berkepentingan dan merugikan public secara umum. Hal demikian membawa pada opini masyarakat yang menyatakan bahwa profesi akuntan tidak luput dari krisis akuntansi. Oleh sebab tuntutan masyarakat yang mengharapkan adanya kejujuran dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari keberpihakan terhadap informasi public yang terpercaya. Harapan hadirnya profesi akuntan yang lebih jujur, beretika, dan independen adalah bagian dari upaya mengembalikan citra akuntansi di mata public agar akuntansi kembali dipercaya dan dapat menjadi alat pengambil keputusan ekonomi yang utama dengan tidak menyesatkan user laporan keuangan.&lt;br /&gt;Maka dengan demikian, semacam ‘reformasi akuntansi’ mesti diwacanakan dan diwujudkan dalam praktek bisnis keuangan di dalam aktivitas transaksi ekonomi. Yang lebih mengedepankan tidak sekedar akuntansi saat ini. Yang dalam artian tidak sekedar sebagai fasilitas pengambilan keputusan atau informasi keuangan, tetapi lebih menjadi suatu pertanggungjawaban (accountability) atas kinerja keuangan manajemen. Tidak ada upaya-upaya perekayasaan keuangan yang fiktif atau bersifat alokasi yang menipu, penyajian secara tepat, jujur, beretika dan mengandung unsur keadilan dan kebenaran informasi keuangan bagi pengguna laporan keuangan (Financial Statement users). Tidak hanya pada semangat menginternalisasikan nilai-nilai ke dalam ilmu akuntansi terutama bagi profesi akuntan, tetapi juga mengkaji secara metodologis metode-metode perlakuan transaksi, pengakuan nilai ekonomi, hingga penyajian laporan keuangan. Sebab dalam earning management misalnya, sarat dengan pengaturan laba yang sering menyesatkan pembaca. Nilai yang tersaji tidak dalam gambaran yang actual sesuai kondisi perusahaan yang sebenarnya. Sifat akuntansi juga mengandung banyak taksiran (estimasi), pertimbangan (judgement) dan sifat akrual memberikan peluang bagi pengaturan laba ini. Dan beragam metode-metode dalam akuntansi lainnya, agar secara system juga aman dari rekayasa fiktif akuntansi, selain menambah nilai-nilai etik kepada profesi akuntan. Tom Lee sendiri sangat menganjurkan ‘cash flow accounting’ untuk menghindari earning management sebagai pencegah adanya penipuan dalam akuntansi. Oleh karena itu, diperlukan konsep baru yang menjadikan akuntansi sebagai lebih dari sekedar akuntansi, yang juga pada akhirnya akan mewujudkan lebih dari sekedar akuntan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-3729285463850827407?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/3729285463850827407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/beyond-accounting-accountant.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/3729285463850827407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/3729285463850827407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/beyond-accounting-accountant.html' title='Beyond Accounting &amp; Accountant'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-8Sa-OlP3lZ4/ToVcZNaspLI/AAAAAAAAAbs/tmf8P07x_Yw/s72-c/Akuntansi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-1889304107696768683</id><published>2011-09-29T22:49:00.001-07:00</published><updated>2011-09-29T22:59:47.097-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Economic'/><title type='text'>Pemikiran Ekonomi Masa Bani Umayyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Pmn1bdY69qg/ToVasSeYEOI/AAAAAAAAAbk/wzM2fcNVh6I/s1600/masjid-cordoba.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 153px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Pmn1bdY69qg/ToVasSeYEOI/AAAAAAAAAbk/wzM2fcNVh6I/s200/masjid-cordoba.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658028223780884706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari perspektif Sejarah Peradaban Islam, pemerintahan Bani Umayyah disebut sebagai masa keemasan pencapaian kejayaan pemerintahan Islam. Meskipun masa pemerintahannya tidak cukup satu abad (90-91 tahun), tetapi berbagai kemajuan yang dicapai selama pemerintahan ini dapat dikatakan sangat luar biasa termasuk ke dalamnya adalah kesuksesan dalam perluasan wilayah pemerintahan Islam dan jumlah penduduk yang masuk Agama Islam. Sebaliknya, disamping dicap sebagai pemerintahan yang membidani lahirnya pemerintahan monarchie heredetis (kerajaan turun temurun) juga seperti disebut oleh Dr. Muhammad Quthb , bahwa  pada masa kekhalifahan Umayyah telah terjadi kemunduran Islam, sehingga p&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);" class=" on" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Justify Full"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Justify Full" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ada saat berakhirnya masa pemerintahaan ini muncul anggapan bahwa Islam akan hilang dari permukaan bumi.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan bidang-bidang keilmuan lain,  sumbangan pemerintahan kekhalifahan Bani Umayyah di bidang ekonomi memang tidak begitu monumental, karena pada zaman pemerintahan ini, pemikiran-pemikiran ekonomi lahir bukan berasal dari ekonom murni intelektual muslim, tetapi berasal dari hasil interpretasi kalangan ilmuan lintas-disiplin yang berlatar belakang  fiqh, Tasawuf, filsafat, sosiologi, dan politik. Namun demikian, terdapat  beberapa sumbangan pemikiran mereka terhadap kemajuan ekonomi Islam, di antaranya adalah perbaikan terhadap konsep pelaksanaan transaksi salam , murabaha, dan muzara’ah, serta kehadiran Kitab al Kharaj yang ditulis oleh Abu Yusuf yang hidup pada masa pemerintahan khalifah Hasyim secara eksklusif membahas tentang kebijaksanaan ekonomi, dipandang sebagai sumbangan pemikiran-pemikiran ekonomi yang cukup berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip Dasar Sistem Ekonomi Islam&lt;br /&gt;Terdapat beberapa prinsip dasar sistem ekonomi Islam sebagai dasar untuk pengembangan sistem ekonomi Islam dalam suatu pemerintahan atau negara, yakni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Kebebasan Individu&lt;br /&gt;Individu mempunyai hak kebebasan sepenuhnya untuk berpendapat atau membuat suatu keputusan yang dianggap perlu dalam sebuah negara Islam. Tanpa kebebasan tersebut individu muslim tidak dapat melaksanakan kewajiban mendasar dan penting dalam menikmati kesejahteraan dan menghindari terjadinya kekacauan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Hak terhadap Harta&lt;br /&gt;Islam mengakui hak individu untuk memiliki harta, tetapi Islam memberi batasan tertentu supaya kebebasan itu tidak merugikan kepentingan masyarakat umum.                              &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Ketidaksamaan ekonomi dalam batas yang wajar&lt;br /&gt;Meskipun Islam mengakui adanya keadaan dimana  ekonomi antara orang-perorang tidak sama, namun  Islam mengatur perbedaan tersebut dalam batas-batas wajar dan adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Kesamaan sosial&lt;br /&gt;Islam mengatur agar setiap sumber-sumber ekonomi/kekayaan negara dapat dinikmati oleh semua masyarakat, bukan oleh sekelompok masarakat saja. Disamping itu Islam juga menetapkan, bahwa setiap individu dalam suatu negara mempunyai kesempatan yang sama untuk berusaha dan mendapatkan pekerjaan atau menjalankan berbagai aktivitas ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Jaminan sosial&lt;br /&gt;Setiap individu mempunyai hak untuk hidup dalam sebuah negara Islam; dan setiap warga negara dijamin untuk memperoleh kebutuhan pokoknya masing-masing. Tugas dan tanggungjawab utama bagi sebuah negara adalah menjamin setiap warga negara, dalam memenuhi kebutuhannya sesuai dengan prinsip ” hak untuk hidup”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    Distribusi kekayaan secara meluas&lt;br /&gt;Islam mencegah penumpukan kekayaan pada kelompok kecil tertentu orang dan menganjurkan distribusi kekayaan kepada semua lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.    Larangan Menumpuk kekayaan&lt;br /&gt;Sistem ekonomi Islam melarang individu mengumpulkan harta kekayaan secara berlebihan dan mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mencegah perbuatan yang tidak baik tersebut supaya tidak terjadi dalam negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.    Larangan terhadap organisasi anti sosial&lt;br /&gt;Sistem ekonomi Islam melarang semua praktek yang merusak dan antisosial yang terdapat dalam  masyarakat, misalnya berjudi, minum arak, riba, menumpuk harta, pasar gelap dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.    Kesejahteraan individu dan masyarakat&lt;br /&gt;Islam mengakui kesejahteraan individu dan kesejahteraan sosial masyarakat yang saling melengkapi satu dengan yang lain, bukan saling bersaing dan bertentangan antar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napak Tilas Perjalanan Pemerintahan&lt;br /&gt;Daulah Umayyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa pemerintahaan kekhalifahan Umayyah berlansung selama lebih kurang 91 tahun  dimulai sejak  sejak Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib menyerahkan kekuasaanya kepada Muawiyyah bin Abu Sufyan pada tanggal  25 Rabiul Awwal tahun 41 H/661 M, atau kira-kira 28 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW.  Pemerintahan ini berakhir dengan  kekalahan pasukan Khalifah Marwan bin Muhammad (khalifah Umayyah terakhir) dalam sebuah perperangan di sungai  Zab (antara sungai Mosul dan Arbil), pada 131 H/748 M di bawah pimpinan Abul Abbas as-Saffah (khalifah pertama Pemerintahan Abbasiyah I),   dan pada  klimkasnya terjadi pada bulan Jumadil Awwal tahun 132 H /749 M Khalifah Marwan bin Muhammad dibunuh oleh Pasukan bani Abbasiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai catatan penting tentang pemerintahaan Bani Umayyah adalah dapat dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Beberapa keutamaan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Muawiyah adalah seorang sahabat yang mulia walaupun dia melakukan sebuah ijtihad politik dalam melakukan perlawanan kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib dan ternyata ijtihad yang dia lakukan tidak benar. Namun demikian, dia tetap berlaku adil dan semua sahabat adalah adil. Marwan bin Hakam salah seorang  khalifah (ke-4) termasuk yang banyak meriwayatkan hadist. Khalifah Abdul Malik (khalifah ke-5) dikenal sebagai orang yang berilmu luas dan seorang ahli fiqh, beliau termasuk ke dalam ulama Madinah  sebelum diangkat sebagai khalifah. Umar bin Abdul Aziz (khalifah ke-8)  adalah seorang Imam dalam masa ijtihad dan dianggap sebagai khalifaur al Rasyidun ke-5.&lt;br /&gt;2.    Bani Umayyah selalu menghormati kalangan ilmuan dan orang-orang yang memiliki sifat-sifat utama. Mereka tidak pernah melakukan intervensi dalam hal-hal yang menyangkut peradilan.&lt;br /&gt;3.    Penaklukan beberapa kota dan negeri  hingga sampai ke wilayah Cina disebelah timur, negeri-negeri di Andalusia (Spanyol) dan selatan Perancis di sebelah barat sehingga pada masanya wilayah pemerintahan Islam mencapai wilayah yang sangat luas sepanjang sejarah Islam dan banyaknya manusia yang memeluk agama Islam&lt;br /&gt;4.    Memproduksi tanah-tanah mati (lahan-lahan tidak produktif, pen) pembangunan berbagai kota, dan pembangunan yang megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sisi negatif adalah,  merosotnya Manhaj Islam yang  disebabkan oleh beberapa faktor berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Terjadi penyimpangan dalam penerapan aturan-aturan Islam sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh Khulafaur al Rasyidun, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;•    Pemilihan khalifah tidak dilaksanakan secara dmokratis, melainkan memulai tradisi pemerintahan Dinasti/monarchi heridetis (kerajaan turun temurun), yang tidak pernah dipraktik dan tidak dibenarkan pada masa pemerintahan Khulafaur al Rasyidun.&lt;br /&gt;•    Pemerintahan diperoleh dengan jalan kekerasan, diplomasi, tipu daya dan diselengarakan dengan cara  otoriter,&lt;br /&gt;2.    Penggunaan keuangan negara untuk tujuan di luar keperluan negara, Pengelola pemerintah terperangkap dalam kebiasaan hidup mewah sebagai  akibat berlimpahnya harta rampasan perang. Baitul Maal yang seharusnya berfungsi sebagai lembaga keuangan sentral untuk mengatur lalulintas keuangan negara, tetapi telah disalahgunakan. Baitul Maal diperlakukan seakan-akan  milik pribadi para pangeran&lt;br /&gt;3.    Masuknya para budak wanita dan tawanan perang ke dalam istana dan rumah-rumah mereka.&lt;br /&gt;4.    Berakhirnya masa kekhalifahan Umayyah dianggap sebagai  bad ending Sejarah Peradaban Islam. Karena pada periode akhir pemerintahaan kekhalifahannya Islam mengalami kemunduran, sehingga menimbulkan keraguan bagi semua orang pada saat itu tentang kelanjutan kehidupan Islam.  Islam dikatakan telah Tamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok-Pokok Pemikiran Ekonomi&lt;br /&gt;Masa Daulah Umayyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu perbedaan yang mendasar antara kepemimpinan pada masa pemerintahan Khulafaur al Rasysidun dan masa Bani Umayyah adalah, bahwa pada masa kekhalifahan Khulafaur al Rasyidun seorang khalifah adalah seorang ahli Fiqh, sedangkan pada masa Bani Umayyah, karena alasan semakin luas dan beratnya tugas-tugas kenegaraan, seorang khalifah tidak lagi seorang fuqoha. Pemegang otoritas agama dan pemegang otoritas politik berada ditangan berbeda. Secara khusus, untuk urusan-urusan agama diserahkan sepenuhnya kepada para ulama yang menguasai seluk-beluk agama dan  berpusat di Medinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan juga, bahwa pada masa Khulafaur al Rasyidun semua doktrin-doktrin ekonomi Islam terus diperkuat dan dikembangkan melalui berbagai bentuk ijtihad, sehingga memberi dampak yang optimum terhadap pencapaian Visi dan Misi ekonomi  Islam. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, kebijakan ekonomi   banyak dibentuk berdasarkan ijtihad  para fuqoha dan ulama sebagai konsekuensi  semakin jauhnya rentang waktu (lebih kurang satu abad) antara  zaman kehidupan  Rasulullah saw dan masa pemerintahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah beberapa pokok fikiran Khalifah, fuqoha dan ulama pada masa kekhalifahan Bani Umayyah yang dapat di identikasi: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBANGAN KHALIFAH-KHALIFAH BANI UMAYYAH&lt;br /&gt;BAGI KEMAJUAN EKONOMI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan&lt;br /&gt;Sumbangan  Khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan dicatat khalifah yang&lt;br /&gt;1.    Mampu membangun sebuah masyarakat muslim yang tertata rapi,&lt;br /&gt;2.    Oleh para sejarawan, beliau disebut sebagai orang Islam pertama yang membangun kantor catatan negara dan layanan pos (al-barid)&lt;br /&gt;3.    Membangun Pasukan Suriah menjadi kekuatan militer Islam yang terorganisir dan  disiplin tinggi&lt;br /&gt;4.    Mencetak mata uang,  mengembangkan birokrasi seperti fungsi pengumpulan pajak dan administrasi politik.&lt;br /&gt;5.    Mengembangkan jabatan qadi (hakim) sebagai jabatan professional.&lt;br /&gt;6.    Menerapkan kebijakan pemberian gaji tetap kepada para tentara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Abdul Malik bin Marwan&lt;br /&gt;1.    Mengembangkan pemikiran yang serius terhadap penerbitan dan pengaturan uang dalam masyarakat Islam, sebagai bentuk upaya penolakan atas permintaan pihak Romawi agar Khalifah Abdul Malik bin Marwan menghapuskan kalimat Bismillahirahmanirrahim dari mata uang yang berlaku pada saat itu. Dan selanjutnya, pada tahun 74 H/659 M beliau mencetak mata uang Islam tersendiri yang mencantumkan kalimat Bismillahirahmanirrahim dan mendistribusikan  keseluruh wilayah Islam serta melarang pemakaian mata uang lain.&lt;br /&gt;2.    Menjatuhkan hukuman ta’zir kepada mereka yang mencetak mata uang di luar percetakan Negara.&lt;br /&gt;3.    Melakukan berbagai pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar bin Abdul Aziz&lt;br /&gt;1.    Ketika diangkat menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan rakyat dan mengumumkan serta menyerahkan seluruh harta kekayaan pribadi  dan keluarganya yang diperoleh secara tidak  wajar kepada baitul maal,  seperti;  tanah-tanah perkebunan di Maroko, berbagai tunjangan yang di Yamamah, Mukaedes, Jabal Al Wars, Yaman dan Fadak, hingga cincin berlian pemberian Al Walid.&lt;br /&gt;2.    Selama berkuasa beliau juga tidak mengambil sesuatupun dari baitul maal, termasuk pendapatan Fai yang telah menjadi haknya.&lt;br /&gt;3.    Memprioritaskan pembangunan dalam negeri. Menurutnya, memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan negeri-negeri Islam adalah lebih baik daripada menambah perluasan wilayah. Dalam rangka ini pula, ia menjaga hubungan baik dengan pihak oposisi dan memberikan hak kebebasan beribadah kepada penganut agama lain.&lt;br /&gt;4.    Dalam melakukan berbagai kebijakannya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz lebih bersifat melindungi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;5.    Menghapus pajak terhadap kaum muslimin, mengurangi beban pajak kaum Nasrani, membuat aturan takaran dan timbangan, membasmi cukai dan kerja paksa,&lt;br /&gt;6.    Memperbaiki tanah pertanian, menggali sumur-sumur, pembangunan jalan-jalan, pembuatan tempat-tempat penginapan musafir, dan menyantuni fakir miskin. Berbagai kebijakan ini berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat secara keseluruhan hingga tidak ada lagi yang mau menerima zakat.&lt;br /&gt;7.    Menetapkan gaji pejabat  sebesar 300 dinar dan dilarang pejabat tersebut melakukan kerja sampingan. Selain itu pajak yang dikenakan kepada non-muslim hanya berlaku kepada tiga profesi, yaitu pedagang, petani, dan tuan tanah.&lt;br /&gt;8.    Dalam bidang pertanian Khalifah Umar bin Abdul Aziz melarang penjualan tanah garapan agar tidak ada penguasaan lahan. Ia memerintahkan amirnya untuk memanfaatkan semaksimal mungkin lahan yang ada. Dalam menetapkan sewa tanah, khalifah menerapkan prinsip keadilan dan kemurahan hati. Ia melarang memungut sewa terhadap tanah yang tidak subur dan jika tanah itu subur, pengambilan sewa harus memperhatikan tingkat kesejahteraan hidup petani yang bersangkutan.&lt;br /&gt;9.    Menerapkan kebijakan otonomi daerah. Setiap wilayah Islam mempunyai wewenang untuk mengelola zakat dan pajak secara sendiri-sendiri dan tidak mengharuskan menyerahkan upeti kepada pemerintah pusat. Bahkan sebaliknya pemerintah pusat akan memberikan bantuan subsidi kepada wilayah Islam yang pendapatan zakat dan pajaknya tidak memadai. Dan juga memberlakukan sistim subsidi antar wilayah, dari yang surplus ke yang pendapatannya kurang.&lt;br /&gt;10.    Dalam menerapkan Negara yang adil dan makmur, Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadikan jaminan social sebagai landasan pokok. Khalifah juga membuka jalur perdagangan bebas, baik didarat maupun dilaut, sebagai upaya peningkatan taraf kehidupan masyarakat. Pemerintah menghapus bea masuk dan menyediakan berbagai bahan kebutuhan sebanyak mungkin dengan harga yang terjangkau.&lt;br /&gt;11.    Pada masa-masa pemerintahannya, sumber-sumber pemasukan Negara berasal dari zakat, hasil rampasan perang, pajak penghasilan pertanian, dan hasil pemberian lapangan kerja produktif kepada masyarakat luas.&lt;br /&gt;12.    Yang paling menonjol pada masa ini adalah, kembalinya syariat Islam dengan semua ketinggian dan kesempurnaannya untuk mewarnai seluruh aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBANGAN  ULAMA DAN FUQOHA DALAM&lt;br /&gt;PEMIKIRAN EKONOMI DI MASA KHALIFAH BANI UMAYYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pemikiran berasal dari para khalifah seperti tersebut di atas, pada masa Daulah Bani Umayyah banyak juga dijumpai pemikir-pemikir ekonomi yang berasal dari kalangan ulama, fuqaha dan filsuf, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaid bin Ali (80-120/699-738)&lt;br /&gt;Zaid bin Ali adalah cucu dari Imam Hussein, merupakan ahli fiqih terkenal di Madinah. Pemikiran dan pandangan Zaid seperti yang dikemukakan Abu Zahra adalah membolehkan penjualan suatu komoditi secara kredit dengan harga yang lebih tinggi dari harga tunai dengan alasan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.    Penjualan secara kredit  dengan harga lebih tinggi daripada harga tunai merupakan salah satu bentuk transaksi yang sah dan dapat dibenarkan selama transaksi tersebut dilandasi oleh prinsip saling ridha antar kedua belah pihak&lt;br /&gt;2.    Pada umunya, keuntungan yang diperoleh para pedagang dari penjualan seecara kredit merupakan murni bagian dari sebuah perniagaan dan tidak termasuk riba.&lt;br /&gt;3.    Penjualan secara kredit merupakan salah satu bentuk promosi sekaligus respon terhadap permintaan pasar. Dengan demikian, bentuk penjualan seperti ini bukan suatu tindakan di luar kebutuhan.&lt;br /&gt;4.    Keuntungan yang diperoleh dari penjualan kredit  merupakan suatu bentuk kompensasi atas kemudahan yang diperoleh seseorang dalam membeli suatu barang tanpa harus membayar secara tunai.&lt;br /&gt;5.    Harga penjualan kredit, tidak semata merta mengindikasikan bahwa harga yang lebih tinggi selalu berkaitan dengan waktu. Harga jual kredit dapat pula ditetapkan lebih rendah dari harga beli, dengan tujuan untuk menghabis persediaan barang dan memperoleh uang tunai karena khawatir harga pasar akan jatuh di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hanifa (80-150/699-767)&lt;br /&gt;Abu Hanifa dikenal sebagai seorang fuqoha dan seorang pedagang di pusat aktivitas perdagangan dan perekonomian- Kufa.  Sumbangan beliau dalam masalah ekonomi adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.    Memberi koreksi dan penyempurnaan  terhadap aqad transaksi Salam yang popular pada masa itu. Salam adalah kontrak penjualan suatu barang dalam hal mana harga atas barang dibayar tunai pada saat kontrak (aqad) sedangkan barangnya diserahkan dikemudian hari. Abu Hanifa menemukan banyak sekali kekaburan di sekitar kontrak Salam tersebut, yang  dapat mengarah pada perselisihan. Untuk menghindari perselisihan  tersebut, Abu Hanifa  memasukkan ke dalam aqad tersebut   apa-apa yang harus diketahui dan dinyatakan secara jelas.  Misalnya, tentang jenis komoditi, mutu, dan kuantitas serta tangggal dan tempat pengiriman barang. Di dalam aqad juga mesti dimasukkan persyaratan bahwa komoditas yang diperjual belikan harus tersedia di pasar selama periode antara tanggal aqad dan tanggal penyerahan barang, sehingga kedua belah pihak sama-sama mengetahui bahwa penyerahan barang dapat dilaksanakan sesuai aqad.&lt;br /&gt;2.    Abu Hanifa,  sebagai seorang pedagang, Abu Hanifa memberikan sumbangan tentang aturan-aturan yang menjamin pelaksanaan permainan yang adil dalam transaksi murabaha dan transaksi lain yang sejenis. Memberi sumbangan tentang pelaksanaan praktek dagang lain yang berlandaskan norma-norma Islam.&lt;br /&gt;3.    Mempunyai perhatian terhadap kaum yang lemah, pemberlakuan  zakat atas perhiasan dan membebaskan pemilik harta yang dililit hutang yang tidak sanggup menebusnya dari kewajiban membayar zakat.&lt;br /&gt;4.    Tidak membolehkan pembagian hasil panen (muzaraah) dalam kasus tanah yang tidak menghasilkan guna melindungi penggarap yang umumnya adalah orang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Awza‘i (88-157/707-774)&lt;br /&gt;Abdul Rahman Al Awza’i berasal dari Beirut, yang hidup sejaman dengan Abu Hanifa. Beliau juga pendiri sekolah hukum walaupun tidak bertahan lama.&lt;br /&gt;1.    Awza’i cenderung membenarkan kebebasan dalam kontrak dan memfasilitasi orang-orang dalam transaksi mereka.&lt;br /&gt;2.    Memberlakukan sistem bagi-hasil pertanian (muzaraah) karena system ini di butuhkan seperti halnya dia membolehkan bagi hasil keuntungan (Mudharabah). Dalam hal ini, modal di pinjamkan boleh dalam bentuk tunai atau natura  yang ditolak oleh beberapa ahli hukum lainnya.&lt;br /&gt;3.    Menggunakan pendekatan yang lebih fleksibel dalam kontrak Salam .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik bin Anas (93 – 197H / 712 -795M)&lt;br /&gt;Hidup semasa pemerintahan Khalifah Bani Umayyah  yang dimulai pada masa pemerintahaan. Beliau berhasil menerbitkan  Kitab al-Muwatta, sebuah kitab hadist bergaya fiqh atau kita fiqh bergaya Hadist. Pokok-pokok fikiran Imam Malik bin Anas tentang ekonomi adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.    Bahwa, Penguasa mempunyai tanggungjawab untuk mensejahterakan rakyat, memenuhi kebutuhan rakyat sepertihalnya yang juga dilakukan oleh Umar Bin Khatab.&lt;br /&gt;2.    Menerapkan prinsip/azas al-Maslahah, al-Mursalah. Al-Maslahah dapat diartikan sebagai  azas manfaat (benefit), kegunaan (utility), yakni sesuatu yang memberi manfaat baik kepada individu maupun kepada masyarakat banyak . Sedangkan prinsip al-Maslahah  dapat diartikan sebagai prinsip kebebasan, tidak terbatas, atau tidak terikat. Dengan pendekatan kedua azas ini, Imam Malik bin Anas, mengakui, bahwa pemerintah Islam memiliki hak untuk memungut pajak, bila diperlukan melebihi dari jumlah yang ditetapkan secara khusu dalam syari’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;1.    Perkembangan ilmu ekonomi pada masa Daulah Umayyah lebih mirip dengan  fase pertama proses pengembangan disiplin ilmu ekonomi Moneter Islam pada dekade tahun 1930-an seperti yang diungkap oleh Umer Chapra . Pada Fase pertama, pemikiran ekonomi datang dari segolongan ulama yang tidak memiliki pendidikan formal dalam bidang ilmu ekonomi, tetapi mempunyai pemahaman yang tegas tentang persoalan-persoalan sosioekonomi masa itu dan pendekatan-pendekatan Islam terhadapnya, dan  mencoba memecahkan persoalan bunga (baca masalah ekonomi, penulis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Perkembangan Ilmu Ekonomi pada masa Bani Umayyah tidak lahir dari ekonom murni intelektual muslim - sepertihalnya ekonom  barat, Ricardo, Adam Smith, Keynes dan lain sebagainya, melainkan lahir dari para Fuqaha, Tasawuf, ahli filsafat, sosiologi dan politikus  - sehingga, konsep-konsep ekonomi  lahir melalui knowlege interdisipliner interpretation.  Oleh karena itu tidaklah terlalu  keliru suatu pernyataan,   bahwa konsep-konsep ekonomi yang disumbangkan oleh pemerintahan Bani Umayyah masih berada dalam tataran dasar  karena sumbangan ilmu ekonomi, baik yang berasal  dari kalangan fuqoha maupun tasawuf tersebut hanya merincikan, prilaku dasar seorang muslin yaitu, bertindak adil, kebijaksanaan yang pantas, dan batasan-batasan yang diperbolehkan dalam menyelesaikan urusan duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Meskipun bila dibandingkan dengan bidang-bidang keilmuan lain,  sumbangan pemerintahan kekhalifahan Bani Umayyah di bidang ekonomi memang tidak begitu monumental, Namun demikian, terdapat  beberapa sumbangan terhadap konsep pelaksanaan transaksi salam,  murabaha, dan muzara’ah.  Pelajaran tentang kebijaksanaan ekonomi terdapat dalam Kitab al Kharaj yang ditulis oleh Abu Yusuf serta  tulisan tentang upaya-upaya untuk memperoleh pendapatan yang bersih melalui aktivitas  penyewaan (ijarah), perdagangan (tijarah), pertanian (zaira’ah), dan industri (sina’ah) yang dituangkan dalam Kitab al-Iktisan fi’l Rizq al-Mustatob.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam; Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, Cetakan 1, diterjemah oleh H. Samson Rahman, MA, Akar, Jakarta, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan, Hasan Ibrahim, Sejarah dan kebudayaan Islam, diterjemah oleh Jahdan Ibnu Human, Yogyakarta, 1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karim, Azwar, Adiwarman, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Edisi Ke Tiga, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khitti, Philip K. History of The Arabs,  diterjemah oleh R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, Serambi, Jakarta, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahman, Afzalur, Doktrin Ekonomi Islam, Jilid 1, Diterjemah oleh Soeroyo dan Nastangin, PT. Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta, 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salaby, Ahmad, Sejarah dan kebudayaan Indonesia, I, Diterjemah oleh Muctar Yahya, Pustaka al-Husna, Jakarta, 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-1889304107696768683?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/1889304107696768683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/pemikiran-ekonomi-masa-bani-umayyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/1889304107696768683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/1889304107696768683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/pemikiran-ekonomi-masa-bani-umayyah.html' title='Pemikiran Ekonomi Masa Bani Umayyah'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Pmn1bdY69qg/ToVasSeYEOI/AAAAAAAAAbk/wzM2fcNVh6I/s72-c/masjid-cordoba.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-7041095101384859320</id><published>2011-09-25T07:15:00.000-07:00</published><updated>2011-09-25T07:18:00.883-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Dituntun Rindu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-KMMKaIUTR38/Tn84Eq79ULI/AAAAAAAAAbc/Zs6U3Jb8HVs/s1600/your%2Bown%2Bhelping%2Bhand.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-KMMKaIUTR38/Tn84Eq79ULI/AAAAAAAAAbc/Zs6U3Jb8HVs/s200/your%2Bown%2Bhelping%2Bhand.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5656301309897035954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Apa sebab yang melatari gemuruh itu hadir mengisi ruang kosong di hati tidak begitu menyadarinya. Muncul begitu saja. Tapi apa yang kemudian terpikirkan ialah pada sekumpulan orang –orang yang satu per satu lewat di perlintasan pikiran. Tentang kebaikan-kebaikan mereka dan memori kebersamaan dalam berjuang mengundang keridhoan Allah SWT hadir pada tiap jenak-jenak pertemuan. Candanya, tangisnya, tidak lain untuk semakin melekatkan hati-hati yang bersih meski terpisah raga.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang tergambar dalam jiwa yang sedang rindu, adalah apa yang tergerak dalam raga. Jika belum lagi ada kesempatan, maka menahan diri karenanya selalu mengajak saudara dekatnya, menangis. Tidak mesti berderai air mata, sebab gerimis di hati sudah bagian dari isyarat bahwa jiwa sedang menangis. Tapi jika pada kadar yang melebihi kemampuan diri menahan tangisan jiwa di hati, ia dengan sendirinya merusak ketahanan fisik yang membendung air mata terurai. Sampai-sampai tanganmu lihai menghelanya di wajah, khawatir ada orang yang tidak berhak mengetahui bahwa engkau sedang menangis, lantas menjadi tau. Sebab kamu tidak punya jawaban selain apa yang benar-benar dirasakan, sebab kamupun akan kelu juga akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang keluargamu. Kamu berharap bisa berkumpul kembali kelak disana. Merawat kembali canda tawa merekah ketika di dunia. Berbincang-bincang sembari bercengkerama lepas bebas, sampai lelah, hingga cinta berbekas. Tentang karib kerabatmu. Kamu juga berharap bisa bertemu kembali kelak disana. Mengulang – ulang peristiwa kekentalan persaudaraan di dunia. Bercerita-cerita tentang beragam nikmat yang Allah hadirkan saat di dunia. Membangga-banggakan amal-amal kepahlawanan bagi orang lain bersama dukanya, perihnya, kerumitannya. Sampai menangis bersama lagi, tertawa lagi, hingga cinta juga muncul kembali. Tentang pasangan hidupmu. Kamu berharap bisa berbagi kasih lagi disana. Menyatakan lagi terima kasih, permohonan maaf dan cinta yang sebenar-benarnya. Sebab masih ada cinta pada definisi lain yang tidak kamu ungkapkan karena dengan bahasa kenyataan saja yang mau kamu isyaratkan padanya. Yakni saat sudah berada di sana saja menyatakannya dengan bahasa kalbumu, bahwa disini, syurga,  adalah seindah-indahnya tempat cinta berpadu. Hingga cinta tidak akan lagi menemukan jemu. Sebab kamu diridhoi dan dipersaksikan Tuhanmu, Allah.&lt;br /&gt;Di penghujung doa, kamu lirih, semoga rindu ini menuntun tanganmu sampai pada apa yang kamu rindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-7041095101384859320?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/7041095101384859320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/dituntun-rindu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/7041095101384859320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/7041095101384859320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/dituntun-rindu.html' title='Dituntun Rindu'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-KMMKaIUTR38/Tn84Eq79ULI/AAAAAAAAAbc/Zs6U3Jb8HVs/s72-c/your%2Bown%2Bhelping%2Bhand.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-6067763449273481178</id><published>2011-09-24T23:56:00.000-07:00</published><updated>2011-09-25T00:51:57.643-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah'/><title type='text'>Rambu-Rambu Kolektifitas Amal; Sebab Perjalanan Masih Jauh</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-family: times new roman;" href="http://2.bp.blogspot.com/-lAex5mFzluw/Tn7RueNAmEI/AAAAAAAAAbU/9z9YgY0DfHU/s1600/jauh15%255B1%255D.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-lAex5mFzluw/Tn7RueNAmEI/AAAAAAAAAbU/9z9YgY0DfHU/s200/jauh15%255B1%255D.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5656188778335737922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;w:browserlevel&gt;&lt;/w:browserlevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:"Gill Sans MT";  panose-1:2 11 5 2 2 1 4 2 2 3;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:7 0 0 0 3 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-family:"Gill Sans MT","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:Calibri;  mso-bidi-theme-font:minor-latin;} .MsoPapDefault  {mso-style-type:export-only;  margin-bottom:10.0pt;  line-height:115%;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!----&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pagi ini saya sengaja mengulang-ulang sebuah lirik nasyid (Qathrunada, Apakah Benar Engkau Pejuang?) yang cukup menjadi bagian dalam mengevaluasi diri tentang segala aktivitas ‘keperjuangan’ dalam dakwah. Oleh sebab kekesatan hati seringkali juga timbul darinya bahkan, sebab memang ia juga kumpulan manusia yang bodoh dan lemah, bukan barisan-barisan malaikat yang luput dari kesalahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Tapi tidak mampu menerima ujian&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Tapi engkau rosak oleh pujian&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Tapi tidak sepenuhnya menerima pimpinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Tapi tidak begitu setia kawan&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Tapi tidak sanggup berkorban&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Tapi ingin jadi pemimpin&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Menjadi pengikut agak segan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Tolak ansur engkau tidak amalkan&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Tapi tidak sanggup menerima cabaran&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Kesihatan dan kerehatan,&lt;br /&gt;Tidak sanggup engkau korbankan&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Tapi tidak mampu menerima ujian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Tapi engkau rosak oleh pujian&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Tapi tidak sepenuhnya menerima pimpinan,&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Masa tidak sanggup engkau luangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Karenah isteri tidak kau tahan&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Rumahtangga lintang-pukang&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Diri engkau tidak engkau tingkatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Disiplin diri engkau abaikan&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Janji kurang engkau tunaikan&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Kasih sayang engkau cuaikan&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Tetamu engkau abaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Anak isteri engkau lupakan&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Ilmu berjuang engkau tinggalkan&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Kekasaran dan kekerasan engkau amalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Pandangan engkau tidak diselaraskan&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Rasa bertuhan engkau abaikan&lt;br /&gt;Engkau ingin berjuang,&lt;br /&gt;Iman dan taqwa engkau lupakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sebenarnya apa yang&lt;br /&gt;Engkau hendak perjuangkan.&lt;/div&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;m:mathpr&gt;&lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;&lt;m:brkbin val="before"&gt;&lt;m:brkbinsub val=""&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;Terkait kolektifitas dalam beramal memang punya urgensi yang besar untuk diwujudkan dalam barisan-barisan yang rapi dan kokoh. Tentang amal – amal individu yang dikristalisasi menjadi amal bersama, maka ia juga akan memperbesar ‘ momentum amal ‘ untuk semakin meninggikan izzah kebenaran di atas kebathilan, oleh sebab besarnya itulah ia menjadi ‘gagah’ menerjang apa saja yang dihadapannya, utamanya bagi mereka yang berada pada oposan kebenaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;Dari pentingnya berjamaah adalah karena syaithan menyerang sesiapa yang sendirian dalam beramal. Sendirian dalam berjuang dan sendirian dalam menerjang amuknya keadaan. Kesalingtergantungan antar kita para aktivis dakwah berada pada penggandaan keberanian diri dan pada saat yang sama sebagai uoaya meredam kecemasan-kecemasan. Jelasnya kita saling membutuhkan. Saling mengingatkan tatkala ada kebenaran yang luput untuk disampaikan, meluruskan kesalahan, dan saling meneguhkan iman yang dengannya semakin mendekatkan pribadi masing-masing pada Allah, Rabb Semesta Alam. Mari serapi mengapa berjamaah sangat penting dalam menjaga ketahanan diri dari godaan syetan, sebagaimana Rasulullah saw mengajarkan dengan sunnahnya, “&lt;i style=""&gt;Satu orang pengendara adalah syetan, dua orang pengendara adalah dua syetan, dan tiga orang pengendara baru disebut pengendara yang banyak” &lt;/i&gt;(HR. Malik, Abu Daud dan Turmudzi). Dalam riwayat lain “&lt;i style=""&gt;Barangsiapa diantara kalian yang ingin menikmati taman syurga, hendaklah ia berjamaah. Karena syaitan itu bersama orang yang sendiri, dan ia akan menjauh dari dua orang.”&lt;/i&gt;(HR. Ahmad Turmudzi dan Hakim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;Ada rambu-rambu yang mesti diperhatikan dalam menjalankan amal-amal kolektif, dimana awal mula gagasan ide bermunculan dari adanya aktivitas perundingan-perundingan atau interaksi-interaksi sesama angota jamaah. Oleh sebab manusia itu sendiri berpotensi salah, maka potensi kolektifitas atas kesalahan lebih besar potensinya terjadi. Ibnul Qayyim al Jauziyah(dalam Al Fawaid, 60) memberikan arahan bahwa setidaknya berkumpulnya orang-orang beriman atas aktivitas amal mereka mengandung marabahaya jika tidak diperhatikan dengan seksama, marabahaya tersebut ialah &lt;i style=""&gt;pertama, &lt;/i&gt;tatkala dalam perkumpulan itu, satu sama lain saling menghiasi dan membenarkan. Tidak ada yang salah memang dalam hal ini jika secara redaksional Ibnul Qayyim mengisyaratkan demikian. Hanya saja yang dimaksud oleh Ibnul Qoyyim adalah menghiasi dan membenarkan atas ragam kesalahan yang dilakukan salah satu atau sebagian lainnya. Dengan adanya hal ini, maka besar kemungkinan akan menafikan memenuhi hak dan suasana saling menasehati bagi saudara seiman. &lt;i style=""&gt;Kedua, &lt;/i&gt;ketika dalam perkumpulan itu, pembicaraan dan pergaulan antar mereka melebihi kebutuhan. Hal ini sama halnya dengan terlampau banyak waktu untuk berkumpul yang melewatkan amal yang lebih utama lainnya, dan menjadi waktu yang terlewati dengan sia-sia. &lt;i style=""&gt;Ketiga , &lt;/i&gt;ketika pertemuan mereka menjadi keinginan syahwat dan kebiasaan yang justru menghalangi mereka dari tujuan yang diinginkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;Ikhwah…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;Di tengah ragam aktivitas kita, sejujurnya dalam diri ada perasaan yang boleh jadi hilang ketika kebersamaan dalam dakwah sekalipun tidak mampu mengembalikannya. Apakah ia? Ia adalah kesempatan untuk semakin menjaga kebersihan hati dan keimanan yang semakin memuncak kepada Allah SWT. Kegersangan jiwa kita masing-masing tatkala sendiri, harusnya teratasi dengan adanya saat-saat bertemu. Dimana saat-saat itulah diri merasa semakin rindu bertemu Rabb Pencipta Alam semesta, rindu bermunajat kepadaNya, dan rindu beramal kembali lebih banyak setelahnya. Maka, dengan demikian kita setidaknya bisa mengidentifikasi apakah pada setiap amal-amal kolektif kita tetap berada pada wilayah kebenaran ialah pada ukuran apakah dengan bertemunya kita, kita semakin ingat kepada Allah SWT atau tidak. Dalam hal ini bukan berarti mengesampingkan sarana-sarana pertemuan merencanakan aktivitas amal bersama atau dikurangi frekuensinya, tapi penekanannya ialah pada proses perbaikan dari waktu ke waktu di setiap bertemunya kita. Syariatnya, caranya, etikanya dan rambu-rambunya. Bahwa pertemuan, perundingan, kesepakatan hanya sebatas sebagai sarana yang tidak patut dijadikan tujuan utama apalagi diutamakan. Bahwa yang utama ialah amalnya itu sendiri, besarnya, massifnya dan gemuruhnya. Selayak gelombang menggulung laut yang tenang dan memberi isyarat bagi siapa saja yang berdiam diri dari kebenaran di tepi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Duhai ikhwah….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mari perbesar gelombang amal kolektifitas kita dengan cara memperbanyak dan melibatkan sebanyak mungkin orang yang berazam menjaga taat dalam proses hijrahnya. Serukan, dengungkan, dan gemakan kebenaran di sudut – sudut keramaian. Sampaikan berita gembira bagi mereka yang rindu akan Tuhannya, yang taat kepadaNya, dan ikhlas atas qadha dan qadharnya. Tapi masing-masing kita juga juga pandai-pandailah menghaluskan, melirihkan dan membisikkan kabar gembira dari Tuhan di ‘telinga-telinga’ saudara kita yang lain sebagai tandingan atas bisikkan syetan yang tidak pernah luput darinya melainkan bagi orang-orang yang ikhlas kepada Tuhannya. Juga sebagai isyarat bahwa kita perlu menunaikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kewajiban individu untuk berdakwah bagi individu yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pada tiap sarana-sarana itulah kita tetap berharap, bahwa dengannya kita bisa menjaga diri dari musuh paling nyata bagi manusia, syaitan. Sebab &lt;i style=""&gt;“ Tak ada sekelompok orang yang keluar ke Makkah (untuk ketaatan) kecuali iblis telah mempersiapkan pasukan yang sama untuk menghalangi mereka” &lt;/i&gt;(Mujahid). Agar dengan itu pula kita semua dikumpulkan kelak disana, di kampung halaman kita, Syurga. Amin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-6067763449273481178?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/6067763449273481178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/rambu-rambu-kolektifitas-amal-sebab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/6067763449273481178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/6067763449273481178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/rambu-rambu-kolektifitas-amal-sebab.html' title='Rambu-Rambu Kolektifitas Amal; Sebab Perjalanan Masih Jauh'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-lAex5mFzluw/Tn7RueNAmEI/AAAAAAAAAbU/9z9YgY0DfHU/s72-c/jauh15%255B1%255D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-7563696720430255558</id><published>2011-09-24T23:45:00.001-07:00</published><updated>2011-09-24T23:55:55.910-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Economic'/><title type='text'>Mengapa Harus Ekonomi Syariah ? 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-sIa7KrLcCE8/Tn7Qb4bkmFI/AAAAAAAAAbM/RxG2W43camE/s1600/ada-lima-hal-penting-dalam-pengembangan-ekonomi-syariah-ilustrasi-_110802095419-284.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 144px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-sIa7KrLcCE8/Tn7Qb4bkmFI/AAAAAAAAAbM/RxG2W43camE/s200/ada-lima-hal-penting-dalam-pengembangan-ekonomi-syariah-ilustrasi-_110802095419-284.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5656187359446997074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Termenung sejenak dengan judul tersebut. Apa sebab? Dikarenakan judul materi yang diberikan saya kali ini tergolong fundamental dan ia menentukan ‘komitmen’ dalam membenarkan ilmu ekonomi sebagai ilmu pengetahuan dengan pada saat yang sama menjadi konsep baku yang juga punya sistemnya yang menjadi cita-cita umat islam untuk diwujudkan di negeri-negerinya. Materi kajian kali ini yang berkesempatan saya sampaikan pada materi kajian ekonomi syariah di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengingatkan saya pada suasana yang sama seperti dahulu di SMA. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Yang saya berusaha mencari-cari benar mengapa saya berislam. Meski sudah bertahun-tahun menganutnya. Namun, pertanyaan paling asasi tersebut juga tidak mudah dijawab dengan begitu saja, sebab sekali lagi menentukan seberapa besar komitmen diri dalam beragama secara menyeluruh. Dan kali ini, mengapa harus ekonomi syariah, saya benar-benar bersemangat mencari beragam alasan mengapa ekonomi islami itu sendiri menjadi penting dan dibutuhkan, selain saya dengannya bisa mempersiapkan argument terbaik dalam menyampaikan materi ini. Meski sudah bertahun-tahun mempelajari ragam bidang dalam ilmu pengetahuan ekonomi islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; font-weight: bold;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);" class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Justify Full"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Justify Full" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Overview&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengidentifikasi suatu ilmu atau system yang terlahir darinya, maka yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah apa yang menjadi pandangan dasarnya bagi penganutnya (masyarakat)tentang kehidupan bagi mereka(world view). Sebab apa yang kemudian menjadi pandangan mereka tentang hidup, apa yang menjadi landasan perilaku dalam kehidupan, kurang lebih demikianlah yang menjadi ilham dalam menentukan landasan apa yang diterapkan sebagai landasan ilmu pengetahuannya. Jikalau kapitalisme (salah satu system ekonomi dunia) mendefiniskan ekonomi sebagai perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan dibenturkan pada factor-faktor produksi yang terbatas, maka kurang lebih begitulah pandangannya tentang dunia. Bahwa, pertama, manusia memiliki kebutuhan materi yang tidak terbatas, artinya diperkenankan meraih kekayaan seberapa besar pun dengan cara apapun, dan kedua, dengan factor produksi yang terbatas, maka dengan demikian diperkenankanlah kompetesi ekonomi antar manusia dalam memenuhi kebutuhannya tersebut, meski seringnya eksploitatif terhadap yang tidak memiliki kemampuan ekonomi yang besar dan mumpuni. Maka, pada era-era modern saat ini, baru disadari bahwa kerakusan, egoisme ekonomi, eksploitatif sangat melekat dengan kapitalisme. Baru semua orang sibuk mengkaji kembali kelayakan kapitalisme sebagai system ekonomi mereka. Padahal sudah beratus kali menghadirkan krisis dan kemerosotan ekonomi diberbagai negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu pengetahuan (science) dalam dunia konvensional merupakan segala ilmu yang memenuhi kaidah-kaidah metode ilmiah. Dimana science merupakan kreasi manusia yang sebenarnya kebenaran bersifat relatif. Sebab merupakan kreasi manusia itulah ia menjadi relative (human creation) dan mengandung peluang kekeliruan yang besar. Sebagaimana metodologi ilmiah yang menjadi standar ilmu pengetahuan itu relative, maka ilmu pengetahuan yang lahir dari metode itu juga sama relatifnya. Sama peluang kekeliruannya. Jilalau memang beragam teori, postulat, kaidah ilmiah selama ini diakui dunia ilmu pengetahuan, maka kurang lebih hanya merupakan kebenaran yang dipaksakan dan menjadi kesepakatan kolektif para scientist. Tidak ada landasan paling asasi atas teori-teori mereka, dimana tidak menjadi relative karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme ekonomi mendoktrin bahwa ekonomi ialah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas menggunakan factor-faktor produksi yang terbatas. Dengan masalah utama dalam ekonomi adalah pada problem kelangkaan (scarcity) dan pilihan-pilihan atau kesempatan (choices or opportunity). Atas doktrin ini, manusia dalam perilaku ekonominya boleh-boleh saja berkeinginan dan tidak ada alasan apapun yang membatasinya. Namun, dalam hal ini manusia dihdapkan pada ‘kenyataan’ atas doktrin tersebut, bahwa factor produksi di dunia tersedia terbatas. Dengan artian bahwa hanya segelintir orang lah yang kemudian dapat memperolehnya. Sedang selainnya dengan apa memenuhi kebutuhannya, tidak pernah tau. Doktrin ini secara implicit mensahkan bahwa perilaku ekonomi manusia yang egois, rakus, tamak dan eksploitatif. Sebab persaingan ekonomi antar mereka pun ditujukan untuk memperoleh factor produksi yang dalam hal ini untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Bisa dianalogikan sebagai hokum rimba dengan demikian. Bahwa siapa yang kuat dalam rimba ekonomi, dialah yang berhak atas factor produksi yang terbatas ini. maka, benar saja, siapa yang memiliki modal ekonomi yang besar, ialah yang paling berhak meraih keuntungan dan kekayaan sebesar-besarnya, meski harus eksploitatif bagi sebagian yang lain. Disamping doktrin – doktrin sekelumit tadi, dibawah ini adalah kurang lebih beberapa krisis ekonomi maupun depresi yang terjadi di dunia sepanjang setelah perang dunia I,dimana kapitalisme menjadi system ekonomi dunia saat itu hingga kini yang dianggap paling efektif :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CLEA-NE%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CLEA-NE%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CLEA-NE%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&amp;lt;!--[if gte mso 9]&amp;gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:view&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:zoom&gt;   &lt;w:trackmoves&gt;   &lt;w:trackformatting&gt;   &lt;w:punctuationkerning&gt;   &lt;w:validateagainstschemas&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:saveifxmlinvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:ignoremixedcontent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:alwaysshowplaceholdertext&gt;   &lt;w:donotpromoteqf&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:lidthemeother&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:lidthemeasian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:lidthemecomplexscript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables&gt;    &lt;w:snaptogridincell&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct&gt;    &lt;w:useasianbreakrules&gt;    &lt;w:dontgrowautofit&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx&gt;    &lt;w:word11kerningpairs&gt;    &lt;w:cachedcolbalance&gt;   &lt;/w:cachedcolbalance&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:browserlevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:"Gill Sans MT";  panose-1:2 11 5 2 2 1 4 2 2 3;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:7 0 0 0 3 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-family:"Gill Sans MT","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:Calibri;  mso-bidi-theme-font:minor-latin;} .MsoPapDefault  {mso-style-type:export-only;  margin-bottom:10.0pt;  line-height:115%;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!----&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border-collapse: collapse;" width="601" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 47.6pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="black" style="width: 86.3pt; border-width: 2.25pt 1pt 1pt 2.25pt; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.6pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahun &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="black black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: 2.25pt 1pt 1pt medium; border-style: solid solid solid none; height: 47.6pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kronologi Krisis (Roy &amp;amp; Glyn Davies, 1996) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="black black black -moz-use-text-color" style="width: 58.25pt; border-width: 2.25pt 1pt 1pt medium; border-style: solid solid solid none; height: 47.6pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="black black black -moz-use-text-color" style="width: 154.75pt; border-width: 2.25pt 2.25pt 1pt medium; border-style: solid solid solid none; height: 47.6pt;" valign="top" width="206"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Emas sebagai uang (Francisco LR dan Luis R Batiz,1985) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 86.6pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 86.6pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1860-1921 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 86.6pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Peningkatan   Jumlah Bank di amerika s/d 19 Kali Lipat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 86.6pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1880-1914 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 86.6pt;" valign="top" width="206"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Standar   Emas; Emas sebagai mata uang, terutama yang digunakan oleh negara superpower   ekonomi ketika itu, yakni US dan UK &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 47.6pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 47.6pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1907&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.6pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis   Perbankan Internasional dimulai di New York &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.6pt;" valign="top" width="78"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.6pt;" valign="top" width="206"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 27.1pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 27.1pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1913&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 27.1pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;US Federal Reserve System&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 27.1pt;" valign="top" width="78"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 27.1pt;" valign="top" width="206"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1914-1918&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Perang Dunia I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1915&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="206"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Runtuhnya Rezim Uang Emas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1920&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Depresi Ekonomi di Jepang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 26.95pt;" valign="top" width="78"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 26.95pt;" valign="top" width="206"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 68.1pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 68.1pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1922-1923&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 68.1pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;German   mengalami hyper inflasi. Karena takut mata uang menurun nlainya, gaji dibayar   sampai dua kali dalam sehari   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 68.1pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1924&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 68.1pt;" valign="top" width="206"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;German kembali menggunakan   standard emas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 47.15pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color black black; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.15pt;" valign="top" width="115"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.15pt;" valign="top" width="201"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.15pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1925&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.15pt;" valign="top" width="206"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Inggris kembali menggunakan   standard emas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 47.05pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 47.05pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1927&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis   Keuangan di Jepang (37 Bank tutup); akibat krisis yang terjadi pada bank-bank Taiwan. 1981 –   1901     Jumlah Bank bertambah 20 kali   lipat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="78"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="206"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 47.05pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 47.05pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahun &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kronologi   Krisis (Roy &amp;amp; Glyn Davies, 1996) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="206"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Emas sebagai uang (Francisco   LR dan Luis R Batiz,1985) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 47.05pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 47.05pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1929-1930&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;The   Great Crash (di pasar modal NY) &amp;amp; Great Depression (Kegagalan Perbankan);   di US, hingga net national product-nya terbangkas lebih dari setengahnya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1928 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="206"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Prancis kembali Standar Emas &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 47.05pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 47.05pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1931&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Austria   mengalami krisis perbankan, akibatnya kejatuhan perbankan di German, yang   kemudian mengakibatkan berfluktuasinya mata uang internasional. Hal ini   membuat UK meninggalkan standard emas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1931&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="206"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Amerika dan Perancis   menguasai 75% cadangan emas dunia.Inggris meninggalkan standar emas, begitu   juga dengan Jepang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 47.05pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 47.05pt;" valign="top" width="115"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="201"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1934&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="206"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;USA meninggalkan Standard   Emas &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 47.05pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 47.05pt;" valign="top" width="115"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="201"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1915-1940&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.05pt;" valign="top" width="206"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kekacauan Moneter Dunia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 47.05pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color black black; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.05pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1944-1966&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.05pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Prancis   mengalami hyper inflasi akibat dari kebijakan yang mulai meliberalkan   perekonomiannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.05pt;" valign="top" width="78"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1944 (Jully)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.05pt;" valign="top" width="206"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Beridiri IMF (USA)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Penerapan Fixed Exchange rate   sistem&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kesepakatan Bretton Woods&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;(1 Ons Emas = 35 USD) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 47.05pt;"&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 86.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color black black; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.05pt;" valign="top" width="115"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1944-1946&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 151.1pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.05pt;" valign="top" width="201"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hungaria   mengalami hyper inflasi dan krisis moneter. Ini merupakan krisis terburuk   eropa. Note issues Hungaria meningkat dari 12000 million (11 digits) hingga   27 digits. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 58.25pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.05pt;" valign="top" width="78"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 154.75pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.05pt;" valign="top" width="206"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 47.6pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 47.6pt;" valign="top" width="111"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="4" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 153.5pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.6pt;" valign="top" width="205"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kronologi Krisis (Roy &amp;amp; Glyn Davies, 1996) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.6pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 153.5pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.6pt;" valign="top" width="205"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Emas sebagai uang (Francisco LR dan Luis R Batiz,1985) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 45.9pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 45.9pt;" valign="top" width="111"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1945-1946&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="4" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 153.5pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 45.9pt;" valign="top" width="205"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Jerman   mengalami hyper inflasi akibat perang dunia kedua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 45.9pt;" valign="top" width="76"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 153.5pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 45.9pt;" valign="top" width="205"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 47.6pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.3pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 47.6pt;" valign="top" width="111"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1945-1955&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="4" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 153.5pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 47.6pt;" valign="top" width="205"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis   Perbankan di NigeriaAkibat pertumbuhan bank yang tidak teregulasi dengan baik   pada tahun 1945   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.6pt;" valign="top" width="76"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 153.5pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 47.6pt;" valign="top" width="205"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="9" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 447.3pt; border-width: medium 2.25pt 1pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="596"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;(1950-1972)   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;Periode tidak terjadi krisis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;Lebih kurang akibat Bretton Woods Agreements, yang mengeluarkan regulasi   disektor moneter relatif lebih ketat (Fixed Exchange Rate Regime). Disamping   itu IMF memainkan perannya dalam mengatasi anomali-anomali keuangan di dunia.   Jadi regulasi khususnya di perbankan dan umumnya di sektor keuangan, serta   penerapan rezim nilai tukar yang stabil membuat sektor keuangan dunia (untuk   sementara) “tenang”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1971&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kesepakatan   Breton Woods runtuh (collapsed). Pada hakikatnya perjanjian ini runtuh   akibat sistem dengan mekanisme     bunganya tak dapat dibendung untuk tetap mempertahankan rezim nilai   tukar yang fixed exchange rate.   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1971-1973&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kesepakatan   Smithsonian(1 Ons emas = 38 USD). Dicoba untuk menenangkan kembali sektor   keuangan dengan perjanjian baru. Namun hanya bertahan 2-3 tahun saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahun &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kronologi Krisis (Roy &amp;amp;   Glyn Davies, 1996) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahun &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Emas   sebagai uang (Francisco LR dan Luis R Batiz,1985) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1973&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Amerika   meninggalkan standar emas. Akibat hukum “uang buruk (foreign exchange)   menggantikan uang bagus (dollar yang di-back-up dengan emas)-(Gresham Law)”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1973…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dimulainya   spekulasi sebagai dinamika baru di pasar moneter konvensional akibat   penerapan floating exchange rate system. Periode Spekulasi; di pasar modal,   uang, obligasi dan derivative. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1973-1974&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis Perbankan kedua di   Inggris; akibat Bank of England    meningkatkan kompetisi pada supply of credit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1974&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis Perbankan kedua di   Inggris; akibat Bank of England    meningkatkan kompetisi pada supply of credit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1978-1980&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Deep recession di negara-negara   industri akibat boikot minyak oleh OPEC, yang kemudian membuat melambung   tingginya interest rate negara-negara industri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahun &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kronologi Krisis (Roy &amp;amp;   Glyn Davies, 1996) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Emas   sebagai uang (Francisco LR dan Luis R Batiz,1985) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1980&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis Dunia ketiga;   banyaknya hutang dari negara dunia ketiga disebabkan oleh oil booming pada th   1974, tapi ketika negara maju meningkatkan interest rate untuk menekan   inflasi, hutang negara ketiga meningkat melebihi kemampuan bayarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1980&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis Hutang di Polandia;   akibat terpengaruh dampak negatif dari krisis hutang dunia ketiga. Banyak   bank di eropa barat yang menarik dananya dari bank di eropa timur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1982&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis Hutang di Mexico;   disebabkan outflow kapital yang massive ke US, kemudian di-treatments dengan   hutang dari US, IMF, BIS. Krisis ini juga menarik Argentina, Brazil dan   Venezuela untuk masuk dalam lingkaran krisis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1987&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;The Great Crash (Stock   Exchange), 16 Oct 1987 di pasar modal US &amp;amp; UK. Mengakibatkan otoritas   moneter dunia meningkatkan money supply. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1994&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis di Mexico; kembali   akibat kebijakan finansial yang tidak tepat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahun &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kronologi Krisis (Roy &amp;amp;   Glyn Davies, 1996) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tahun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Emas   sebagai uang (Francisco LR dan Luis R Batiz,1985) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1997&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis Keuangan di Asia   Tenggara; krisis yang dimulai di Thailand, Malaysia kemudian Indonesia,   akibat kebijakan hutang yang tidak transparan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1998&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis Keuangan di Korea;   memiliki sebab yang sama dengan Asteng. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1998&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis Keuangan di Rusia;   jatuhnya nilai Rubel Rusia (akibat spekulasi) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1999&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis Keuangan di   BrazilKrisis Keuangan di Argentina &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" color="-moz-use-text-color black black -moz-use-text-color" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt medium; border-style: none solid solid none; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="2" style="width: 83.65pt; border-width: medium 1pt 1pt 2.25pt; border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color black black; padding: 0.05in 0.1in; height: 26.95pt;" valign="top" width="112"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Akhir 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="width: 144.35pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 26.95pt;" valign="top" width="192"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Krisis keuangan Dunia yang   berawal dari Amerika Serikat atas transaksi derivatif, Subprime Mortgage&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Amerika Serikat memberikan   kebijakan fiskal dengan dana Bailout mencapai US$ 700 milyar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Indonesia   memberikan stimulus fiskal (insentif pajak   dan subsidi dunia usaha) sebesar 71,3 Trilyun &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 57pt; border-width: medium 1pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 26.95pt;" valign="top" width="76"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="3" style="width: 162.3pt; border-width: medium 2.25pt 1pt medium; border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color black black -moz-use-text-color; padding: 0.05in 0.1in; height: 26.95pt;" valign="top" width="216"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 26.95pt;"&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="4"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td colspan="9" color="-moz-use-text-color black black" style="width: 447.3pt; border-width: medium 2.25pt 2.25pt; border-style: none solid solid; height: 26.95pt;" valign="top" width="596"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sumber: Diolah dari Batiz &amp;amp; Roy-Glyn Davies&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border: medium none; padding: 0in;" width="1"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;br /&gt;                                    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis Ekonomi 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis ekonomi yang ‘meletus’ pada pertengahan hingga akhir tahun 2008 lalu mengajarkan pada semua orang bahwa perlu dikaji ulang apakah kapitalisme ekonomi efektif menjadi bagian inti dari tatanan ekonomi dunia yang bertujuan menciptakan pemerataan ekonomi dan mencapai kesejahteraan sosial. Sebab apa yang terjadi setelah kapitalisme lahir dan dijadikan sebagai system ekonomi abad modern hanya memberikan kesejahteraan pada segelintir orang dan merugikan sebagian besar masyarakat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang terjadi pada krisis 2008 ialah bermula dari negara yang mengagungkan kapitalisme itu sendiri, Amerika Serikat. Yakni berawal dari gencarnya penjualan produk kredit perumahan rakyat bagi golongan yang sebenarnya tidak layak mengambil kredit (subprime). Dengan iming-iming bahwa harga rumah akan terus naik meski kelak nantinya tidak sanggup membayar, dan ketika dijual pun tetap akan mendapatkan keuntungan karena nilai riil dari rumah akan tetap lebih tinggi dari kreditnya itu sendiri. Padahal sejak awal rating atas kredit perumahan tersebut dalam tingkatan yang rendah, namun berbunga menjanjikan. Menjadi menarik pada produk tersebut bagi mereka yang membelinya, karena kredit disekuritisasi dan diperjualbelikan kepada investor. Kemudian dikemas dengan asuransi dan di’gawangi’ bank besar sekelas Lehman Brother yang sudah ratusan tahun berdiri sebagai bank investasi. Maka dalam sekejap laris. Dan dalam sekejap pula, yang tadinya para CEO tergolong santai dalam menghadapi hal ini, mulai-mulai merasakan keuntungan dari penjualan tersebut, namun tiba-tiba harga rumah anjlok dan terjun bebas ke harga yang nilai riil tidak diprediksi. Lebih kecil dari tanggungan kredit penjualan rumah tersebut. Nah, ketika para nasabah tidak sanggup membayar, kepanikan terjadi dimana mana. Oleh sebab kerugian yang terjadi ditanggung oleh perusahaan-perusahaan yang mennggawangi produk ini. Sejak produk ini direlease, memang sudahpada rating yang rendah.  Tapi karena dikemas-kemas dan diagunkan berulangkali, produk ini menjadi tampak menarik. Dan setelah itu bank investasi sekaliber Lehman Brother pun gulung tikar. AIG (America Insurance Group) juga terkena imbas dan perusahaan-perusahaan yang memarkirkan dananya di Lehman Broter. Termasuk yang begitu terasa imbasnya adalah nasabah-nasabah bank DBS di Singapura, sebab Singapura yang juga sekutu Amerika juga sebagian besar investasinya diparkirkan di Lehman Brother. Bursa-bursa saham dunia anjlok. Dan untuk beberapa waktu disuspend tradingnya untuk meredam gejolak depresi dan mencegah para spekulan memanfaatkan situasi dalam meraih keuntungan (profit taking). Dalam kurun waktu dua minggu (menurut kantor berita AP) setelah krisis, sudah 500 ribu warga AS yang konsultasi ke psikiater karena stress dan tidak siap menghadapi krisis. Sedang sudah 150 ribu orang kehilangan pekerjaannya. Pemerintah AS pun mengucurkan dana bailout mencapai USD 700 milyar untuk mengambilalih beberapa perusahaan yang dianggap berbahaya bagi perekonomian jika dibiarkan bangkrut dengan prediksi dampak sistemik. Baru setelah terjadi krisis, kapitalisme dianggap mengajarkan kerakusan, egoism, dan eksploitatif. Orang kemudian beramai-ramai mencari alternative ekonomi lain sebagai ekonomi utama mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Josep Stiglitz, seorang peraih nobel ekonomi menyatakan bahwa kurang lebih sudah mencapai 100 kali krisis terjadi setelah kesepakatan Bretton Wood ditinggalkan pada tahun 1970an oleh presiden Amerika, Nixon. Krisis sudah menjadi siklus ekonomi yang pasti terjadi dengan pengulangan waktu yang teratur. Kalau terakir terjadi pada 2008, maka beberapa tahun lagi krisis akan terjadi kembali. Menghancurkan tatanan ekonomi yang sudah dibangun setelah recovery atas krisis sebelumnya. Terus begitu.&lt;br /&gt;                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak Ekonomi Non Produktif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari mencermati apa yang kemudian terjadi pada perekonomian jika didalamnya dibiarkan terlalu larut adanya aktivitas ekonomi non produktif (spekulasi, judi, korupsi dan sebagainya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gambar di atas menunjukkan bahwa adanya aktivitas non produktif dapat memperkecil volume transaksi yang terjadi di sector riil, sebab konsentrasi transaksi dan volume uang terserap pada aktivitas tersebut. Pada jangka panjang dan secara massif, maka akan terjadi dikotomi antara pasar riil yang direpresentasikan pasar barang dan jasa dengan pasar keuangan(monetary sector) seperti pasar modal dan pasar uang. Maka kita ketahui bahwa sampai saat ini, gelembung ekonomi (bubble economic) selalu akan terjadi dan semakin membesar dari waktu ke waktu, hingga pada skala tertentu ia akan meletus dan terjadilah krisis atau resesi ekonomi global. Perhatikan saja volume transaksi yang terjadi di pasar uang (currency speculation dan derivative market) dunia berjumlah US$ 1.5 trillion hanya dalam sehari, sedangkan volume transaksi yang terjadi pada perdagangan dunia di sektor real hanya US$ 6 trillion setiap tahun. Jelas gap besar ini menimbulkan instability ekonomi mengingat yang bermain di pasar keuangan adalah mereka yang memiliki modal dan hanya segelintir orang saja, sedang pasar riil terseok-seok karena tidak menjadi pilihan dalam berinvestasi. Sehingga dengan demikian produktifitas output menurun dan pengangguran terjadi dimana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next post.....!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-7563696720430255558?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/7563696720430255558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/mengapa-harus-ekonomi-syariah-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/7563696720430255558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/7563696720430255558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/mengapa-harus-ekonomi-syariah-1.html' title='Mengapa Harus Ekonomi Syariah ? 1'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-sIa7KrLcCE8/Tn7Qb4bkmFI/AAAAAAAAAbM/RxG2W43camE/s72-c/ada-lima-hal-penting-dalam-pengembangan-ekonomi-syariah-ilustrasi-_110802095419-284.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-6123695418510972615</id><published>2011-09-14T04:21:00.000-07:00</published><updated>2011-09-14T04:27:41.928-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Economic'/><title type='text'>Corporate Social Responsibility ; Social Investment Feature</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ftSMyOiu1zk/TnCPlATfsPI/AAAAAAAAAbE/jp3SdkMAqpE/s1600/070211080632_BE%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 160px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ftSMyOiu1zk/TnCPlATfsPI/AAAAAAAAAbE/jp3SdkMAqpE/s200/070211080632_BE%2B1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652175398249672946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Masih terekam inormasi beberapa tahun lalu, awal 2008, pada pertemuan World Economic Forum (WEF) yang diikuti negara – negara maju maupun berkembang, tercetus satu pernyataan oleh orang terkaya di dunia, William Henry Gates atau lebih dikenal Bill Gates, owner software Microsoft. Begini katanya dalam release Wall Street Journal ; ”Kita harus menemukan sebuah cara agar aspek-aspek kapitalisme yang melayani orang-orang kaya dapat juga "melayani masyarakat miskin.”&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan utama adalah pada substansi ‘menemukan sebuah cara’ dalam ‘melayani masyarakat miskin’ dalam kutipan pernyataan Bill Gates saat itu. Sehingga, pembahasan, pengamatan, apalagi pembenaran kapitalisme itu sendiri, tidak disajikan kali ini. Menjadi unik dibahas pada dua kutipan pernyataan tersebut ialah karena orang terkaya di dunia itu, mungkin juga orang terkaya kedua dan seterusnya, menyatakan statement yang mengisyaratkan urgensi kepedulian terhadap social masyarakat yang memiliki ragam statusnya dan ‘strata sosialnya”. Kalau muaranya adalah ‘melayani masyarakat miskin’, maka bagaimana ‘menemukan sebuah cara’ itu adalah proses pengkajian dan pengamatan efektifitas dari sebuah cara yang disepakati sebagai aliran menuju muara tersebut. Akan banyak cara memang dalam menentukan aliran tersebut. Dalam artian cara menuju muara. Apa yang menjadi penentu dalam efektifitas cara adalah dengan mengidentifikasi dan menyepakati apa definisi dari melayani masyarakat miskin tersebut yang berarti meningkatkan taraf hidup social mereka. Kenyamanannya, kesejahteraannya. Atau dalam definsi lainnya. Namun, era industry ini setidaknya menyisihkan sedikit pentingnya sebagian besar masyarakat menikmati kemajuan industry itu sendiri. Maka, jika itu yang dipertimbangkan Bill Gates, artinya dunia bisnis, perusahaan, korporasi-korporasi, dalam hal ini harus menemukan cara yang dimaksud Bill Gates dalam pernyataannya. Agar bisnis mereka tetap mengalami pertumbuhan dengan pada saat yang sama bisa melayani masyarakat miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peradaban dunia saat ini dengan aktivitas ekonomi didominasi dengan industrialisasi dimana-mana, maka kepedulian terhadap masyarakat miskin dengan begitu kita tersirat istilah Corporate Social Responsibility (tanggungjawab social perusahaan) sebagai salah satu fitur kepedulian social. Mengalokasikan beban CSR dalam struktur biaya perusahaan memvisualisasikan bahwa perusahaan telah menerapkan dan dan menjalankan tanggungjawab sosialnya sebagai “entitas masyarakat” social. Oleh sebab aktivitas bisnis perusahaan sedikit banyaknya memberikan efek pada tata sosial dan tata lingkungan masyarakat setempat. Bagi perusahaan penambangan misalnya, aktivitas penambangan yang sarat dengan eksploitasi lingkungan alam juga memberikan pengaruh pada ekologi suatu daerah. Limbah-limbah, sampah, dan sisa-sisa hasil pengolahan yang merusak lingkungan juga mestinya diakui sebagai expense (beban) dalam upaya normalisasi lingkungan agar tidak berdampak signifikan bagi masyarakat sekitar. Pada pemahaman lainnya selain kesadaran lingkungan tadi, sebenarnya dapat dikaji bahwa penyisihan dana CSR dapat pula meningkatkan potensi profitabilitas perusahaan masa depan. Dengan CSR yang rutin menjadi program perusahaan, maka dalam jangka panjang perusahaan telah meningkatkan citranya di masyarakat. Yang pada dasarnya konsumen potensial perusahaan. Jumlah 4 (empat) milyar penduduk miskin di dunia juga memberi peluang terbukanya pasar yang lebih luas. Oleh sebab kelak pada waktu-waktu mendatang penduduk miskin telah meningkat kesejahteraan ekonominya, maka dengan demikian memiliki daya beli (purchasing power) yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya untuk menjadi konsumen potensial perusahaan. Sehingga meningkatkan profitabilitas perusahaan nantinya. Dengan demikian wajarlah barangkali Bill Gates menyatakan demikian, karena memang dunia bisnis ditujukan untuk meraih keuntungan sebagai pokok aktivitasnya. Dan dengan demikian pula CSR dapat dikatakan sebagai salah satu fitur investasi sosial yang mencoba menjawab dari pencarian ‘cara’ dari proses ‘menemukan sebuah cara’ yang dinyatakan Bill Gates 2008 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-6123695418510972615?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/6123695418510972615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/corporate-social-responsibility-social.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/6123695418510972615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/6123695418510972615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/corporate-social-responsibility-social.html' title='Corporate Social Responsibility ; Social Investment Feature'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ftSMyOiu1zk/TnCPlATfsPI/AAAAAAAAAbE/jp3SdkMAqpE/s72-c/070211080632_BE%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-5157478889914145257</id><published>2011-09-13T21:21:00.000-07:00</published><updated>2011-09-13T21:29:59.428-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Beyond Politics'/><title type='text'>Replikasi Komunitas Madinah Pada Zaman Rasulullah saw di Indonesia ; Efektifkah?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-HJBfIncIaDs/TnAtoxkhrYI/AAAAAAAAAa0/EZ6WB3sYbGY/s1600/madina.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-HJBfIncIaDs/TnAtoxkhrYI/AAAAAAAAAa0/EZ6WB3sYbGY/s200/madina.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652067710874529154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Berangkat dari kegelisahan semua orang. Tentang lingkungan atau komunitas kolektif bangsa ini yang kian hari kian memunculkan nanar luka di hati warga bangsa. Entah apa yang jadi hulu dari ruwetnya problem bangsa ini. Seperti benang kusut, yang tidak tau harus diurai darimana. Tidak hanya menyajikan lakon-lakon “kebiadaban kaum elit”, politik maupun borjuis, yang bisa-bisanya menari di atas rintihan rakyat. Berpentas, bersandiwara, di panggung tempat rakyat secara massif menyepakatinya sebagai panggung kekuasaan untuk “menyambung” lidah rakyat agar keadilan dan kesejahteraan berkenan datang bertamu ke rumah-rumah mereka. Meski sejenak saja.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini tidak ada formulasi yang cukup definitif tentang apa yang disebut sebagai pola bernegara yang dianggap efektif. Apa yang disebut sebagai tata sosial sebuah bangsa yang mengejawantahkan dan memberi ruang bagi terwujudnya cita-cita sosial warga negaranya, sejahtera. Jikalau mau lebih mendalam mengkaji sebenarnya apa yang dimaksud dengan sejahtera, definisinya, ciri-cirinya, karakteristiknya dan nuansa dalam sisi manusiawinya, maka formulasi interaksi politik sosial ekonomi juga akan dengan lebih mudah diformulasikan. Sebab, semua akibat di dunia ini dengan mudah sebenarnya kita menemukan sebab-musababnya. Di dunia ini banyak peristiwa yang terjadi cukup jelas hukum sebab akibatnya. Dan seandainya bangsa ini punya definisi yang pasti dan jelas mengenai kesejahteraan itu sendiri, maka persoalan format tata sosial juga akan lebih mudah didefinisikan. Pilihannya ada beberapa. Diantaranya adalah melakukan proses benchmarking terhadap komunitas bangsa lain. Pun dalam hal ini karena proses benchmarking sangat membutuhkan visualisasi  yang harus jelas, maka kita bisa menemukan visualisasi yang cukup menggambarkan mapping keberhasilan sebuah bangsa masa lampau dalam menyajikan sejarah kesejahteraan mereka. Yang dengan itulah kita bisa meramu, memformulasi, dan menetapkannya sebagai definisi kesejahteraan bagi bangsa kita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan satu komunitas (lebih tepatnya negara) yang telah membuktikan kemampuannya dalam memberikan kesejahteraan sosial politik ekonomi dan juga agama dengan pada saat yang sama telah menyedot sorotan perhatian sejarah dunia, berarti dalam hal ini ada kecenderungan kolektif umat manusia untuk kembali menyadari hakikat hidupnya. Sorotan tajam dunia terhadap komunitas Madinah pada masa kepemimpian Rasulullah saw sudah cukup menggambarkan bahwa komunitas Madinah telah membangun peradaban manusia yang lebih beradab. Lebih memanusiakan manusia, dan mengintegrasikan antara kenyataan dunia dengan kemanunggalan agama berketuhanan dalam hakikat hidup mereka. Selain memang dalam hal ini sorotan sejarah tertuju pada tokoh dibalik pembawa risalah tersebut, Muhammad bin Abdullah, Rasullullah saw. Dan Michael Hart memberi kehormatan dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh, dengan Muhammad saw sebagai tokoh nomor wahid di dunia yang paling berpengaruh sepanjang sejarah dan masa-masa mendatang oleh sebab warisan nilainya yang fundamental dan bernilai luhur bagi peradaban manusia. Maka ada istilah “madani” yang disematkan pada beberapa istilah sebagai pendukung. Misalnya, masyarakat madani, insan madani, dan sebagainya. Yang menandakan satu cita-cita sosial dalam tatanan masyarakat bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika negeri ini menyepakati secara kolektif, pemerintahnya, kaum elitnya, masyarakatnya, tentang definisi kesejahteraan sebagaimana dahulu komunitas Madinah pada zaman Rasulullah saw menyepakati mengenai kesejahteraan, maka dengan demikian akan mempermudah dalam menentukan upaya-upaya apa saja yang dilakukan dalam mencapai kesejahteraan yang dimaksud. Tentu, hanya perlu mereplikasi tindakan-tindakan sosial kemasyarakatan komunitas Madinah dahulu yang bisa ditemukan dalam literatur-literatur sejarah maupun biografi tokoh-tokoh yang menjadi lakon dalam masyarakatnya. Kaidah dalam hal ini sebenarnya sederhana, seperti apa wajah peradaban yang diinginkan, maka ikutilah segala hal yang menjadi bahan dasar atau materi pembangun (arsitektur) peradaban tersebut. Jika seandainya, negeri ini sekali lagi benar-benar menyepakati konsep dasar apa yang disebut madani sebagaimana madani dalam kebenaran sejarah komunitas Madinah era Rasullah saw, maka harus ada sistem politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama yang menjadi landasan utama dalam mengatur tata negara bangsa selayak madinah dahulu. Diperankan oleh orang-orang yang memang tidak jauh berbeda kapasitasnya. Digagas sebuah sistem berdasarkan landasan-landasannya. Dan dikonstruksi dalam format negara berdasarkan format negaranya. Dalam hal ini, memang pekerjaan rumahnya yang besar adalah hanya pada mengarahkan afiliasi pemikiran bangsa ini terhadap sistem dasar komunitas Madinah dan menumbuhkan komitmen kolektif sosial dalam menyepakati formulasi konsep cita-cita ke-madani-an suatu masyarakat. Karena yang menjadi konsep dasar komunitas Madinah zaman Rasulullah saw adalah seluruhnya dilandasi pada ajaran agama Islam melalui wahyu Al Qur,an dan As Sunnah, maka sejatinya dapat direplikasi pada semua jenis masyarakat, suku, bangsa. Oleh sebab, Islam itu sendiri diturunkan untuk umat manusia dan berlaku universal, sebagai rahmat bagi seluruh alam. Jadi dalam hal ini, dalam menentukan apakah efektif mereplikasi tatanan masyarakat Madinah zaman Rasulullah saw di Indonesia, tidak perlu repot-repot mengkaji persamaan-persamaan beragam bidang kehidupannya, sehingga dengan demikian baru lebih yakin akan lebih efektif. Lagipula, bangsa ini pun sudah punya modal besar dengan jumlah komunitas muslim terbesar di dunia yang dengannya sebenarnya bisa mengambil momentum dalam sejarah untuk bisa mewujudkan peradaban islam sebagaimana ia pernah mewujud pada era Rasulullah saw, Khulafaurrasyidin, dan era peradaban islam pada abad – abad ke 10 tahun masehi. Kita dengan demikian hanya perlu melipatgandakan keyakinan bersama bahwa kepemimpinan peradaban dunia dalam fasenya akan dipergilirkan kepada bangsa-bangsa mana saja, sedang Indonesia dengan demikian pula hanya perlu mengambil momentum kepemimpinan peradaban dunia ini dengan kepemimpinan Islam. Karena hanya dengan itulah Indonesia bisa menyelesaikan persoalan-persoalan bangsanya dan merubah kekerdilan kelemahan dalam raga jiwa menjadi kemuliaan kehormatan dalam jiwa raga. Sebagaimana karakteristik peradaban islam (Prof. DR. Raghib As Sirjani ) yang memiliki Universalitas, Bertauhid, Seimbang dan Moderat, dan mendapat Sentuhan Akhlak. Amin ya Rabb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4524009408450574071-5157478889914145257?l=erwinnomic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erwinnomic.blogspot.com/feeds/5157478889914145257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/replikasi-komunitas-madinah-pada-zaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/5157478889914145257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4524009408450574071/posts/default/5157478889914145257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erwinnomic.blogspot.com/2011/09/replikasi-komunitas-madinah-pada-zaman.html' title='Replikasi Komunitas Madinah Pada Zaman Rasulullah saw di Indonesia ; Efektifkah?'/><author><name>ERWINNOMIC</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02329943110104437375</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ZR7agVk4nz4/TA5GNoKSc_I/AAAAAAAAAB8/2zxvhR79F2g/S220/erwin2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-HJBfIncIaDs/TnAtoxkhrYI/AAAAAAAAAa0/EZ6WB3sYbGY/s72-c/madina.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4524009408450574071.post-6248848847866200939</id><published>2011-09-08T21:25:00.000-07:00</published><updated>2011-09-11T20:27:30.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah'/><title type='text'>Saat Beramal Jama’I ; Menjadi Sebaik-Baik Prajurit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-0N4tc8CLvmo/TmmWjeaUzpI/AAAAAAAAAas/ionbLRAhnak/s1600/cavalries.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-0N4tc8CLvmo/TmmWjeaUzpI/AAAAAAAAAas/ionbLRAhnak/s200/cavalries.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650212743716064914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:"Gill Sans MT";  panose-1:2 11 5 2 2 1 4 2 2 3;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:7 0 0 0 3 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:.5in;  text-align:justify;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-link:"Footnote Text Char";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:.5in;  text-align:justify;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference  {mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  vertical-align:super;} span.FootnoteTextChar  {mso-style-name:"Footnote Text Char";  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-unhide:no;  mso-style-locked:yes;  mso-style-link:"Footnote Text";} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-hansi-font-family:Calibri;}  /* Page Definitions */  @page  {mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/LEA-NE~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs;  mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/LEA-NE~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs;  mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/LEA-NE~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es;  mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/LEA-NE~1/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt;   &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/div&gt;&lt;xml align="justify"&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;m:mathpr&gt;&lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;&lt;m:brkbin val="before"&gt;&lt;m:brkbinsub val=""&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;Ada satu kaidah dalam Ushul Fiqh “ Sesuatu yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengannya, maka ia adalah wajib”. Kaidah ini mengajarkan dan memberikan acuan atau patokan bagi pelaksanaan ibadah-ibadah yang dimana fiqh menjadi cara dalam mengatur ibadah tersebut. Menjadi dasar pembenaran atas amal syariat yang kita kerjakan agar ia tetap berada pada jalur yang benar sesuai syariat dan terhindar dari inhiraf (penyimpangan). Seperti dalam syarat sah shalat. Kita menjadi wajib berwudlu sebelum melaksanakan shalat yang dengan demikian menentukan sah shalat secara fiqh. Tidak ada hukum dasar wajibnya berwudlu melainkan karena ia menjadi syarat dari kesempurnaan wajibnya shalat. Maka, wudlu menjadi wajib karenanya. Tapi di luar shalat, tidak ada hukum wajibnya. &lt;/p&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;div style="text-align: justify;" align="justify"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0in;"&gt;&lt;p&gt;Ada  satu kaidah dalam  Ushul Fiqh “ Sesuatu yang tidak sempurna  pelaksanaannya kecuali  dengannya, maka ia adalah wajib”. Kaidah ini  mengajarkan dan memberikan  acuan atau patokan bagi pelaksanaan  ibadah-ibadah yang dimana fiqh  menjadi cara dalam mengatur ibadah  tersebut. Menjadi dasar pembenaran  atas amal syariat yang kita kerjakan  agar ia tetap berada pada jalur  yang benar sesuai syariat dan terhindar  dari inhiraf (penyimpangan).  Seperti dalam syarat sah shalat. Kita  menjadi wajib berwudlu sebelum  melaksanakan shalat yang dengan demikian  menentukan sah shalat secara  fiqh. Tidak ada hukum dasar wajibnya  berwudlu melainkan karena ia  menjadi syarat dari kesempurnaan wajibnya  shalat. Maka, wudlu menjadi  wajib karenanya. Tapi di luar shalat, tidak  ada hukum wajibnya. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kita.   Umat islam. Harus ada segolongan yang kemudian memperjuangkan dien   Islam agar tegak di muka bumi dengan wujud Daulah Islamiyah dan bermuara   pada khilafah Islamiyah. Setiap muslim wajib berusaha mewujudkan dan   menegakkan kembali Daulah Islamiyah ‘Alamiyyah, suatu negara islam yang   bersifat internasional. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4524009408450574071#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;[1]&lt;/a&gt;  Dimana urgensi pembentukan daulah  islamiyah itu terletak pada  kemampuannya memastikan bahwa terdapat  ruang yang kondusif bagi umat  islam untuk beribadah lebih aman dan  tenteram yang pada saat yang sama  mengejawantahkan hukum-hukum Allah di  dunia ini dengan sarana yang  diberikan oleh sebuah otoritas negara.  Karena islam yang diturunkan di  muka bumi sebagai rahmat bagi seluruh  alam (Rahmatan lil ‘alamin) , maka  diperlukan otoritas besar berskala  multinasional yang mampu melahirkan  kebijakan-kebijakan internasional  berlandaskan hukum islam. Tidak bagi  yang lainnya. Sehingga kita  menyadari bahwa daulah islamiyah hanya ada  dua definisi yang sederhana,  ia hanya sebagai sarana bagi hukum allah  tegak di muka bumi dan di  sisi lain ia bukanlah sebagai muara akhir dari  cita-cita dakwah semua  pergerakan islam (Harakah islamiyah). Dan  sepatutnya kita semakin sadar  dan memahami urgensi bernegara dengan pada  saat yang sama kita tidak  terlalu cepat mencapai “klimaks kepuasan”  dakwah hanya karena  seandainya benar-benar berdiri negara yang  menjadikan islam sebagai  dasar-dasar hukumnya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;" align="justify"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0in;"&gt;&lt;p&gt;Maka,  misi besar dakwah  islam perlu diwujudkan dengan pengorganisasian dakwah  yang benar dan  kokoh. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang  berperang di  jalanNya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan  seperti suatu  bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash Shaf ; 4) . Disamping  logika dunia  ini mengajarkan bahwa tidak ada misi besar yang terwujud  hanya  mengisinya dengan banyak tidur dan penuh kesia-siaan. Kaidahnya,  dan  sejarah mengilhami kita, bahwa cita-cita besar harus di bawa oleh  oleh  orang-orang yang minimal sama besar kapasitasnya dengan cita-cita  dan  misinya. Dan pada urgensi lainnya, antar pelaku-pelaku dakwah itulah   mereka juga wajib mengorganisasi komunalnya. Karena misi besar tidak   mungkin diwujudkan sendiri-sendiri. Apalagi dengan pertentangan dan   perdebatan berkepanjangan.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0in;"&gt;&lt;p&gt;Kita  yang hari ini  menjadi bagian dari mata rantai dakwah yang tersebar  lebih di 70  negara, juga punya peranan yang signifikan meskipun kita  menganggap  bahwa kita hanya sekelumit terkecil dari besarnya skala  dakwah.  Signifikan karena kuatnya kita ternyata juga menguatkan mata  rantai  lainnya yang kemudian dan seterusnya memperkuat dakwah secara  massif.  Begitupun sebaliknya. Maka, ada pemahaman yang laiknya perlu  kita  perhatikan dan menjadi agenda utama dari dakwah itu sendiri. Yakni   memperbesar kapasitas diri kita dengan misi lainnya ialah juga membina   angkatan keprajuritan, dengan kata lain pembinaan kader.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0in;"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Komunitas  besar ini, yang lebih tepatnya kita istilahkan sebagai  sebuah jamaah  dakwah, dibangun atas bahan dasar manusia itu sendiri  sebagai ‘materi’  paling nyata dan aktif menentukan keberhasilan  misi-misi dakwah,  menahan dan melawan tribulasi-tribulasi terhadapnya,  dan menjaga  keutuhannya untuk waktu yang hanya Allah tentukan. Karena  jamaah ini  adalah jamaah yang juga diorganisir, disitu ada pemimpin dan  juga ada  prajuritnya. Dan para prajurit, pasti selalu lebih banyak dari  jumlah  pemimpinnya. Karena tidak ada organisasi di dunia ini anggota  atau  prajurit lebih sedikit dari jumlah pemimpinnya. Karena jumlah yang   banyak itulah, efektifitas dan kematangan prajurit adalah vital bagi   keberhasilan dakwah. Dan juga karena itulah, ia menjadi prioritas utama   dalam dakwah. Sebagaimana DR Yusuf al Qardlawi menyatakan dalam FIqh   Aulawiyat (Fiqh Prioritas), bahwa bahkan pembinaan lebih prioritas   dibandingkan peperangan. &lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4524009408450574071#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;[2]&lt;/a&gt;  Dengan demikian, kita yang juga  sebagai kader dakwah, tidak ada  prioritas yang lebih utama selain  mengisi tiap waktunya dengan  memperbanyak pengetahuan, mendalaminya  agar menjadi pemahaman, membina  diri dan orang lain, dan memperkaya  diri dengan ragam keahlian, tanpa  mengesampingkan tugas-tugas atau  kewajiban lainnya pada saat yang sama.  Sehingga kita setidaknya punya  agenda bersama yang mesti lebih  diutamakan dibandingkan berkutat dengan  kerumitan-kerumitan  program-program apa yang harus dijalankan bagi  sebuah jamaah dakwah.  Hingga kita para kader dakwah, jundi-jundi  dakwah, atau pasukan dakwah  begitu siap dijadikan sebagai martir bagi  pelontar yang ditembakkan  untuk melawan kezaliman musuh di muka bumi  dan sebagai isyarat ancaman  bagi mereka yang hatinya membatu dengan  mencoba mengancam ketenteraman  dunia dengan huru hara yang  dipropagandakannya. Dan bagi kita para  pemuda islam, jadilah prajurit  setelah menjadi panglima perang selayak  Khalid bin Walid, yang terasah  keahlian berperangnya dalam  mempertahankan keutuhan islam. Jadilah  selayak Usamah bin zaid, yang  menjadi panglima perang meski masih cukup  muda usianya. Atau jadilah  selayak Muhammad al Fatih, yang dinyatakan  Rasulullah saw 800 tahun  sebelumnya sebagai sebaik-baik pemimpin  pasukan perang, karena  konstantinopel yang dibebaskannya. Sehingga,  kapasitas kita dengan  demikian, diharapkan equivalent dengan seribu  pasukan. Yang  menggentarkan musuh meski dari kejauhan. Dan jika ada  pemimpin umat ini  saat ini diminta mengirimkan seribu pasukan untuk  menghadang dan melawan  musuh yang mengancam keutuhan islam, maka ia  hanya cukup mengirimkan  kita seorang saja sebagai kiriman prajurit  terbaik dari pemimpin kita.  Agar kita termasuk diantara salah satu dari  empat prajurit yang dikirim  Umar bin Khattab sebagaimana dahulu ia  diminta mengirimkan empat ribu  pasukan kepada panglima perang  Qadisiyah. Tapi Umar hanya mengirimkan  empat orang prajurit terbaiknya  dengan hanya berkata enteng; ” Kupenuhi  permintaan empat ribu mujahid  yang kalian minta dengan mengirimkan  kepada kalian empat prajurit,  setiap orangnya menyamai kapasitas seribu  pasukan.” . Agar kita, saat  beramal jama’I, menjadi sebaik-baik  prajurit.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;hr size="1" width="33%"&gt;&lt;div id="ftn1"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4524009408450574071#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;[1]&lt;/a&gt; Syaikh Mushthafa Masyhur, Fiqh Dakwah&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4524009408450574071#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;[2]&lt;/a&gt; Lihat Fiqh Prioritas, DR Yusuf al  Qardlawi&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" align="justify"&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;m:mathpr&gt;&lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;&lt;m:brkbin val="before"&gt;&lt;m:brkbinsub val=""&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;Kita. Umat islam. Harus ada segolongan yang kemudian memperjuangkan dien Islam agar tegak di muka bumi dengan wujud Daulah Islamiyah dan bermuara pada khilafah Islamiyah. Setiap muslim wajib berusaha mewujudkan dan menegakkan kembali Daulah Islamiyah ‘Alamiyyah, suatu negara islam yang bersifat internasional. &lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4524009408450574071#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;[1]&lt;/a&gt; Dimana urgensi pembentukan daulah islamiyah itu terletak pada kemampuannya memastikan bahwa terdapat ruang yang kondusif bagi umat islam untuk beribadah lebih aman dan tenteram yang pada saat yang sama mengejawantahkan hukum-hukum Allah di dunia ini dengan sarana yang diberikan oleh sebuah otoritas negara. Karena islam yang diturunkan di muka bumi sebagai rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘alamin) , maka diperlukan otoritas besar berskala multinasional yang mampu melahirkan kebijakan-kebijakan internasional berlandaskan hukum islam. Tidak bagi yang lainnya. Sehingga kita menyadari bahwa daulah islamiyah hanya ada dua definisi yang sederhana, ia hanya sebagai sarana bagi hukum allah tegak di muka bumi dan di sisi lain ia bukanlah sebagai muara akhir dari cita-cita dakwah semua pergerakan islam (Harakah islamiyah). Dan sepatutnya kita semakin sadar dan memahami urgensi bernegara dengan pada saat yang sama kita tidak terlalu cepat mencapai “klimaks kepuasan” dakwah hanya karena seandainya benar-benar berdiri negara yang menjadikan islam sebagai dasar-dasar hukumnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;Maka, misi besar dakwah islam perlu diwujudkan dengan pengorganisasian dakwah yang benar dan kokoh. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash Shaf ; 4) . Disamping logika dunia ini mengajarkan bahwa tidak ada misi besar yang terwujud hanya mengisinya dengan banyak tidur dan penuh kesia-siaan. Kaidahnya, dan sejarah mengilhami kita, bahwa cita-cita besar harus di bawa oleh oleh orang-orang yang minimal sama besar kapasitasnya dengan cita-cita dan misinya. Dan pada urgensi lainnya, antar pelaku-pelaku dakwah itulah mereka juga wajib mengorganisasi komunalnya. Karena misi besar tidak mungkin diwujudkan sendiri-sendiri. Apalagi dengan pertentangan dan perdebatan berkepanjangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;Kita yang hari ini menjadi bagian dari mata rantai dakwah yang tersebar lebih di 70 negara, juga punya peranan yang signifikan meskipun kita menganggap bahwa kita hanya sekelumit terkecil dari besarnya skala dakwah. Signifikan karena kuatnya kita ternyata juga menguatkan mata rantai lainnya yang kemudian dan seterusnya memperkuat dakwah secara massif. Begitupun sebaliknya. Maka, ada pemahaman yang laiknya perlu kita perhatikan dan menjadi agenda utama dari dakwah itu sendiri. Yakni memperbesar kapasitas diri kita dengan misi lainnya ialah juga membina angkatan keprajuritan, dengan kata lain pembinaan kader. &lt;/p&gt;  Komunitas besar ini, yang lebih tepatnya kita istilahkan sebagai sebuah jamaah dakwah, dibangun atas bahan dasar manusia itu sendiri sebagai ‘materi’ paling nyata dan aktif menentukan keberhasilan misi-misi dakwah, menahan dan melawan tribulasi-tribulasi terhadapnya, dan menjaga keutuhannya untuk waktu yang hanya Allah tentukan. Karena jamaah ini adalah jamaah yang juga diorganisir, disitu ada pemimpin dan juga ada prajuritnya. Dan para prajurit, pasti selalu lebih banyak dari jumlah pemimpinnya. Karena tidak ada organisasi di dunia ini anggota atau prajurit lebih sedikit dari jumlah pemimpinnya. Karena jumlah yang banyak itulah, efektifitas dan kematangan prajurit adalah vital bagi keberhasilan dakwah. Dan juga karena itulah, ia menjadi prioritas utama dalam dakwah. Sebagaimana DR Yusuf al Qardlawi menyatakan dalam FIqh Aulawiyat (Fiqh Prioritas), bahwa bahkan pembinaan lebih prioritas dibandingkan peperangan. &lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4524009408450574071#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;[2]&lt;/a&gt; Dengan demikian, kita yang juga sebagai kader dakwah, tidak ada prioritas yang lebih utama selain mengisi tiap waktunya dengan memperbanyak pengetahuan, mendalaminya agar menjadi pemahaman, membina diri dan orang lain, dan memperkaya diri dengan ragam keahlian, tanpa mengesampingkan tugas-tugas atau kewajiban lainnya pada saat yang sama. Sehingga kita setidaknya punya agenda bersama yang mesti lebih diutamakan dibandingkan berkutat dengan kerumitan-kerumitan program-program apa yang harus dijalankan bagi sebuah jamaah dakwah. Hingga kita para kader dakwah, jundi-jundi dakwah, atau pasukan dakwah begitu siap dijadikan sebagai martir bagi pelontar yang ditembakkan untuk melawan kezaliman musuh di muka bumi dan sebagai isyarat ancaman bagi mereka yang hatinya membatu dengan mencoba mengancam ketenteraman dunia dengan huru hara yang dipropagandakannya. Dan bagi kita para pemuda islam, jadilah prajurit setelah menjadi panglima perang selayak Khalid bin Walid, yang terasah keahlian berperangnya dalam mempertahankan keutuhan islam. Jadilah selayak Usamah bin zaid, yang menjadi panglima perang meski masih cukup muda usianya. Atau jadilah selayak Muhammad al Fatih, yang dinyatakan Rasulullah saw 800 tahun sebelumnya sebagai sebaik-baik pemimpin pasukan perang, karena konstantinopel yang dibebaskannya. Sehingga, kapasitas kita dengan demikian, diharapkan equivalent dengan seribu pasukan. Yang menggentarkan musuh meski dari kejauhan. Dan jika ada pemimpin umat ini saat ini diminta mengirimkan seribu pasukan untuk menghadang dan melawan musuh yang mengancam keutuhan islam, maka ia hanya cukup mengirimkan kita seorang saja sebagai kiriman prajurit terbaik dari pemimpin kita. Agar kita termasuk diantara salah satu dari empat prajurit yang dikirim Umar bin Khattab sebagaimana dahulu ia diminta mengirimkan empat ribu pasukan kepada panglima perang Qadisiyah. Tapi Umar hanya mengirimkan empat orang prajurit terbaiknya dengan hanya berkata enteng; ” Kupenuhi permintaan empat ribu mujahid yang kalian minta dengan mengirimkan kepada kalian empat prajurit, setiap orangnya menyamai kapasitas seribu pasukan.” . Agar kita, saat beramal jama’I, menjadi sebaik-baik prajurit.  &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;br /&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;m:mathpr&gt;&lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;&lt;m:brkbin val="before"&gt;&lt;m:brkbinsub val=""&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;&lt;div style=""&gt;&lt;hr width="33%" size="1"&gt;    &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4524009408450574071#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;[1]&lt;/a&gt; Syaikh Mushthafa Masyhur, Fiqh Dakwah&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4524009408450574071#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;[2]&lt;/a&gt; Lihat Fiqh Prioritas, DR Yusuf al Qardlawi&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/div&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;m:mathpr&gt;&lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;&lt;m:brkbin val="before"&gt;&lt;m:brkbinsub val=""&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;&lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Lis
